Sebagai bagian dari keluarga yang utuh adalah hal yang membahagiakan ketika melewati moment bahagia bersama kedua orang tua. Akan tetapi, secara umum hal ini tidak terjadi pada mahasiswa/mahasiswi yang akan di wisuda. Kehadiran seorang pendamping wisuda (selain orang tua) sering kali diasumsikan sebagai hal yang urgent. Bahkan tidak jarang, beberapa mahasiswa/mahasiswi membahas atau meminta saran kepada orang terdekat tentang hal ini.

Pendamping wisuda merupakan sebuah kebutuhan atau trend?

Jika sedang menekuni pengerjaan skripsi, seorang mahasiswa seringkali dihadapkan pada dua pertanyaan, kapan wisuda dan sudah ada pw (pendamping wisuda)? Anehnya, semakin dekat waktu wisuda, semakin banyak orang disekitar yang menanyakan hal ini. Terkadang, orang tua kita sendiri mulai ikut-ikutan berkomentar tentang ini.

Akan tetapi, sesudah kita menyaksikan mahasiswa/mahasiswi yang di wisuda tanpa pendamping wisuda, keadaannya baik-baik saja. Obrolan seputar pendamping wisuda akan menghilang perlahan seiring berjalannya waktu. Urgensi pendamping wisuda sebenarnya tidak menjadi hal krusial, namun dijadikan mahasiswa sebagai trend yang menciptakan ini sebagai kebutuhan.

Haruskah kita mencari pendamping wisuda ?

Advertisement

Pada point di atas, sudah disebutkan bahwa pendamping wisuda bukanlah sebuah kebutuhan. Keputusan untuk mencari atau menemukan pendamping wisuda kembali kepada si mahasiswa sendiri. Sebenarnya, pendamping wisuda itu tergantung pada lucky wisudawan/wisudawati. Jika mereka memiliki pacar ketika diwisuda, orang itu juga akan berperan sebagai pendamping wisudanya. Jika tidak memiliki pacar, juga tidak menjadi sebuah kekurangan atau kondisi yang mengurangi kelancaran acara wisuda.

Jika pedamping wisuda menjadi hal yang penting bagi kita untuk menyempurnakan acara wisuda, sudah banyak agen atau penyedia jasa yang memberikan layanan pendamping wisuda. Akan tetapi, sudah siapkah kamu didampingi seorang perempuan atau laki-laki lewat jasa ini? Jika kamu memutuskan untuk memakai jasa ini, adalah keputusan yang sedikit konyol. Cobalah aktifkan kembali insting intelekmu.

Pendamping wisuda adalah tunas pendamping hidup?

Lagi-lagi pernyataan merupakan asumsi dari mahasiswa/mahasiswi. Mereka yang pacarnya menjadi pendamping wisuda, tidak menjadi jaminan orang tersebut yang akan menjadi pendampingnya di pelaminan. Tidak jarang kita melihat orang terdekat kita sudah berpacaran selama bertahun-tahun dan didampingi oleh orang yang sama dihari wisudanya, namun di hari pernikahnnya didampingi oleh orang yang berbeda. Tidak ada yang bisa menenetukan ataupun memprediksi jodoh. Jodoh merupakan misteri dan otoritas penuh dari sang Pencipta.

Apakah pendamping wisuda memiliki peran yang benar-benar penting?

Seberapa besar peran atau partisipasi pendamping wisudamu dalam penyelesaian skripsimu? Jika benar-benar merasa pendamping wisuda adalah hal yang krusial, coba telusuri kembali melalui pertanyaan ini. Pacar atau seseorang yang menjadi pendampingmu ketika wisuda, sudahkah berperan besar dalam penyelesaian skripsimu? Sejauh ini, secara umum, orang tualah yang berperan besar dalam proses penyelesaian kuliah terutama dalam memompa semangatmu berskripsi ria. Mereka menyokong dana dan motivasimu semaksimal mungkin, sekalipun harus membanting tulang. Wajar, peran mereka tidak bisa dibandingkan dengan peran pacar atau pendamping wisudamu. Akan tetapi, bukan berarti pacar atau pendamping wisuda mu tidak berperan sama sekali karena secara akademis mereka mungkin lebih memahami kendala skripsimu dibandingkan orang tuamu.

Pendamping wisuda tidak akan selalu ada, tetapi pendamping hidup membuatmu merasa berarti dan selalu ada.

Dari beberapa point di atas yang memberi kilasan tentang urgensi seorang pendamping wisuda, kamu sebagai mahasiswa/mahasiswi yang sedang menikmati bercengkrama dengan skripsi sudah harus move on dari asumsi orang tentang pendamping wisuda. Pendamping wisuda pada saatnya, bisa hilang ditengah perjalanan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi seiring berjalannya waktu. Akan terasa sangat menyakitkan, jika seseorang yang sudah memiliki pendamping wisuda yang dirasa cocok dan menjalin hubungan bertahun-tahun, sudah berkomitmen akan bersama hingga pelaminan, tetapi karena kehendak Tuhan tidak bisa bersatu. Kita tidak bisa mencegah hal semacam ini terjadi, sekalipun sangat menyakitkan.

Jadi, tarik napas panjanglah sejenak. Pikirkan kembali, keberadaan seorang pendamping wisuda yang perlu bukan penting. Jangan biarkan fokusmu tersedot oleh pendamping wisuda, tetapi berfokuslah pada seseorang yang akan mendampingi dan mewarnai kehidupanmu di masa depan.

Point-point diatas adalah suratan rangkaian asumsi saya. Pemahaman dan asumsi tentang urgensi pendamping wisuda kembali pada prinsip calon wisudawan dan wisudawati.Intinya, bersenang-senang dan berbahagialah untuk pencapaianmu di hari wisudamu, tanpa kekhawatiran dan kehilangan fokus karena seorang pendamping wisuda.