Mari bersajak

LDR, bumbu paling pedas diantara masakan sepasang anak muda.

Panasnya merasuk sampai tulang, keringat bercucuran dibuatnya.

Rindu yang seharusnya menjadi nasi hangat pendampingnya, dengan lancang menjadi nasi basi yang bimbang terlempar di plastik sampah.

#

Advertisement

Kadang hanya tersenyum ringan menggelengkan kepala, ketika melihat kalian yang meresah karena pedihnya LDR, bergundah karena ketakutan akan sesuatu yang sesungguhnya sama sekali tak menyeramkan.

Sembari mengingat yang sudah sudah, aku telah jatuh bangun diatas ring, tertarih-tatih, hampir hancur melawan seribu satu jurus brengsek LDR.

“Jangan Khawatir”, kata seorang pelatih yang sepertinya belum cukup tidur malam kemarin, tapi begini sudah, LDR tumbuh menjadi penempa kedewasaan berkomitmen anak muda. Bahwa jauh diatas rasa cintamu, ada kepercayaan yang harus dijaga bersama.

Berjibaku, dengan jeda istirahat yang sangat terbatas, tanpa jumlah ronde yang jelas. Ingin rasanya menepuk punggung LDR, berteriak ampun padanya, tapi harapan dan asa telah terlanjur tertuang oleh penyemangat yang menjelma sarung tangan penghantam kerinduan.

Hingga di sabtu subuh yang dingin, lonceng penutup ronde terakhir yang diwakili dering telepon berbunyi. Menegaskan bahwa pertarungan telah usai, aku bangun dari mimpi fana, darah mengalir dari setiap pori tubuh, tak begitu deras, tak juga sampai berbau anyir, namun cukup untuk mengatakan bahwa aku telah kalah.

Jika LDR adalah seorang petarung, aku ingin katakan padanya..

Maaf, aku tak bisa mengalahkanmu, dan terimakasih, aku tak bisa mengalahkanmu.