Beberapa minggu yang lalu, saya berada dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Lebih tepatnya, saya berada dalam situasi yang membuat saya merasa jatuh dan tidak berharga. Saya merasa hilang dan tidak tahu harus melangkah. Jangankan melangkah, membuat keputusan saja membuat saya merasa sangat galau. Saya merasa saya terlalu banyak pertimbangan sehingga saya sendiri merasa kalau saya tidak akan maju-maju kalau saya menjadi terlalu takut akan banyak hal.

Saya mengisolasi diri dari teman-teman dan keluarga saya karena saya tidak mau kalau mereka tahu kondisi saya pada saat itu. Saya tidak mau mereka melihat saya sedang dalam kondisi kacau dan negatif. Saya sendiri tidak mau menularkan hal ini terhadap mereka sama sekali. Pada saat itu, saya merasa bahwa saya sudah membuat keputusan yang tepat. Toh tidak ada yang terluka karena ke-negatifan dan kesedihan saya. Tidak ada yang bisa menyakiti diri saya karena memang saya tidak ketemu siapa-siapa juga.

Tetapi saya tidak menyadari bahwa saya sendiri yang membuat diri tidak bahagia. Saya sendiri yang menarik diri dari orang lain dan saya sendiri yang merasa sedih. Saya mencoba untuk mencari kebahagiaan di sosok teman-teman saya, keluarga, dan seseorang yang saya kasihi. Saya merasa bahwa di waktu di mana saya mengisolasi diri dari keluarga saya dan orang-orang terdekat saya, saya menggunakannya untuk belajar.

Saya juga menaruh kebahagiaan saya di dalam nilai-nilai yang saya raih. Bila saya mendapatkan nilai yang baik, maka saya akan bahagia. Bila saya mendapat nilai yang jelek, itulah harga diri saya, itulah tingkat kecerdasan saya. Tanpa sadar, selama ini saya sudah melanggar hal-hal yang sering saya bilang ke orang lain.

Saya sering menyampaikan bahwa kita semua harus bahagia dengan mencintai diri sendiri. Saya sendiri mengharapkan bahwa saya sudah pernah dan selalu bisa menghadapi seluruh tantangan yang ada di dunia ini, masa saya tidak bisa menghadapi tantangan yang saya hadapi sekarang? Saya memiliki pandangan kalau saya adalah orang yang patut dihargai orang lain dan banyak orang harusnya menyukai saya. Tentu saja, hal-hal ini muncul karena sejujurnya, saya masih merasa insecure dengan diri sendiri.

Advertisement

Saat kamu insecure, kamu akan menaruh harga diri, kebahagiaan, dan kesuksesan kamu kepada hal-hal duniawi. Kamu akan mengharapkan bahwa ada orang lain yang akan selalu menyelamatkan kamu dan membuat kamu bahagia. Kamu akan selalu menaruh kenyataan atau cara kamu melihat hidup melalui orang lain. Kamu merasa tidak percaya diri dan kamu membutuhkan semua orang untuk menyukai kamu senantiasa. Kamu tidak mau berubah dan belajar. Kamu hanya mau berada di zona nyamanmu.

Tanpa sadar, saya sepertinya agak melangkah mundur ke zona insecurity saya. Saya kembali merasa minder dengan diri saya. Saya menaruh atribusi untuk dicintai diri saya dari tampang saya. Saya melupakan bahwa saya sebenarnya memiliki banyak atribusi lain yang juga baik. Saya lupa bahwa saya bisa studi lagi. Saya lupa bahwa saya bisa sekolah di sekolah yang bagus.

Saya lupa bahwa keluarga saya termasuk keluarga yang open minded dan mereka mendidik saya untuk selalu rajin dan mau bekerja keras. Saya lupa bahwa saya memiliki orangtua yang mendidik saya untuk menghargai setiap orang apa adanya dan untuk tidak menjelekkan orang yang dianggap rendah di masyarakat. Orangtua saya selalu bilang bahwa saat kita sombong, Tuhan bisa mengubah nasib kita kapanpun.

Hidup itu selalu berputar. Ada saat di mana kita berada di atas, ada saat di mana kita berada di bawah. Saya lupa bahwa saya adalah orang yang senang mempelajari dan terbuka dengan petualangan. Saya senang berkenalan dan berteman dengan banyak orang.

Saya senang membaca buku dan saya belajar bahwa bila saya merasa bahwa saya adalah orang yang paling pintar, maka saya adalah orang yang bodoh. Saya bisa membaca banyak buku dan berkunjung ke banyak tempat, tetapi saya tidak akan pernah bisa menguasai semua ilmu di dunia ini. Sejujurnya, masih sangat banyak pengetahuan yang kita belum ketahui dan tidak akan bisa kita konsumsi selama kita hidup di dunia ini.

Saya melupakan kenyataan bahwa saya memiliki teman-teman yang mengasihi saya. Tentunya saya juga mengasihi mereka. Saya bersyukur bahwa saya memiliki teman-teman yang tidak pernah melihat atribut-atribut saya dan bisa mengasihi saya apa adanya. Saya mengingat zaman-zaman SMA dulu di mana kerjaan kita kebanyakkan adalah main, main, dan main. Kita belajar juga tetapi memang kita kebanyakkan main.

Saya ingat bagaimana betapa kita tidak mempedulikan orang lain (dalam hal yang baik) dan kita fokus terhadap geng kita sendiri. Saya mengingat betapa mereka membuat saya merasa berharga dan betapa bahagianya kita, kita tidak pernah kepikiran untuk mengusik atau mem bully orang lain. Buat apa? Toh kita selalu senang untuk main bersama dan saya bersyukur saya memiliki teman-teman yang menginspirasi saya untuk selalu menjadi versi yang lebih baik dari saya yang terdahulu.

Saya bersyukur kita masih sering kontak dan betapa pertemanan ini mengingatkan saya bahwa some things do last forever. Saya lupa bahwa di atas langit, selalu ada langit. Ya, selalu akan ada orang yang lebih pintar, dibilang cantik, disebut cakep, rajin, ambisius, dan lebih kaya dari setiap dari kita. Namun, ada pula orang yang taraf hidupnya berada di bawah kita.

Hal-hal ini saya ungkit bukan untuk menyombongkan diri saya sendiri. Saya hanyalah manusia biasa yang hidupnya juga banyak kesedihan dan perjuangan. Mungkin kamu tidak tahu hal ini, tetapi untuk memiliki pencapaian yang saya miliki sekarang, saya harus berjuang extra keras.

Saya selalu diremehkan sejak dahulu karena saya adalah orang yang berbeda dari orang lain di sekolah. Saya berjanji pada diri saya bahwa saya akan membuktikan ke orang-orang yang dulu merendahkan saya bahwa mereka salah. Dan memang saya telah bisa membuktikannya melalui banyak perjuangan yang banyak memakan energi dan waktu. Namun, ada sisi jeleknya di saat kita selalu ingin membuktikan kalau kita lebih baik dari perkataan orang.

Ya, kita menjadi orang yang ambisius dan kita lupa untuk merasa cukup. Kita berpeluang untuk menjadi orang yang selalu ingin lebih dan tidak pernah merasa bersyukur. Karena itu, kita harus selesai dengan diri sendiri. Apa maksudnya?

Kita belajar untuk tahu bahwa kita harus percaya diri dan tahu bahwa kita memiliki jalan yang akan kita lalui sendiri. Kita harus belajar bahwa kita tidak bisa selalu membandingkan diri kita dengan orang lain dan berharap bahwa kita akan meraih kesuksesan yang sama dengan mereka. Kita belajar bahwa kita harus bahagia tanpa mengandalkan orang lain. Ya, jangan pernah menaruh kebahagiaan kita di tangan orang lain. Sejujurnya, orang bisa mengubah pendapat mereka tentang kita. Orang lain bisa meninggalkan kita.

Terimalah diri kita apa adanya. Kita tidak perlu mendengarkan dan merasa bahwa kebahagiaan kita itu tergantung standard di masyarakat kita. Dunia ini adalah dunia yang tidak pernah merasa cukup. Dunia ini mengatakan bahwa kita harus selalu mencari uang, uang, dan uang. Kita harus punya mobil mewah, rumah yang besar dan banyak, dan pasangan hidup yang cantik atau cakep.

Kalau kita tidak puas, kita bisa tinggal ganti atau kerja lebih untuk mendapatkan uang yang lebih. Dunia tidak pernah mengajarkan kita untuk percaya diri dan menerima diri sendiri apa adanya. Efeknya, kita jadi membandingkan diri dengan orang lain. Karena itu, selesailah dengan diri sendiri. Kita tidak perlu harus memiliki suatu barang karena orang lain memilikinya.

Kita bekerja dengan tujuan yang benar: untuk menghidupi diri kita dan keluarga kita. Kita membeli sesuatu pun untuk diri kita, bukan karena kita ingin merasa berharga atau diperhatikan oleh orang lain. Tidak, kita tidak perlu harus menjadi sama seperti orang lain. Lagian, apa kamu yakin kalau orang yang mengatakan bahwa kita boleh jadi temannya kalau kita memiliki barang tertentu adalah teman yang sejati?

Saat kamu sudah selesai dengan diri sendiri, kamu juga akan bisa memaafkan orang yang dulu pernah menyakitimu. Kamu akan memiliki fokus hidup yang benar. Kamu akan menggunakan waktumu untuk hal-hal yang berguna. Kamu sadar bahwa hidupmu bisa berakhir kapan saja dan waktumu adalah hal yang berharga.

Kamu akan mulai bekerja keras, berani melawan ketakutanmu dan bisa mengejar mimpimu. Kamu sadari bahwa kritikmu tidak memiliki kekuatan atas hidupmu, kecuali kalau kamu mengizinkan orang lain mengendalikan hidupmu.

Pada akhirnya, kamu akan merasa damai. Kamu akan merasa bahwa kamu sudah mencapai tahap akhir, bahkan di usia yang muda. Semua hal akan menjadi jelas bagimu. Kamu akan tahu siapa dirimu dan kenapa kamu berada di dunia ini. Prioritasmu menjadi jelas. Kamu akan menemukan orang-orang yang berada di frekuensi yang sama dengan kedewasaanmu.

Kamu akan melihat bahwa hidup ini adalah sebuah anugrah yang luar biasa. Ya, memang kita masih akan menghadapi yang namanya sakit hati, penderitaan, kekecewaan dan banyak hal lainnya, tetapi kita akan mampu untuk melihat hal yang baik dari hal-hal tersebut. Life does not get easy, you just get stronger.

Kamu tidak perlu bersaing dengan orang lain. Kita semua berada di dunia untuk menjalani jalan hidup masing-masing. Satu-satunya orang yang akan menjadi sainganmu adalah dirimu kemarin. Kamu hanya perlu menjadi orang yang lebih baik dari dirimu kemarin?

Sudahkah kamu merasa cukup dan selesai dengan dirimu sendiri?