Gunung Papandayan adalah gunung ketiga yang aku daki, sebelumnya aku sudah mendaki gunung Munara dan Lembu. aku melakukan perjalanan pada tanggal 8-10 Januari 2016, gunung Papandayan dengan ketinggian 2665 mdpl terletak Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Baru pertama kali aku mendaki gunung dengan komunitas backpacker .Ada beberapa yang aku kenal karena kita pernah bertemu waktu kopdar (kopi darat), dan ini adalah kisah yang tidak terlupakan untukku.

Kami berkumpul menuju Garut dengan menggunakan Bus Antar Kota di Terminal Kampung Rambutan, kami janjian dan berangkat pada pukul 21.00. Naik BusAntar Kota merupakan pengalaman pertama buatku karena aku keluar kota dengan mencharter (menyewa) bus. Bus yang kita tumpangi sedang mencari penumpang dan berhenti di suatu tempatdengan lama sekali.

Pukul 04.00 wib tibalah di Terminal Guntur, aku dan teman-temanku sedang menunggu teman di pinggiran Toko Swalayan seperti Gelandangan dan aku ikut berpoto-poto ria di sana. Owh ya aku lupa memperkenalkan teman-temanyaitu Twins alias Eka dia adalah Koordinator, Pritha, Bayu, Anita, Ainur, Veby, Denny, Rizky, Wawan, Inu, Samsul, Said, Imeh, Septi, Fina, Kandar, Yunny, Ghanda dan Denny. Setelah mendapatkan angkutan umum menujupertigaan Cisurupan, aku dan teman-temanku salat subuh. Sehabis salat subuh, kami dikejutkan dengan hilangnya sepatu temanku bernama Wawan yang hilang dan anehnya bukan teman aku saja tapi ada pendaki yang lain yang hilang ironisnya, kejadian tersebut sudah sering terjadi. Kami bertanya kepada Ibu-ibu penjual kopi dan dia hanya menjawab “tidak tahu” entahlah aku tak mengerti dan kata warga di sana memang banyak yang kehilangan sepatu.

Sehabis salat Subuh, aku dan teman-teman aku naik di angkutan umum dan menuju pertigaan Cisurupan. Di pertigaan Cisurupan kita naik mobil Pick Up dan untung mobil Pick Upnya kuat dengan membawa 20 orang plus Carier. Akhirnya kita semua berdiri dengan jalanan naik turun belokan kanan dan kiri khas pegunungan yang begitu tajam seperti naik Roller Coaster. Sebelum melakukan pendakian aku dan teman-temanaku berpoto-poto lalu berdoa memang kami itu banci kamera, setiap ada pemandangan indah kami berpoto.

Di pos pertama ada warung dan toilet jadi kami tidak khawatir dan air khas pegunungan dingin banget seperti air es yang ada di lemari es. Selangkah demi selangkah kami laluidan kami selalu bersenda gurau di sana, jangankan dengan satu rombongan dengan sesame pendakipun kami melontarkan kalimat lelocon dan semangat. Aku kagum dengan salah satu temanaku ini, dia itu phobia akan ketinggian tetapi dia mau naik Gunung teman aku bernama Kandar dan kami terus menyemangati untuk tidak menyerah. Tibalah kami di Pos 2 di sana kami menunggu teman yang ada dibelakang sambil menunggu di sana ada warung dan toilet, kami makan perbekalan dan jajan di sana.

Advertisement

Setelah istirahat dan makan kami menuju Pondok Selada, kami mendirikan tenda dan memasak. Walaupun mendirikan tenda di dekat pepohonan tetap saja aku dan teman-temanku kedinginan.Akhirnya kami membeli kayu bakar dan menyalakan api unggun. Tiba-tiba salah satu temanaku bernama Samsul membawa selada air ada pacetnya (lintah) yang masih menempel, aku mencoba mematikan pacet itu dengan air garam. Di Papandayan rasanya siang begitu cepat, mungkin karena kabut yang sangat tebal di sana. Aku Salat Maghrib dan Isya di Surau dan memang gelap sekali, aku beserta tiga temanku Wawan, Ainur dan Veby merasa agak kesulitan untuk melihat ke jalan. Mungkin karena dingin dan gelap aku menganggap Ilalang itu adalah daun Sereh, aku ingin meminta kepada Ranger di sana.

Setelah Salat, teman aku bernama Veby jalan terlebih dahulu. Aku agak tersasar untuk menemukan tenda, setelah itu, aku menghangatkan diri di dekat api unggun. Beberapa dari teman-teman berpoto dan sebagian ada yang memasak air. Ada beberapa yang menghangatkan diri dan berkhayal tentang makanan, memasak makanan. Setelah cukup hangat aku masuk ke tenda untuk tidur. Aku terbangun karena kedinginan pada pukul 10.00, aku tidak bias membuka tenda untuk mengambil jaket dan kaos kaki. Teman aku yang pria bernama Samsul terbangun setelah aku meminta tolong membukakan tenda lalu dia memberikan aku jaket, memasak air dan menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan.

Aku mencoba tidur dan tiba-tiba terbangun karena kedinginan sedikit demi sedikit akupun tertidur lagi tiba-tiba Denny temanaku membangunkanaku untuk mencari mie. Dan setelah itu aku tidak bias tertidur lagi sampai pagi, di tenda rombongan yang lain sangat berisik karena mereka ingin melihat matahari terbit. Aku dan teman-temanaku terbangun sebagian ada yang masih tidur.

Aku dan Samsul setelah dari mencari bahan makan kami ke tenda dan tenda tidak ada siapa-siapahanyaada Denny danbeberapateman yang sedangtidur.Aku, Samsul, Imeh, Said dan Denny sedangmemasak. AkumembangunkanWawan, Rizky, dan Inu untuk sarapan dan sehabis sarapan kami menujuPuncakGunungPapandayan bersama Wawan, Samsul, Imeh dan Said. Perjalanan menuju Puncak tidak melalui Hutan Mati melainkan dengan jalur evakuasi dan mengikuti selang air.

Aku berjalan selangkah demi selangkah mengikuti Samsul dan yang lainnya mengikuti, Wawan hanya sibuk mengambil gambar untuk mendokumentasikan perjalanan kami. Menuju puncak kami di sambut oleh padang Edelweis, sungguh indah dan rasanya ingin tinggal disana. Setelah kami berpotoria di Tegal Alun, kami menuju Hutan Mati dengan tracking yang begitu terjal. Dalam perjalanan kami menemukan banyaknya sampah yang di buang oleh para pendaki, sampah itu berupa sisa snack.

Sungguh di sayangkan Gunung sebagus itu di kotori dengan sampah, sangat kecewa sama para pendaki yang mengotori gunung. Seharusnya sebagai Pencinta Alam kita harus merawat Alam tidak untuk mengotori ataupun merusak dan itupun aku temukan pada saat naik gunung. 0Akhirnya kami sampai ke Hutan Mati, dan seperti biasa kami berpotoria sambil menikmati panasnya terik matahari. Setelah puas kami menuju tenda, dari Hutan Mati ke tenda sangat dekat. Kami sedang di tungguolehteman-teman kami yang sudahbersiapuntukpulang.

Kamipun melakukan perjalanan kebawah dengan membawah sampah yang kami bawadari Jakarta, setelah itu kami lapor untuk turun ke Pos 2. Para Ranger disana melihat kami membawa trash bag danmeminta kami untukmenyerahkan trash bag dansetelahitu kami memberikan beberapa makanan kecil untuk Ranger dengan tujuan mengurangi beban. Dan begitulah pengalamanaku bersama teman komunitas dan slogan kami “apapun warna carier kami adalah keluarga”, terimakasih pengalaman dan ilmunya semoga kita melakukan perjalanan lagi. Setiap melakukan perjalanan mempunyai kisah yang berbeda dan mendapatkan teman yang berbeda, cintailahalamdanjagalah solidaritas sesama pendaki.