Aku berbicara tentang cinta yang menanti kedatanganmu disini. Sementara kau masih terlalu sibuk berputar-putar dalam angan yang tak pasti. Sebuah kedatangan seperti rembulan yang tiba-tiba menjelma Di hadapan kita. Lalu ia tersenyum dan kita membalasnya. Aku pikir, mungkin menanti tidak akan seperih ini jikalau rindu tak berkunjung setiap Hari. Kita terlalu sering mendiami ruang kosong itu. Ruang penuh rindu Dan penuh dengan infrastruktur rindu.

Ah, pilunya sungguh terlalu. Bahkan terlalu seringnya, sudah berapa Kali kita mengganti perabotan dalam ruangan itu. Dan kau Dan aku pun Sama-sama tahu, bahwa kita tak pernah kedatangan tamu. Separuh yang entah, separuh yang tak tahu kapan pulang ke rumah. Hatiku Kau seharusnya tahu, bahwa merindui dan dirindui adalah hak bersama. Lalu, kenapa kau enggan berucap rindu walau hanya sekali saja? Bukan berarti aku tak memiliki kecemasan, kau tahu menanti Dalam Harapan ialah sebuah ujian ketabahan. Walau terkadang kita merasa tuhan ternyata punya Cerita sendiri yang walau kadang tak gurih, tapi mengental dalam benak selamanya.

Tuhan, andai jarak itu engkau izinkan sedikit dekat, kumohon untuk sejenak, izinkan tangan ini tergenggam erat. Hai kamu yang berada dikota sana, kamu tak perlu menitipkan setiaku pada langit biru. Sebab ketika hati berujar cinta, ia memilihmu sebagai pemilik sejati.

Bagi pejuang LDR, rindu dan jarak adalah musuh paling nyata. Menghujam ulu hati terdalam, lantas pergi dengan senyum kemenangan meninggalkan hati yang berantakan. Tapi teman, yakinkan dalam hatimu jikalau tuhan sempat singgah di keningmu, jangan biarkan ia cepat berlalu. Berharaplah, sebab hidup tanpa harapan adalah percuma.