Aku bermalam|semalam aku di tengah malam|Jika kau tahu| aku hingga melewati malam| aku terlelap di antara dua perawan|berdua bahkan lebih menawan| pesona tak sekalipun membelakangi| kemilau kelam bahkan terlihat hilang|mati|

ketika aku memanggil|ada rentetan tanya sedang menunggu|menanti tanpa kecewa|berharap satu di antara perawan|mengerti maksud hati|adakah?|Febriana Irene

MEMBACA sajak Febriana Irene berjudul “Dua Perawan” ini memantik imaji bias kelamin yang spontan. Dalam teater imajiner tampak, penulis, atau figur yang ditokohkan, tepatnya si “Aku” dalam sajak Irene, sedang “tidur bersama” atau “menghabiskan malam” bersama dua orang perawan lainnya.

Margaretha Febriana Irene adalah penyair muda tamatan STKIP St Paulus Ruteng yang tergabung dalam Komunitas Sastra Hujan Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur. Tulisan ini sekadar masuk dalam mental state “Dua Perawan” seraya berhermeneutika (hermeneuin (yun.) /interpretatio (lat.): menafsir) dan bersanding dengan horizon ide keperawanan Manggarai.

Dua orang gadis tepatnya yang disebut dengan istilah perawan, disebut dua orang yang hymen-nya masih ada. Si Aku sedang tidur bersama atau menghabiskan malam bersama dua orang yang belum sekalipun melakukan aktivitas seksual atau actus sexualis dengan laki-laki dan perempuan manapun.

//…aku terlelap di antara dua perawan|berdua bahkan lebih menawan| pesona tak sekalipun membelakangi| kemilau kelam bahkan terlihat hilang|mati//

Perawan menjelaskan si Aku dan dua orang lain yang digambar sebagai yang lain, yang perawan itu, sudah dan sedang mengalami pengalaman seksual sebagai tubuh sendiri, namun menunda, mengambil jarak, dan memberi tanda kurung pada actus sexualis dengan lawan jenis.

Advertisement

Dengan memasuki keadaan mental penulis “Dua Perawan”, pembaca bersua dengan gagasan keperawanan biologis sekaligus psikologis. Keperawanan biologis merujuk pada aspek fisik, yakni belum tersentuhnya hymen oleh actus sexualis (coitus) baik dengan sesama maupun lawan jenis. Atau ketakbersentuhan, hymen, oleh suatu aktivitas auto-sexual -hubungan sexual dengan diri sendiri- yang acapkali disebut pengalaman seksual egois, masturbasi.

Sedang, keperawanan psikologis mengungkap, sikap belum ramah pada aktus sexualis, atau menunda kontak seksual dengan menjadi pasif. Tidak ingin dulu mencicipi pengalaman seksual, dengan sekadar menunda sampai diberi pengesahan oleh keluarga, komunitas akrab, adat, dan agama. Sisi psikologis lebih pada etika kepatuhan nilai keperawanan (virginity).

Singkat kata, keperawanan psikologis, tidak peduli soal ada atau tidak adanya hymen, melainkan pada sikap, perbuatan, dan cara pandang menunda aktivitas seksual pada saat menikah atau setelah komunitas sosial membolehkannya usai ritus pernikahan.

Keperawanan memendar dua gagasan. Pertama soal fisik ihwal sudah atau belumnya seseorang melakukan kontak seksual. Kedua gagasan keperawanan lebih memperlihatkan sikap bathin, menghargai tubuh, membiarkannya pada tata nilai, tubuh sebagai “jemeinkeit” (Martin Heidegger) atau “Aku Otentik” (SØren Kierkegaard), atau “Ja Sagen” (Nietzsche), milik khas pribadi. Dalam maksud, tubuh sebagai pengalaman pertama khas seorang persona yang menandai kebebasannya.

Karong Lo’ang: Legitimasi Kebersetubuhan

Dalam dunia keseharian orang Manggarai, keperawanan menjelaskan sudah atau tidaknya seseorang melakukan aktivitas seksual. Demikian pun ide keperjakaan, dalam arti yang sama. Jelas bahwa titik awal menyebut perawan dan perjaka dalam keseharian orang Manggarai adalah aktivitas seksual, actus sexualis.

Dalam Bahasa Manggarai actus sexualis dibahasakan dengan ungkapan yang vulgar dan sopan. Secara vulgar, aktivitas seksual -dalam arti sempit hubungan badan laki-laki dan perempuan- disebut dengan istilah pande, kido, etc. Dua istilah ini lebih mengungkap makna seks sebagai kegiatan rekreasi (kenikmatan).

Sedang, dalam ragam bahasa santun, aktivitas seksual disebut toko cama, tuke, etc. “Tuke” memendar metafora memanjat pohon karena kontak seksual digambarkan seperti aktus memanjat pohon. Kapasitas seksual (potentia) acapkali dijelaskan sebagai ketangkasan memanjat pohon, sedang ketakmampuan memanjat pohon (impotentia) menjelaskan ketidakmampuan seksual.

Dalam metafora, “tuke haju” lebih menjelaskan actus sexualis sebagai kegiatan reproduksi biologis yang menghasilkan keturunan(wua agu wela). Jelas ada kebanggaan dari laki-laki ketika dia berhasil memetik buah dari pohon yang ia panjat. Buah dari aktivitas seksual itu yang disebut keturunan.

Dalam struktur cara berpikir laki-laki, perempuan Manggarai yang dinikahi adalah si “Aku perawan.” Karena itu, setelah proses adat pernikahan berupa lamaran(weda rewa tuke mbaru) yang berpuncak pada pesta “Nempung”, juga pengukuhan gerejawi setelah datangnya Agama Katolik, dua pasangan akan mengikuti ritus “karong lo’ang” atau “te’ing loce.” Karong Lo’ang atau Teing Loce didahului ritus doa yang dipimpin imam adat agar kedua orang yang telah disatukan dalam pernikahan adat dikaruniai anak.

Jelas, melepas keperawanan dan keperjakaan, dalam cara masyarakat tradisional Manggarai disahkan oleh keluarga, kelompok akrab, dan adat setelah proses adat terjadi. Hal yang bisa disandingkan dengan ritus pembukaan selumbung wajah perempuan dalam pemberkatan nikah Katolik. Karong Lo’ang dan pembukaan selubung menjelaskan, “silakan berhubungan tubuh. Hubungan itu sah.”

Dalam jajahan ide patriarki, seringkali dalam masyarakat tradisional yang dituntut perawan hanya perempuan, sedang laki-laki tidak. Bias kelamin spontan ini langgeng di seluruh Nusantara, bahkan diberi pendasaran Kitab Suci melalui penerapan hukum syariah, misalnya kasus pemeriksaan perawan di Aceh dan calon bintara TNI yang diperiksa selaput daranya.

//ketika aku memanggil|ada rentetan tanya sedang menunggu|menanti tanpa kecewa|berharap satu di antara perawan|mengerti maksud hati|adakah?//

Perawan Terpenjara Tatapan

Ide keperawanan memang tidak semata-mata menjadi ide jajahan kaum bapak atau laki-laki. Ide keperawanan itu secara sosial dibangun-bersama oleh kesadaran laki-laki dan perempuan. Menjaga tetap perawan merupakan jenis etika kepatuhan kepada kelompok akrab atau teman sebaya, keluarga, adat dan agama. Syahdan, menjaga keperawanan lebih pada kepatuhan sosial, bukan suatu ekspresi arkais penghargaan terhadap pasangan.

Simone de Beauvoir (1908-1986), filsuf eksistensialis Prancis, dalam opus The Second Sex” (1949) menjelaskan, perempuan tidak dilahirkan sebagai perempuan, melainkan dibentuk sebagai “yang feminim” dalam masyarakat.

Keperempuanan perempuan merupakan bentukan masyarakat tempat ia hidup. Demikianpun gagasan tubuh, kecantikan, keperawanan, kerja, dan pernikahan turut mendapat bentukan sosial. “Menjadi perempuan adalah kontruksi sosial sebagai bentuk kepatuhan kepada masyarakat,” ujar Beauvoir.

Paham kecantikan pun mau tidak mau patuh pada kehendak laki-laki. Dunia laki-laki menjelaskan bahwa kecantikan harus mengikuti prasangka mereka. “Woman is expected to strive after beauty,” kata Beauvoir. Perempuan pun harus rela memodifikasi penampilan dari rambut hingga kuku untuk menunjukan kepatuhan pada kriteria masyarakat “laki-laki.”

Ilmu kecantikan terkini menjelaskan, bagaimana biaya perawatan tubuh perempuan itu bisa melampaui biaya makan dan minum, misalnya modifikasi rambut, hidung, wajah, leher, dada, perut, bokong, alat kelamin, betis, kulit, dan kuku. Harga parfum sudah melampaui harga sekarung beras. Itu karena, “perempuan itu obyek tatapan (gaze) laki-laki, ” ujar Beauvoir.

Diet, make up, perhiasan, pakaian, pakaian dalam, obat-obat kecantikan, diarahkan untuk melayani “tatapan-tatapan” laki-laki. Dunia sosial yang kemudian kapitalis menciptakan tubuh, kecantikan, dan keperawanan menjadi obyek fetis, atau dalam tafsir Karl Marx disebut, warenfetischismus. Gejala yang kemudian ditafsir Theodore Adorno sebagai dunia kesendirian (lonely )dan konsumtif (consuming), karena kapitalisme merekayasa kebutuhan manusia, termasuk mencipta imaji tubuh, perawan, dan kecantikan.

Menurut Beauvoir, tubuh perempuan mendapat “emphasized dan displayed” sepanjang sejarah peradaban. Hal sederhana misalnya, perempuan tidak boleh berbulu. Kemudian, muncul ide kecantikan soal body wax (membersihkan tubuh perempuan dari bulu, misalnya pada tangan, betis, dan alat vital) karena berbulu itu sifatnya laki-laki.

Demikian pula halnya keperawanan, dalam ilmu kedokteran modern, keperawanan bisa dimodifikasi dengan operasi medis, misalnya vagina reconstruction post partum, rekayasa ukuran dan model buah dada dengan operasi plastik, dalam dunia medis-kecantikan semata-mata untuk melayani imaji keperawanan masyarakat “laki-laki.”

Menurut Beauvoir, alasan medis memang acapkali menyembunyikan “tangan-tangan tak kelihatan” berupa gagasan hegemonik yang membuat perempuan terpenjara “perempuan bentukan”. Untuk membebaskan “gagasan keperawanan yang dikonstruksi sebagai bias kelamin spontan” itu, perempuan, sebagai “Aku” wajib menolak seterotipe dan prasangka kecantikan yang dikonstruksi masyarakat laki-laki. Hasil yang diharapkan adalah cara pandang yang setara mengenai tubuh manusia, baik laki-laki maupun perempuan.

Sastra melalui tangan-tangan penyair muda dan pemula seperti Febriana Irene patut mendapat dukungan sebagai suatu proyek kesetaraan dalam menafsir kebersamaan dalam masyarakat. Proyek anti hegemoni bias kelamin spontan melalui sastra berupa puisi dan cerpen, memang tidak selalu berurusan dengan romantisme kata, melainkan kejujuran estetis dalam mengungkap makna.

“Dua Perawan” bukan saja dibaca dalam pengalaman personal sebagai “perawan Manggarai” melainkan bisa dibaca sebagai pegalaman keterbalikan dan perlawanan halus. Meski menyebut diri perawan, si Aku dalam “Dua Perawan”, hemat saya, sedang mengolok-olok laki-laki yang mengkultuskan selaput dara (hymen) sebagai obyek fetis yang ia cari dalam kontak badan dengan perempuan.

“Manusia itu terhukum makna,” ucap Fenomenolog Prancis, Maurice Merleau-Ponty. “Dua Perawan” membuka selubung-selubung makna yang perlu dicicipi, dinikmati, dikunyah, dan akan dibagikan kembali dalam ruang kebersastraan yang sepi ini. Berharap, banyak perempuan Flores yang makin bersuarasastra mengungkapkan ketidakadilan. [frg]