Apa kabar kamu? Laki-laki munafik, narsis sok tampan dan sok sukses? Maaf, jika aku memanggilmu demikian dan kau tak berkenan. Hanya itu kesan yang kuingat darimu. Tak ada satupun sisi baik yang kuingat, kecuali kau termasuk manusia yang diciptakan lebih baik daripada makhluk lainnya. Meskipun pada kenyataannya, kelakuanmu justru lebih buruk. Setidaknya menurutku.

Kau jangan senyum-senyum begitu membaca sapaanku. Jangan kau pikir aku merindukan pesonamu. Aku hanya rindu untuk memaki-maki dirimu. Itu saja. Bukankah telah lama aku diam dan tak memedulikan keberadaanmu? Dan entah kenapa tiba-tiba aku ingin menulis tentangmu lagi, dengan harapan semoga kau membaca ini dengan tuntas, dengan akal sehat. Agar kau ingat tentang dosa besar yang pernah kau perbuat. Agar kau sadar kau bukan makhluk suci. Agar kau tahu bahwa di dunia ini, ada orang yang menganggapmu barang paling menjijikkan di dunia. Jadi kau jangan besar kepala.

Hey pria jahat,

Ku katakan sejujurnya bahwa aku sebenarnya sudah lama melupakan pengkhianatan yang kau buat. Banyak hal lebih penting yang harus ku pikirkan. Hingga pada suatu sore, ketika aku tengah menikmati kopi favoritku selepas pulang kerja, dalam sebuah obrolan santai, orang yang paling berharga dalam kehidupanku melempar sebuah topik.

“Entah apa balasan yang akan Tuhan berikan kepada orang yang telah menyakiti hati ibu begitu hebatnya. Hal itu meninggalkan rasa trauma dan sakit sampai sekarang…“

Advertisement

Aku tersentak. Kopiku terjebak di antara kerongkongan dan rongga mulutku. Amarah yang telah padam kini berkobar-kobar lagi di mataku. Terlebih melihat ekspresi wajah beliau yang jelas-jelas menampakkan sakit hati.

Kau!!! Sungguh kau adalah orang paling kejam di dunia. Bukan. Kau bukan orang. Kau adalah iblis. Hanya seorang iblis yang bisa membuat ibuku yang tegar, kuat, dan sabar, sampai merasa terluka sedemikian rupa.

Kau tahu, saat aku mendengar itu, ingin rasanya aku mencarimu dan melenyapkanmu dari dunia ini. Aku tak peduli hukum, aku tak takut penjara. Karena ini berurusan dengan perasaan orang yang sangat ku sayangi, yang bahkan dulu menyayangimu juga. Tapi aku sadar bahwa diriku adalah manusia, ciptaan Tuhan yang mulia. Aku tak mau sepertimu yang tidak memanusiakan dirinya sendiri, hingga aku tidak mengakuimu sebagai layaknya manusia.

Aku hanya mulai membencimu lagi. Mengingat banyak hal menyakitkan yang telah ku kubur dalam-dalam. Yang kemarin telah berlalu bukanlah kesalahan biasa, itu adalah kesalahan luar biasa yang bahkan membuat luka yang tak kunjung sembuh di hati seseorang yang paling kucintai.

Aku menyesal pernah mengenalmu. Aku menyesal bertemu denganmu lagi dan menjadi dekat setelah kita sempat terpisah. Seharusnya tak pernah ku mainkan rasa untuk mencintaimu. Seharusnya ku acuhkan dirimu sampai kau akhirnya bosan mendekatiku.

Sialnya, kita malah menjalin cinta di usia yang sudah cukup matang. Hubungan kita akan segera dipatenkan dalam ikatan pernikahan. Kau terima segala kekuranganku. Demikian juga denganku, yang menerima setiap mili kekuranganmu. Bahkan termasuk menerima dengan lapang, dirimu yang sudah tidak perjaka lagi. Aku dulu ikhlas menerima kamu yang sudah bekas akibat keperjakaanmu yang malah kau berikan pada pacar-pacarmu terdahulu. Kalau mengingat itu, kadang aku bergidik ngeri mengapa aku bertindak sedemikian bodoh.

Ya, benar. Kita akan menikah waktu itu. Sudah banyak hal-hal yang kita siapkan. Tentang lamaran, tentang resepsi, mas kawin. Manis sekali…

Sayangnya manis itu tak berlangsung lama. Ketika aku sedang asyik-asyiknya merancang konsep pernikahan kita, kau malah memberikan hadiah spesial padaku. Sebuah ungkapan sederhana yang membuat aku shock. “Kita tak bisa lanjutkan hubungan kita”.

What?

Kau pikir kita sedang bermain petak-umpet, yang ketika kau lelah kau bisa berhenti kapan saja? Ini pernikahan. Ini ikatan suci. Dan kau memberhentikan begitu saja, seperti anak kecil yang pamit pulang karena disuruh emaknya mandi? Helloo, otakmu di mana?

Dan kau tampak semakin menyebalkan, ketika mengutarakan alasan-alasan yang tidak masuk akal. Soal raslah, soal keluargalah, asal-usul daerah. Bukankah dari awal kita sudah berjanji untuk memperjuangkan itu? Lalu, setelah sekian lama, menyerah begitu saja?

Sudahlah, toh waktu itu aku tak berlama-lama menahanmu. Setelah kau begitu ngotot untuk mengakhiri hubungan kita, aku lebih memilih mengalah. Percuma meneruskan sebuah hubungan dengan paksaan. Aku biarkan kau pergi dengan begitu banyak spekulasi yang berkecamuk di otakku. Dan benar, kau memang pergi untuk wanita lain. Mengaku saja kau, penipu!

Dan meskipun patah, tapi aku adalah wanita kuat. Malah tanpamu, aku bisa melakukan banyak hal yang tak bisa kulakukan saat bersamamu. Aku justru merasa lebih baik dan produktif. Aku menemukan banyak hal baru dan dalam hal ini, mungkin bolehlah aku berterima kasih padamu.

Lukaku sembuh total. Memang aku tidak langsung menemukan tambatan hati yang baru, tapi lukaku sudah sembuh. Aku menikmati kesendirianku. Dan tentangmu, sudah enyah dari pikiranku. Bahkan saat kau dan wanita penggoda itu menikah, aku tidak merasakan sakit yang berarti.

Namun tidak demikian yang terjadi pada Ibuku. Luka yang kau buat tetap menganga di hati beliau sampai saat ini. Bahkan di saat aku telah berbahagia dengan hati yang lain, beliau masih merasakan “nelangsa” dan mengingat dengan baik apa yang pernah kau perbuat.

Hey pria pembohong, aku sudah banyak mengatakan tentang kebahagiaanku bersama pria lain yang kucintai kepada ibuku agar beliau sedikit terhibur. Namun, kuucapkan selamat saja padamu, nampaknya kamu harus hidup dalam kebencian beliau. Mungkin ibuku tidak berarti apa-apa. Ibuku tidak bisa menyuruh Tuhan untuk menghukummu atau memakai tangannya sendiri untuk membuat kau menderita. Tapi beliau adalah seorang ibu, seorang wanita, dan tentu kau masih ingat, betapa kalian dulu sudah seperti ibu dan anak betulan.

Di penghujung tulisan ini, aku ingin mengingatkan diriku sendiri untuk memperbanyak kebaikan, berhati-hati dalam bertindak, bertutur kata, bersikap, dan berjanji. Karena setiap orang akan menuai apa yang telah ia tanam. Dan karma pasti akan melakukan tugasnya dengan benar. Semoga kau juga selalu ingat hukum alam itu.