Hope, Wish, Expectation, Pray. Mana yang lebih baik di antara itu? Dan mana yang lebih menyakitkan?

Perempuan berkata : "Semua laki-laki sama ajah".

Laki-laki berkata : "Perempuan tuh negative thinking terus bawaannya".

Tidak akan ada asap kalau tidak ada api, pribahasa itu mungkin benar.

Si laki-laki berkata demikian, mungkin karena sebagian besar perempuan adalah tipe pencemburu, namanya cemburu ya negative thinking terus bawaannya, selalu curiga.

Advertisement

Si perempuan berkata hal demikian mungkin karena pengalaman kisah cintanya yang tak pernah berujung manis. Karena selalu dikecewakan. Tentunya gak akan kecewa kalau saja tidak berharap kan? Kata "berharap" apakah mengacu pada hal yang negatif? apakah didasari dengan rasa curiga, cemburu, dan pikiran negatif lainnya?

Tentu bukan, berharap pasti didasari oleh hal-hal positif seperti percaya dan yakin. Hal demikian sejalan dengan konsep Husnudzan bukan? Yaaa kita memang tidak boleh berburuk sangka, kita harus selalu berbaik sangka kepada siapapun. Karena berbaik sangka menjauhkan kita dari penyakit hati.

Tapi pada kenyataannya, kita seringkali kesulitan membedakan antara husnudzan dan ekspekstasi. Ketika kita terlanjur percaya kepada seseorang, seringkali kita justru kecewa oleh opini yang kita tanamkan sendiri.

Jadi masih mau bilang bahwa "Perempuan itu selalu negative thinking?". Justru kita keseringan "High Expectation" yang berakhir kecewa.

Orang bijak berkata : "Jangan salahkan orang yang mengecewakan kita, tapi salahkan diri kita sendiri yang terlalu berharap pada mereka".

Mungkin itu benar, seharusnya ada dinding pembatas antara husnudzan dan ekspektasi. Wanita seringkali di-judge sebagai mahluk yang lebih mengandalkan perasaan daripada logika.

Kalu begitu : "Perempuan terlalu mementingkan perasaan, yang membuatnya terlihat bodoh, sedangkan laki-laki lebih mengandalkan logika sehingga membuatnya terlihat tak punya perasaan".

Adil bukan ?

Wanita boleh saja mengikuti kata hatinya, dengan tidak mengesampingkan pikirannya.

Pastikan orang yang kau cintai hari ini, yang kau banggakan itu benar-benar layak untuk dicintai.

Pastikan juga orang yang membuatmu berharap itu benar-benar orang yang layak kau harapkan.

Seharusnya ada dinding pembatas antara husnudzan dan ekspektasi. Semoga kita bisa menempatkan diri, kapan harus ber-husnudzan, dan kapan harus berekspektasi.