Agaknya sudah cukup lama kita tak lagi pernah bertemu. Sejak saat itu, aku dan kamu sepakat menutup buku. Tak ada lagi kenangan tertulis tentang kita berdua di masa depan.

Sayangnya, menutup buku bukanlah perihal membalikkan telapak tangan. Masih saja hingga saat ini, bayangmu menjadi hantu sebelum terlelap. Bahkan saat sedang dilanda sepi, kenangan manis menyeruak dalam lamunan.

Kamu adalah sosok yang selama ini menjadi dambaan hidupku. Kita bahkan pernah mengimajinasikannya secara bersamaan.

Sejak mulai mengenalmu, banyak hal tak terduga menghampiri setiap waktu. Tawa dan tangis, canda dan konflik kerap saja datang. Aku berhak bangga pernah mengecapnya. Sebab itu semua membuat hubungan kita menjadi kaya. Aku dan kamu menjadi matang dan kuat karenanya.

Dari itu pula, kuyakini kalau kamu adalah sosok terbaik yang jadi dambaan hidupku. Sosok yang kugadang-gadang menjadi pemimpinku di keluarga kecil kita kelak. Sosok yang memimpin dan membimbing aku dan anak-anakku. Kamu bahkan lebih dari sempurna untuk kubayangkan menjadi suamiku nanti.

Mungkin Tuhan menetapkan takdir yang berbeda. Empat kaki kita tak bisa lagi berjalan pada satu tujuan yang sama.

Pada akhirnya, impian kita harus pupus juga. Masa depan berdua selamanya bisa juga kandas. Kita sepakat memutuskan dan menutup buku demi masa depan yang lebih nyata.

Advertisement

Jarak agaknya memang kekuatan luar biasa yang sulit ditepis. Beban dan tanggung jawab pekerjaan memang mengharuskan kita terpisah jarak yang membentang. Dengan itu, spontan tak ada lagi tatap muka. Tak ada lagi perbincangan mesra walau barangkali hanya melalui telepon.

Sangat disayangkan memang jika semua ini harus berakhir begitu saja. Tapi apalah daya aku dan kamu sebagai manusia? Kita cuma ciptaan-Nya yang hanya bisa mengikuti jalan takdir-Nya. Toh, Tuhan Maha Pemberi Yang Terbaik.

Meski perpisahan sudah disepakati, bukan berarti bayangmu lantas pergi. Aku kerap kali tak sadar memikirkanmu lewat kenangan masa lalu.

Tak ada yang salah dengan perpisahan kita. Toh semuanya telah terjadi secara matang dan sadar. Barangkali aku yang memang salah. Aku sering alpa kalau kita tak bisa saling berbagi. Sampai-sampai secara tak sadar pun, benakku masih saja menyimpan kenangan manis beberapa waktu lalu.

Ya! Jujur saja kukatakan kalau aku belum sanggup melupakanmu. Mungkin perlu waktu lebih lama lagi untuk bisa memusnahkan segala sesuatu tentangmu dari jiwaku. Ini jauh berbeda denganmu yang mungkin sudah tak secuplik pun mengingat bahkan merindukan keberadaanku. Nyatanya, tak sedikit pun kamu mencoba mencari tahu bagaimana keadaanku.

Dalam diam, puncak rinduku yang terdahsyat kusampaikan pada-Nya saja. Semoga kamu senantiasa bahagia dengan kehidupan barumu.

Meski orang berkata jika jarak mampu ditembus lewat kecanggihan teknologi, semua itu mustahil kulakukan. BBM, sms, Whatsapp, Facebook, atau apapun entah itu namanya tak akan bisa mengembalikan semuanya seperti dahulu lagi. Aku memilih untuk sadar diri dan tetap mundur mengamini apa yang telah kita sepakati dahulu.

Semua yang mampu kulakukan di tengah puncak rindu terdahsyatku adalah bersujud pada Tuhan dan mendoakanmu. Dalam diam, aku selalu mengamini semua kebahagiaanmu kini. Dalam diam, aku selalu menyemogakan apapun yang terbaik untukmu.

Yang paling penting bagiku, kamu selalu berbahagia dengan hidupmu yang kini baru. Amin.