Saya sangat bersyukur atas kehidupan yang saya jalani saat ini, menempuh pendidikan yang jauh dari tempat di mana saya dibesarkan dari bayi hingga remaja tetapi harus mendewasa ditempat rantau.

Saya sudah pernah menuliskan pengalaman di mana saja mengahadapi masa remaja SMA yang menyenangkan di blog pribadi dengan sangat detail, juga telah menuliskan bagaimana saya sudah sangat menerima dan bangga atas diri saya yang berbeda di blog pribadi juga.

Saat ini saya ingin menuliskan sedikit opini sederhana khas mahasiswa (sebelum status mahasiswa saya kadaluarsa tentunya) saya di Facebook, kenapa bukan di blog lagi? Karena setelah menyaksikan pidato Obama di Acara Diaspora Indonesia yang mengatakan bahwa “Generasi Digital Indonesia banyak yang berkecimpung dan berkelana dengan Kreatifitas di Facebook” saya merasa tergelitik dimana merasa menjadi generasi muda yang belum pernah menjadi salah satu generasi muda yang memanfaatkan Facebook dalam berkreatifitas dan hanya dapat memanfaatkannya untuk main Game di tengah ngerjain skripsi. 


Well, lanjut ke tema awal, kenapa wanita harus merantau? Sekali lagi merantau ini pilihan, tetapi sangat disarankan menjadi pilihan sebelum benar-benar menentukan langkah mengabdikan sisa hidup dengan seseorang, entah itu merantau untuk menempuh pendidikan atau untuk mencari pengalaman di dunia kerja.


Saya terinspirasi oleh kata-kata sahabat saya satu jurusan yang menuturkan bahwa untuk melihat baik buruknya tempat di mana yang kita tinggali, kita harus merantau. Merantau digunakan sebagai pembanding suatu sistem di kedua daerah yang berbeda latar belakang dengan menentukan fokus pembeda. Saat itu diskusi kami membahas mengenai Politik, yess politik, bukankah politik menjadi pembahasan khas mahasiswa yang mengaku dirinya aktivis kampus? Dengan membandingakan tipe kepemimpinan daerah asal dan daerah rantau, dan mengetahui dimana persoalan didaerah asal yang kemungkinan dapat diselesaikan dengan cara kepemimpinan di daerah rantau (sok idealis yaa, maklum diskusinya pas semester 5).

Advertisement

Syukur-syukur bisa jadi bupati ya, hehe. Ngebahas politik dan tipe kepemimpinan Tuban, nggak usah dijelasin detail ya, cukup jadi pengamat yang berusaha cerdas saja. Merantau juga akan membuka wawasanmu tentang berbagai hal yang ditempat tinggalmu tidak ada, ini sangat menarik, misal ditempat asal saya Tuban, tidak ada macet dan ditempat rantau saya Surabaya keluar gang kost saja sudah macet parah.

Di Tuban Wanita yang keluar malam akan dinilai kurang pantas (malamnya jam 20.00 WIB yaa, bukan jam 02.00 WIB) tetapi di Surabaya kota yang tidak pernah mati, masih menawarkan sejuta pesona dan sejuta ilmu di tempat nongkrong, Ngopi (Ngobrol Pintar) itu perlu, buat apa? Nyari wifi, nyari relasi, nyari ilmu, dan nyari yang lain kalo nemuin sih.

Saya mau jawab pertanyaan yang sering di tanyain ke saya selama di Surabaya dan di Tuban tentunya yang bisa dijadiin pertimbangan untuk merantau.

1.    Jet Leg nggak sih dengan Tuban yang gini, terus Surabaya yang gitu banget. Gitu apanya, metropolitan banget? Yes, awal-awal emang gitu, kan mahluk hidup juga butuh adaptasi lingkungan baru kan? Sekarang sudah berasa Surabaya rumah kedua, punya 2 tempat tinggal berbeda banget geografis dan sosialnya itu seru dong, apalagi kalo bosen. Tinggal ganti suasana aja.

2.    Betah enggak di Surabaya? Betah banget, malah berasa dimanjakan dengan serba kemudahan di Surabaya seperti sinyal 4G, Wifi dimana-mana, pesan makan tinggal pencet HP, pesan ojek pencet HP, pesan apapun pencet HP kali ya, kecuali pesen Surga yaa… kanan kiri Mall. Mau apa-apa ada. Seru.

3.    Enakan Tuban apa Surabaya? Enak semua dengan indikator serunya masing-masing. Di Surabaya nggak ada Hutan, udara nggak bersih jadi soal memanjakan mata dan paru-paru masih juara Tuban. Di Tuban nggak ada mall, akses sulit, dari segi mobilitas Surabaya juara.

4.    Setelah Lulus mau Tetep di Surabaya apa mengabdikan ilmu di Tuban? Mengutip dari omongannya Gita Savitri yang ditanya seperti itu jawabannya: saya mengikuti garis Tuhan dimana akan menjadi saya lebih baik dan lebih berguna, dimana saya merasa saya memiliki berbagai relasi dan lebih diterima ditempat itu. Karena setiap ilmu dapat diterapkan dimana saja. Percaya yang digariskan Allah SWT bukan berarti menyerah tetap memiliki cita-cita dan pandangan kedepan tetapi tetap menggantungkan kepada yang diatas.

5.    Mau berkarir? Yes, karena wanita mandiri lebih menarik dan lebih menjadi tujuan hidup saya.

6.    Masih mau merantau ketempat lain lagi? Yes. Sangat tertarik. Ingin membedakan Surabaya dan Tuban dengan tempat lain, enggak sekarang , nunggu relasi, nunggu persiapan matang. Tapi juga sebelum memutuskan mengabdi.

Tertarik, Untuk merantau? Apalagi yang baru lulus SMA atau SMP. Kalian dijamin tidak manja lagi, mandiri! Ini hukum alam, karena belajar di kampus atau disekolah nggak ngajarin kemandirian, jadi kalian perlu belajar diluar. Apalagi wanita yang akan menjadi guru nonformal pertama perlu belajar,perlu cerdas perlu berpengalaman luas.

Tulisan ini diakhiri kata-kata RA.Kartini yang sangat menginspirasi :


Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya :)