Hmm… Bagaimana jika kita dibicarakan oleh orang lain dengan hal yang tidak benar? Atau ada seseorang yang mau berusaha menjatuhkan? Atau adalagi, Bagaimana menyikapi orang yang selalu SMS kepada kita, apa itu SMS? Hahaha Yak! Betul sekali, SMS yaitu Senang Melihat kita Susah dan Susah Melihat kita Senang

Hmm.. katakan aja No Matter How Hard you bring me down, I'll stronger than! Gimanaa caranya agar stronger? Ini  dia, Simak yuuukkkk..

Mungkin ada manfaatnya kita belajar untuk cuek, untuk tidak hirau oleh sesuatu yang hanya menguras energi dan emosi nan miskin isi. Sebagian dari kita mungkin pernah membicarakan orang lain ataupun dibicarakan, digosipkan atau bergosip istilahnya. Mungkin mulai dari sekarang kita harus mulai belajar, dimulai dari diri sendiri khususnya, untuk melihat segalanya lebih dekat.

Kayak lagu Sherina, “Lihat segalanya lebih dekat.. dan kau bisa menilai lebih bijaksana.” Tidak selalu penilaian kita, fikiran kita, itu adalah benar, karna hakikatnya kita hanyalah manusia yang sedikitpun tak berhak menilai baik-buruknya seseorang atau bahkan mencoba menimbang-nimbang amal kebaikan dan keburukan.

Helo kita ini siapa? Lagipula, ketika kita berbincang tentang seseorang, perilaku seseorang misalnya, jika yang kita perbincangkan adalah benar toh kita tetap mendapat dosa ghibah, terlebih jika yang kita bincangkan adalah salah itu namanya jadi fitnah. Sudah merasa hebatkah kita hingga meremehkan suatu dosa? Sudah setingkat lebih baik kah hingga kita hingga merasa seolah tanpa dosa membicarakan kejelekan saudara kita?

Advertisement

Think again! Mungkin kita semua secara sadar maupun tidak pernah bergosip ria, diniati ataupun tidak kita pasti pernah su’uzan dengan saudara kita, maka setelah datang suatu ilmu tentang bahaya dan dosa yang kita bawa ketika melakukan hal itu dan setelah kita tau betapa sakitnya digosipkan, diperbincangkan terlebih dengan perbincangan yang membicarakan kejelekan kita, tentu hati ini akan terasa ngilu.

Seharusnya kita mulai detik ini juga “stop” untuk bergosip, stop untuk membicarakan aib orang lain, seperti sebuah hadits Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya di hari perhitungan kelak.” Jadi follow up nya untuk kita yang mungkin sudah khilaf membicarakan kejelekan orang lain adalah, kita harus bertaubat dengan sungguh-sungguh dan harus senantiasa menghindari menjauhi dosa tersebut serta jangan sampai kita masuk ke lubang yang sama, masuk ke dalam jurang kesalahan yang telah kita sesali sebelumnya. Digosipkan kan juga tak enak, lalu kenapa masih menggosipkan, ya kan? Kalau tidak mau dijahati ya jangan berbuat jahat, “nek ra gelem dijiwit yo ojo seneng njiwit” begitu istilah jawanya. So, masih ingin bergosip ria? Think again!

Nah, sedangkan untuk kita yang “mungkin” sebagai korban gossip, tak perlu lah kita ambil hati, ia hanya akan membuat hati menjadi sakit saja ditambah mungkin marah dan emosi sebagai bonusnya. Mulai sekarang ayolah, cuek saja, toh omongan mereka juga akan berlalu seperti angin yang tak meninggalkan bekas, kecuali jika kita mengingat-ingat terus –akan membekas dihati- tapi ya sudahlah, maafkan saja, dan bermuhasabah.

Segala sesuatu haruslah kita niatkan karna Allah ta’ala dan bukan penilaian orang lain, jika memang kita telah berbuat benar dan orang lain menganggapnya salah kemudian bergosip? Ya sudah biarkan saja, itu masalah mereka, toh yang ngasih pahala bukan dia tapi Allah ‘azza wa jalla. Namuun..namun nih namun.. jika yang kita perbuat adalah salah dan melenceng dari apa yang Allah tetapkan kemudian orang lain sibuk memperbincangkan kejelekan kita tersebut dan bukan malah mengingatkan, sakit memang, tapi ada beberapa hal atau step yang harus kita cermati.

Yang pertama, dan yang paling utama adalah bermuhasabah, bertaubat, dan jangan lakukan kekhilafan tersebut. Syukur Alhamdulillah kita tidak tersesat terlalu jauh, memohon ampun kepada Allah yang telah kita sakiti dengan kesalahan yang kita perbuat. Sudah?

Yang kedua, maafkan orang yang mungkin membuat hati kita sakit dengan membincangkan perilaku kita seenaknya saja tanpa memikirkan perasaan kita, sakit sih, disaat kita salah dan bukan diingatkan secara langsung to the point ke kita namun orang lain apalagi teman kita malah asyik bergosip membicarakan dan bahkan menyebarluaskan kekhilafan kita yang mungkin “baru sekali” kita perbuat dan kita pun sudah merasa salah dan sudah bertaubat, sakit lagi ketika yang membicarakan sebenarnya tak jauh lebih baik dengan yang dibicarakan.

Tapi ya sudahlah, kali ini kita harus cuek, semua akan berlalu, sakit itu pendewasaan bagi kita. Yang harus kita lakukan adalah maafkan, lupakan, dan jangan mendendam. Toh seharusnya kita malu sama Allah bukan sama manusia, apa pentingnya penilaian dari manusia? Toh bukan manusia yang memberikan kita surga, namun DIALAH ALLAH..RABB SEMESTA ALAM. 09/07/14—

Oleh : Itafrita

"No matter how hard you bring me down, I'll stronger than" :D