Kita terlahir di dunia ini dalam konsep berbeda-beda, baik beda suku, ras, bahasa dan agama. Namun ternyata perbedaan ini menimbulkan kendala tersendiri bagi kehidupan manusia. Adanya perbedaan agama seringkali menjadi penghalang bagi keberlangsungan cinta seseorang. Dibanding dengan hal-hal yang menghubungkan perbedaan lainnya, perbedaan agama merupakan perbedaan yang paling krusial. Sementara itu, setiap agama mengajarkan cinta kasih kepada umatnya.

Hal itu memang kadang membuat seseorang terpaksa harus meninggalkan pasangan yang sudah dicintai tersebut meskipun ia sangat mencintainya jika tidak setuju untuk berganti agama. Kasus cinta beda agama sudah jadi masalah klasik di sekitar kita.

Belum menuju ke arah pernikahan dan baru hubungan pacaran saja sudah banyak pertentangan yang memaksa batinmu sendiri bergejolak, keluarga, teman hingga lingkungan sosialmu seperti tak terima. Sehingga menimbulkan kontroversi; sedikit yang setuju, banyak yang menolak, dan sisanya hanya akan berkomentar “ya jalanin aja kalau jodoh gak bakal kemana” dan bla bla bla.

Pacaran bertahun tahun dan pupus hanya karena perbedaan itu menyakitkan dan butuh waktu yang lama untuk move on dan bisa keluar dari prasaan gundah, galau, merana bla bla bla. Setelah lost contact berbulan bulan tiba-tiba sebuah pesan masuk masuk! Hati ini mulai gaduh. Hal itu terus terjadi, berkali-kali! Yaahh kita juga tau kalau dia lagi rindu, tapi hal tersebut menggores hati dan berujung gagal move on.

Hari terus berganti, jam dinding, jam tangan, jam HP, jam apa ajalah terus berjalan. Hingga setahunan gak contact dan dia kembali contact lagi. Dan kalau boleh jujur sampai saat ini aku masih menunggunya dan aku berharap oh Tuhan pertemukan aku dengan dia dan kami bisa saling mencintai di dunia yang sama seperti awal jumpa dan tanpa aturan yang berniat memisahkan kami.

Advertisement

Semakin hari otakku terus berpikir bagaimana cara merayu Tuhan agar kami dipertemukan, dalam doa terus mengalir namanya. Dan aku sadar ada lagu yang liriknya cinta tak harus memiliki dan aku berusaha untuk lepas. Oh tidak.

Sekarang aku menjalani hidup penuh paksakan untuk tetap tegar.