Kau datang kepadaku dengan membawa setangkai mawar, ingin sekali aku menerimanya dari tanganmu tapi sungguh durinya membuatku takut. Aku takut duri itu akan melukai tanganku, sungguh bisakah aku memiliki bunga itu tanpa harus takut terluka.

Sungguh, aku sudah lelah merasakan sakit menggenggam mawar dengan tangan yang penuh darah. Sungguh, bisakah kau menjamin tanganku tidak akan terluka saat menerima mawar itu darimu. Sungguh, aku sudah teramat lelah dengan mawar yang sebelumnya yang pernah kuterima dan berujung luka yang penuh darah.

Tidakkah kau tahu, bahkan saat aku merasakan sakit yang teramat sakit karena luka akibat duri mawar itu, itu pun enggan kulepaskan mawar itu hanya karena aku mencintainya, hingga orang lain datang merebut mawar itu dan memaksaku melepaskannya. Bodoh?? yah begitulah saat aku terlalu mencintai mawar itu. Hingga akhirnya mawar berduri itu menjadi milik orang lain.

"Sungguh aku belum berani menerima mawar itu darimu, jadi bisakah kau sedikit bersabar?"

Aku hanya belum tahu cara menerima mawar itu dari tanganmu tanpa harus melukai tangan ku, aku hanya belum tahu bagaimana menggenggam mawar itu tanpa harus membuat tanganku berdarah, aku hanya belum tahu cara menjaga mawar itu agar tidak direbut orang lan.

Advertisement

Sungguh aku sangat menginginkan mawar itu, tapi rasa takutku melebihi keinginan itu. Sungguh aku benar-benar takut untuk setiap yang kau sebut itu cinta yang nantinya akan hanya melukai hati ini. Sungguh aku benar-benar muak untuk setiap yang kau sebut itu cinta yang nantinya hanya datang lalu pergi.

Sungguh aku sedang tidak ingin patah hati lagi untuk yang kedua kalinya. Sungguh aku sudah lelah menangisi hati yang sampai membuatku susah untuk bernafas.Kemudian kau datang menghampiriku dan berkata

“Kau tahu seandainya tangan mu tidak terluka karena mawar sebelumnya tanganmu tidak akan sekuat ini sekarang”

katamu sambil menggengam kedua tanganku yang penuh bekas luka. lalu aku terdiam sambil berfikir “Seandainya pun aku harus terluka karena mawar ini untuk kedua kalinya setidaknya tangan ini semakin kuat.”

Jjangan pernah takut untuk menerima mawar (cinta) yang baru karena selalu ada pelajaran yang dapat kau ambil dari setiap mawar (cinta) yang lama. Jangan pernah takut untuk memulainya kembali.

Mawar yang baru bukan berati tanpa luka, hanya saja kau akan lebih mengerti bagaimana cara mennggenggamnya agar lukanya tidak sama dengan luka yang lama dan setiap goresan luka yang ada pada tanganmu adalah pelajaran dan kekuatan yang baru bagimu