Kau kini sudah lebih jauh dari matahari. Aku tak bisa menemukanmu. Aku tak bisa melihatmu. Aku hanya berandai-andai dengan imajinasiku bahwa kau berada beberapa meter di hadapanku, berlari kecil seolah mengajakku untuk mengarungi dunia bersama. Rambutmu yang belum sempat kusentuh, bertebaran di udara. Senyum lebarmu merekah sempurna.

Dulu, aku adalah tembok bagimu. Aku. Bukan kekasihmu, bukan siapapun. Aku menjadi tempat dimana kau melemparkan kantung yang penuh dengan muntahan masalah. Denganku kau bercerita tanpa henti, bahkan sampai aku tahu bahwa di balik tawamu, ada tangisan yang terus menyesak hingga menyentuh batas terkuat. Tak ada yang bisa kulakukan selain membiarkanmu menangis bersamaku. Aku ingat betul masa itu.

Aku takkan khawatir jika kau menemukan tembok baru yang jauh lebih kokoh. Namun, aku tak yakin disana masih banyak yang mau mendengar ocehan tanpa hentimu. Kau sendiri yang bilang padaku. Satu-satunya yang menguatkanku kala itu adalah perasaan ini, yang kini menjadi bumerang bagi pertemanan kita.

Aku bukan baru mengenalmu dalam dua-tiga hari saja. Jauh dari itu, sampai aku paham benar bagaimana menjaga perasaan ini agar tak keluar menjadi siluman yang akan menciptakan chaos diantara kita. Aku berusaha menutupnya rapat-rapat karna kutahu, kau pun sedang tak sendiri. Namun lama kelamaan, aku tak mampu lagi membendungnya. Mulut kemudian berbicara terlalu banyak, dengan lantang pula seakan tak lagi punya tuan. Inilah yang lalu menjadi gap, awal kehancuran dari semuanya.

Aku kemudian bercerita ini dan itu denganmu. Aku membicarakan masa depan kita, seolah kau pun setuju untuk kelak hidup denganku. Aku mengatakan ingin lagi bertemu denganmu, seakan kau sudah benar-benar menjadi milikku. Kita pun kemudian berbicara apa adanya. Hati dengan hati. Garis norma itu telah memblur bersama hamparan perasaan yang entah bagaimana wujudnya.

Advertisement

Suatu ketika, kau menyadarkanku bahwa kau adalah miliknya. Aku sontak dengan kecepatan sekian mili detik, berpindah alam. Aku terpisah dari khayalan gilaku bersamamu. Ruang imajinasiku yang penuh warna seakan tak menyisakan warna lain selain hitam. Jantungku melemah. Paru-paruku basah.

Aku lalu menjadi liar. Dengan penuh amarah dan kekecewaan menghakimimu bahwa hubungan kita sudah mulai keluar jalur. Aku mengatakan bahwa kita tak perlu lagi berteman. Kita sudah tak bisa lagi seperti yang dulu. Aku seakan benar-benar mantap dengan apa yang telah aku katakan. Kau mengiyakannya. Kau hilang.

Sebentar kemudian, kosong mulai menghampiriku. Separuh jiwaku menyesal, yang lainnya masih kekeuh dengan apa yang telah terjadi. Yang paling kontras adalah, aku jauh lebih keras memikirkanmu. Batinku gaduh. Tiap sebentar aku menatap layar itu berharap ada balasan darimu. Namun nihil. Pada akhirnya, seluruh jiwa ini menyesali perbuatannya.

Aku mengirim puluhan pesan maaf kepadamu. Beberapa humor pun kuselipkan. Entah kau atau aku, salah satu dari kita seakan lenyap.

Bodohnya aku kala itu telah menerapkan prinsip nasi telah menjadi bubur, kayu telah menjadi arang. Aku terlambat menyadari bahwa pertemanan kita bukanlah bubur atau kayu, juga bukan reaksi kimia manapun. Hubungan kita adalah hubungan antar manusia. Dan manusia adalah aktor yang bermain dalam panggung kehidupan. Kita bisa saja seenaknya bermusuhan, kemudian esok mengarungi hidup bersama. Kita adalah aktor. Namun, aku terlambat meyakinkanmu tentang itu. Kau sudah menutup diri rapat-rapat, bahkan jika aku menjadi partikel pun, aku tetap tak bisa masuk ke dalamnya.

Tulisan ini tidaklah sempurna. Ia terlalu banyak menyisipkan ilmu sains dalam paragraf terakhir. Maklum, aku hanya membiarkan hati ini menggerakkan jemari, merangkai kata demi kata hingga kau mau membacanya sampai akhir.

Satu hal yang kau perlu tahu, aku tak pernah jenuh menantikan kita yang dulu

Dariku, yang pernah menjadi bagian hidupmu