Mbah, apa kabarmu di sana? Aku tahu kabarmu pasti baik dan kini kau telah bahagia bersama mbah laki di atas langit sana. Mbah, cucumu ini rindu, rindu akan sapaan hangatmu. Rindu senyum manismu, rindu bermain bersamamu.

Kini aku telah tumbuh besar mbah, cucu yang selalu kau panggil bayi ini sudah besar, kini aku sudah jadi seorang mahasiswi. Dulu kau yang selalu temani aku, temani aku ke mana juga aku pergi. Kau yang selalu membelaku kala ayah memarahiku, memarahiku saat aku tak kerjakan PRku. Kau yang selalu temani aku, membelaku saat ibu juga memarahiku.

Dulu aku kerap sekali menginap di rumahmu dan aku selalu tak mau pulang kala ibu menjemputku bersama ayah. Saat kecil kau yang selalu temani aku mandi, mandi juga bermain bersama bebek karet kuning kesayanganku. Kala di rumahmu aku selalu tidur bersamamu, aku makan bersamamu dan aku juga suka sekali jajan bersamamu. Membeli berbagai makanan dan minuman di warung belakang rumah milik tetangga.

Suatu ketika saat kau yang berkunjung kerumahku, aku kira kamu telah pulang kerumahmu. Hingga dengan segala kenekatan, dengan air mata yang masih mengalir aku beranikan diri untuk menyusulmu, kala itu usiaku 4 tahun. Terang saja tindakan bodohku itu membuat semua orang panik bukan kepalang, kalian mencariku. Beruntung kala itu aku bertemu dengan tetangga rumahmu, yang bersedia mengantarkan aku pulang.

Saat sampai di rumah aku mendapati kau, ibu, juga ayah dengan raut wajah yang mengambarkan kecemasan luar biasa. Kala itu aku tak indahkan yang lainnya, aku langsung berlari menghampirimu yang kala itu memakai kebaya berwarna biru, dengan kain rapi.

Advertisement

Mbah, kini semua tinggal kenangan, karena kau telah tiada. Kau pergi tinggalkan aku, untuk selama-lamanya saat aku duduk dibangku kelas 8 SMP. Kau pergi tinggalkan aku, tinggalkan aku dengan kenangan-kenangan manis bersamamu. Meski kini kau telah tiada, namun kasihku tak akan pernah luntur, seperti kasihmu yang sungguh luar biasa untukku.

Mbah, aku rindu, rindu saat kau masih ada. Aku rindu bermain bersamamu, aku rindu kau mbah. Tapi mbah, maafkan aku, maafkan aku karena aku tak mau menyusulmu dalam waktu dekat ini, aku tak ingin ikut bersamamu Mbah. Bukan karena aku tak rindu kau, bukan karena aku tak sayang kau. Tapi karena aku masih punya sejuta mimpi yang harus aku wujudkan, aku juga ingin bahagiakan ayah dan ibu.

Aku ingin rasakan nikmatnya mengurus ayah dan ibu kala mereka telah renta nanti. Seperti Ibu yang tak pernah lelah mengurus dirimu kala kau renta, kala kau tak berdaya. Mbah, doakan aku ya. Doakan cucumu ini dari atas langit sana, doakan agar semua mimpiku terkabul, doakan agar aku bisa bahagiakan ayah, ibu.

Cucumu ini sekarang sudah besar, sudah 18 tahun mbah. Sayang, kau tak bisa temani aku hingga aku sebesar ini. Waktu kami bersamamu memang begitu singkat mbah, waktu begitu cepat berlalu. Hingga kin tanpa terasa kau telah pergi tinggalkan kami, kau sudah pergi untuk selama-lamanya. Namun ,bah, kenangan ketika kita bersama tak akan pernah lekang dimakan waktu.

Meski kau telah tiada, namun namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Terima kasih Mbah.. Terima kasih atas segala kasih sayang, juga cinta luar biasa yang kau beri. Salam rindu juga sayang dariku, cucumu yang kini sudah beranjak dewasa.