Saat menghadiri sebuah pernikahan, rasa bahagia merupakan elemen utama yang memenuhi kita. Kita seolah-olah turut serta bahkan terhipnotis menikmat seluruh prosesi pernikahan. Mulai dari iringan langkah pengantin, orangtua, dan sanak saudaranya hingga penghujung acara yang didesain dengan penuh sisipan rasa bahagia.

Akan tetapi, pernahkah kita bertanya, apakah kelanjutan dari kebahagiaan hari itu? Atau akankah kebahagiaan yang sama akan tercipta dalam moment yang berbeda? Misalnya, ketika menafkahi anak ataupun proses lainnya.

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan hadir sekedar sebagai kritikan ataupun untuk menjadikan wanita/pria lajang menjadi pesimis dalam melangsungkan pernikahan.

perlu disadari bahwa banyak hal lain kedepan yang akan dihadapi dengan dua tubuh yang dipersatukan.

Secara kasar, pernikahan hanyalah sebuah legalisasi manusia baik dalam bentuk administrasi dan pengaminan dari semua anggota keluarga, terlepas dari krusial keagamaan.

Advertisement

Ketika wanita dan laki-laki dipersatukan dalam sebuah pernikahan maka kedua tubuh ini harus mempersiapkan dan memampukan diri dalam menjalani proses kehidupan yang lebih berat lagi kedepan. Jika dianalogikan, pernikahan ibarat gerbang atau tahap awal dalam memasuki hutan terlarang yang di dalamnya terdapat banyak kejutan-kejutan baru.

Hal ini bisa dimulai dari ujian kemampuan kedua mempelai dalam bernegosiasi dan memutuskan suatu hal. Contoh saja, beberapa hari sesudah hari pernikahan, keduanya harus bernegosiasi tentang anggaran ceremony pernikahan yang dilakukan. Jika defisit ataupun surplus, kebijakan apa yang harus dilakukan? Sekalipun, hitungan ini sudah seharusnya dari awal dipertimbangkan oleh keduanya, namun kejutan-kejutan tidak terduga seperti ini tidak jarang terjadi.

Lagi-lagi, pernikahan bukan sekedar bahtera rumah tangga yang dipenuhi oleh foto selfie,mulai dari selfie acara pernikahan, bulan madu, kelahiran anak pertama, ulang tahun pernikahan, dan lain-lain. Menikah ibarat proses merger dua perusahaan. Ada keterkejutan kebudayaan ataupun komunikasi yang tidak lancar, berapa persepsi berbeda pun hadir.

Kemudian, kedua pihak mencoba melakukan negosiasi lengkap dengan pertimbangan resiko kedepan, baik dalam pembagian tugas dan kerja inti perusahaan lainnya. Realisasi dari komitmen dalam sebuah pernikahan merupakan komponen penting untuk keberlangsungannya.

Secara umum, pernikahan yang didasari oleh suatu komitmen dari kedua pengantin akan menghadirkan suasana rumah tangga yang lebih harmonis dan diwarnai pertanggung jawaban setiap anggota keluarga. Kondisi seperti ini akan meminimalkan keretakan rumah tangga yang berpuncak pada perceraian yang sangat merugikan anak.

Menikah berarti berkomitmen tetap mengatakan “iya, aku bertahan” untuk semua keadaan. Sekalipun salah satu pihak melakukan hal yang melanggar kesepakatan awal. Mempelai harus siap melepas ego dan melihat jauh kedepan, dampak apa yang diperoleh dari keputusan yang diambil sesaat.

Tidak komitmennya mempelai akan berpuncak pada broken home yang dialami oleh anak-anak mereka. Keadaan seperti ini akan megakibatkan banyak kerugian, mulai dari terganggunya psikologi anak, sosialisasi dengan lingkungan sekitar, dan paling parahnya anak akan mengadopsi perilaku orang tua.

Pernikahan yang identik dengan rasa bahagia juga perlu ditelusuri atau bahkan dikoreksi kebahagiaan seperti apa yang dimaksudkan oleh keduanya. Seringkali, mempelai menyalah artikan makna dari bahagia itu. Mereka beranggapan bahagia itu hanya seputar kepuasaan antara aku dan kamu.

Seharusnya mereka juga menelusuri makna bahagia itu ke lingkungannya. Jika tidak, bahagia yang mereka aplikasikan bisa saja menjadi tragedi untuk orang di sekitarnya, bahkan kerabat dekat sekalipun. Umumnya, didasari oleh ajaran agama, mempelai dituntut untuk saling mengingatkan dan hidup terpelihara dalam kekudusan.

Sederhananya, kudus yang dimaksud adalah perbuatan keduanya yang mencerminkan moral dan nilai yang berkenan di masyarakatnya. Bukan melakukan sesuatu yang dianggap membahagiakan dan kudus menurut definisi sendiri.

Intinya, genapkanlah sebuah pernikahan dengan segala sesuatu yang sudah “siap”.

Siap diartikan tidak hanya kesiapan dalam bentuk materi, tetapi bentuk nilai komitmen. Dengan begitu, bahtera yang dibangun oleh kedua mempelai akan semakin besar dan kokoh yang dapat menapung rejeki yang lebih banyak lagi.

Bahkan dapat menampung orang-orang di sekitar yang membutuhkan tumpangan bahtera anda. Sekali lagi, tulisan ini hanyalah suratan opini, sehingga pemaknaan dan pelaksanaan pernikahan itu kembali kepada orang yang melaksanakannya.