Sebagian dari kami dilahirkan untuk menjadi pahlawan, sementara yang lainnya mencoba terlalu keras untuk menjadi seorang pahlawan.

Kami ‘senang’ mendapatkan pujian sekecil apapun dan kami selalu berusaha untuk tampil ‘sempurna’ di depan semua orang, terutama di depan perempuan yang membuat kami ‘tertarik’.

Karenanya tidak aneh jika kamu telah mencurahkan semua waktu dan perhatianmu hanya untuk kami sementara kami terlihat sibuk menjadi pahlawan di seluruh belahan dunia, meninggalkanmu dalam kesepian padahal kamu sedang benar-benar butuh teman dan kamu terlihat sibuk menghindari mereka yang ternyata bersedia menjadi pahlawanmu.

Tapi kami punya alasan pembenaran di balik semua tindakan kami itu. Kami selalu punya alasan di balik setiap tindakan kami karena kami berpikir dengan menggunakan otak, bukan dengan hati atau perasaan seperti kamu.

Saat kami tenggelam dan menghilang di dalam pekerjaan, di dalam tugas, apakah kamu sibuk mencari kami? Bertanya-tanya apakah kami masih hidup dan bernapas atau justru sudah pingsan karena seharian lupa makan dan istirahat sementara kami terlihat sama sekali tidak peduli sama kamu?

Advertisement

Dan aku percaya alasan di balik sikap kami itu adalah karena kami harus menyelesaikan pekerjaan kami secepat mungkin supaya kami bisa beristirahat, main game kesayangan, menonton team sepak bola kesukaan, kemudian baru menemani kamu yang bukan tidak mungkin justru lagi kena giliran dikejar deadline.

Kami masih percaya pada ‘cinta’. Tapi kami hanya seringkali lupa bagaimana caranya mengekspresikan rasa itu. Kami selalu menggunakan logika dan rumus-rumus logika lainnya untuk bekerja. Tapi ‘cinta’ rupanya bukan sesuatu yang bisa diukur dengan besaran manapun. Dan itu membuat kami bingung.

Kami yang baru merasakan tantangannya untuk pertama kali akan merasa sangat-sangat tertarik dan rela mengorbankan nyaris segalanya hanya untuk bisa mendapatkan kamu (perempuan) yang mereka incar. Kami tidak melihat perempuan dari parasnya, melainkan dari hati kamu yang bersih, sehingga kami bersedia berjuang demi kamu.

Sementara yang lainnya hanya mencintai keseharian mereka tanpa sentuhan perempuan..

Kami bukan tipikal yang selalu berharap dan berandai-andai. Kalau perempuan suka dengan romantisme dan dunia yang penuh dengan impian, lelaki justru menganggap romantisme hanyalah bagian dari rangkaian cerita di dalam sinetron atau drama percintaan.

Tapi bukan berarti kami tidak pernah berharap dan berandai-andai (bermimpi) untuk mendapatkan gadis pujaan seperti yang ada di dalam sinetron atau drama percintaan. Kami selalu melibatkan rencana briliant dalam setiap tindakan kami.

Kami bisa langsung tahu kalau seorang perempuan menyukai kami tapi tidak akan pernah bisa yakin kecuali perempuan itu memberitahunya.

Tidak seperti kamu, kami lebih cepat menangkap sinyal dari perempuan yang tertarik pada kami. Kami bisa mengetahui apakah seorang perempuan tertarik pada kami hanya dari tatapan matanya saja. Tapi kami merasa tetap harus meyakinkan diri kami sendiri dengan mendengar jawaban langsung dari perempuan yang tertarik pada kami.

Kami juga manusia yang bisa merasa lelah dan meneteskan air mata.

Kami memang memiliki takdir sebagai pihak yang harus bekerja keras mencari uang, menafkahi, dan membahagiakan keluarga yang harus selalu terlihat tegar. Tapi hey, kami juga cuma manusia biasa yang bisa kelelahan dan menangis saat seseorang mematahkan hati kami.

Tapi tetap aja aku tidak pernah suka sama laki-laki yang menggunakan air mata buat senjata. Karena air mata itu senjata perempuan…!!

Ingatlah kamu wahai perempuan, bahwa kami tak mencari perempuan yang cantik, yang dicari adalah perempuan yang enak dilihat dan mempesona.

Kami ingin selalu berbagi semua hal dengan kamu, namun terkadang kami tak bisa mengungkapkan semua hal dengan baik. Untuk itu, jangan paksa kami bercerita jika memang kami belum siap untuk bercerita.

Kami akan mencoba mendapatkan hati perempuan yang memutuskannya, sebelum akhirnya kami berusaha melupakanmu. Inilah yang membuat kami getol menelepon/sms kamu setelah habis putus, dan kemudian akhirnya menyerah karena kamu memberikan respon yang negatif.

Kami terkadang cuek terhadap kamu, tapi ingat cuek bukan berarti tidak peduli, hanya kami butuh waktu bahkan tak tahu bagaimana cara menyampaikannya. Ketika kami berbicara, kami menggunakan lebih banyak logika, sedikit perasaan, jadi jika kami memberi nasihat yang sedikit keras sebenarnya baik untuk kamu juga, karena kami ingin kamu bahagia.

Iya, karena kami ingin kamu bahagia.