Pada zaman sekarang ini tentulah kita tidak asing dengan pertanyaan-pertanyaan seperti ini,

“Eh siapa pacar lo? Udah punya pacar belum? Kenapa masih jomblo aja?”

Sebagian dari kita bisa menjawabnya dengan mudah, sebagian yang lain hanya menjawab dengan tersenyum saja. Hal itu karena tak bisa dipungkiri bahwa ada dari kita yang punya prinsip untuk tidak pacaran, ada pula yang mewajarkan hubungan pacaran.

Semua memang punya prinsip masing-masing, atau hanya sekedar ikut-ikutan saja seperti yang lain. Tanpa perlu memikirkan alasan apa yang mendasari pilihannya itu. Inti permasalahannya sih sama, yaitu tentang bagaimana seseorang memperlakukan cinta yang ada di hatinya.

Seseorang yang memilih menjomblo, mereka biasanya sering kali beralasan karena tak ingin main cinta-cintaan sebelum waktunya. Walau ada juga jomblo yang disebabkan karena mencari pacar namun tak dapat-dapat. Namun bukan mereka yang kita maksud disini, tetapi jomblo yang memang benar-benar orang yang memilih menjadi seorang jomblo.

Advertisement

Seorang yang memilih tanpa pacar sebelum menikah. Kita yang memilih menjadi seorang jomblo tentu mempunyai alasan tersendiri yang kita pegang dengan kuat. Ada yang memang karena tak ingin main-main dan fokus belajar dan bekerja. Ada pula yang ingin menjalankan perintah dari Allah semata. Walau sering kali ujian dan tantangan menggoyahkan prinsip kita itu.

Kadang ada rasa iri ketika melihat teman kita yang punya gandengan kemana-kemari. Iri melihat adanya orang yang seolah adalah pasangan yang selalu menyayanginya. Sedangkan kita sendiri saja dalam berkeseharian.

Hidup itu memang pilihan, pilihan menjadi seorang jomblo pun bukan sembarang pilihan. Semua pilihan tentu kita tujukan untuk kebahagiaan kita. Kita memilih menjadi seorang jomblo pasti karena berfikir itu yang terbaik buat kita dan nantinya akan bermanfaat demi kebahagiaan kita.

Namun buat apa menjomblo, jika kita masih merasa galau karena merasa seolah tak ada pasangan. Buat apa berprinsip menjomblo, jika kita justru memelihara kesepian karena merasa kurang diperhatikan oleh orang lain. Harusnya kan kita bahagia dengan pilihan kita. Harusnya kita tidak menjadi orang yang sering galau, apalagi menggalau di malam minggu karena tak ada yang ngapelin atau tak ada yang diapelin. Harusnya hari-hari kita itu selalu ceria dong walau jadi jomblo, tak merasa kesepian karena minimnya perhatian dari orang-orang tertentu yang mengistimewakan kita. Iya, kita harus bahagia dengan pilihan kita. Apalagi ini tentang cinta dan hidup kita.

Selanjutnya seorang yang memilih berpacaran, mereka yang memilih untuk punya pacar untuk mendapatkan kasih sayang. Kita yang memilih pacaran, tentu juga punya asalan tersendiri. Punya pacar itu untuk tak kesepian, biasanya itu lah diantara alasan yang kita utarakan. Biar tak merasa sepi, maka kita butuh perhatian dari orang lain yang kita rasa menyayangi kita. Sambil berharap orang yang kita sayangi itu nantinya akan tetap setia bersama kita. Bisa menyayangi kita selamanya, hingga nantinya akan jadi jodoh kita.

Namun faktanya, karena kita sering berharap adanya perhatian dan luapan kasih sayang dari pacar kita. Maka jadinya justru kita sering merasa kesepian pula saat pacar kita seolah tidak ada kabarnya. Bahkan timbul kecanduan akan hadirnya pula, sebentar saja tidak ada kabarnya menjadikan hati kita merasa sepi. Ini kan jadinya aneh, kita yang berharap dengan pacaran tak merasa kesepian justru malah tebunuh sepi.

Kita juga sering cemas dan gelisah, apakah pacar kita itu akan menjadi pacar yang setia. Apakah ia tidak akan tergoda dengan sosok lain yang lebih rupawan atau lebih baik dari kita. Duh itu tentu rasanya begitu menyesakkan bagi kita, apalagi saat pacar kita terdengar tebar pesona dengan orang lain. Kita pun tak bisa lepas dengan namanya konflik saat berpacaran dengan dia.

Namanya hubungan kadang ada masa harmonis romantis dan sering pula dilanda pertengkaran. Hingga kita sering pula dibuatnya begitu bersedih, bahkan tak jarang dia membuat kita mampu menangis karena begitu sakitnya ketika dia melakukan suatu hal yang membuat hati kita terluka. Duh, ini juga kan rasanya aneh padahal memilih punya pacar juga kan adalah pilihan kita sendiri.

Kita memilih punya pacar juga karena kita ingin bahagia. Namun kenapa kita justru tak bahagia. Hingga jika kita bandingkan, orang yang pacaran itu lebih berpotensi menangis karena cintanya daripada orang yang tak pacaran.

Setiap dari kita tentu mengharapkan kebahagiaan. Kita melakukan sesuatu juga tak berharap kesedihan yang akan datang. Tentu kita tak mau disalahkan dengan pilihan kita. Kita tak mau disalahkan karena kita memilih menjadi seorang jomblo, atau kita pun tak mau disalahkan pula kala kita memilih Pacaran.

Namun memang percuma lah kita memilih jadi jomblo jika sering galau merana. Percuma Pula jika kita memilih pacaran namun selalu sedih dan sering dilanda resah dan gelisah.

“Ini kan hidup gue! Ngapain urusi hidup gue? Happy gak happy ini pilihan gue!”

Sering kali kita selalu merasa benar dengan pilihan kita. Hal itu karena kita punya alasan dalam menjalaninya. Bahkan kita seolah punya seribu bantahan kita ada orang yang mau menyalahkan kita. Itulah uniknya kita sebagai manusia, kita mungkin punya naluri tak ingin disalahkan walau nyata-nyata salah.

Kita seharusnya mampu bahagia dengan pilihan kita, jomblo atau pacaran itu tentu bukan pilihan yang sederhana. Jika kita ikut-ikutan saja, ya akhirnya kita akan sedih dan jauh dari harapan kita. Namanya juga ikut-ikutan, kita tidak tahu tentang arah pilihan kita. Jangan hanya ingin sok-sokan menjadi seorang yang tak pacaran, sehingga kita merasa sok suci. Atau sebaliknya sok-sokan punya pacar, hingga kita merasa sombong dan berbangga hati berlebih.

Tentu Allah tahu dimana Dia akan meletakkan kebahagian, niscaya kebahagian akan berpihak kepada orang-orang yang memperlakukan jalan kebahagiaan itu dengan sebaiknya pula. So, maknailah kebahagiaan yang kita harapkan dari pilihan kita. Jika ada yang salah dan kurang tepat, tentu tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki pilihan kita. Apalagi jika tentang cinta dan berurusan dengan hati.

Cinta itu kan adalah anugerah, seharusnya anugerah itu akan mampu membahagiakan kita. Bukan membuat kita merasa sedih apalagi merasa sepi. Bukan pula menjadi hal yang membuat kita sering meneteskan air mata.