Teriak sana-sini, komentar kanan-kiri, kritik keras orang yang tak sependapat dengannya tanpa memberikan saran. Ia urusi hidup orang dengan membabat habis lewat kata-kata pedasnya, hey, tanpa sadar ia buang-buang waktu bung!

Tak jarang kita menemukan beberapa orang di sekeliling kita yang memiliki sifat seperti ini, nyinyir dalam perkataan, mengkritik tanpa saran, bentak sana-sini, tak terkecuali kita sendiri. Bisakah kita sedikit menyempatkan waktu kita untuk berpikir bahwa setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan, entah dalam segi fisik maupun materi, bahkan dalam pola berpikir.

Jika memang nyinyir itu adalah sifat bawaan dari sejak lahir, cobalah untuk merubahnya, atau jika sikap nyinyir itu adalah bawaan adat dari suku atau daerah tempat kita tinggal, ya cobalah memahami adat orang lain, karena yang hidup di dunia ini bukan hanya kita saja loh.

Memahami orang lain ternyata lebih sulit daripada kita meminta orang lain agar memahami kita, buktinya kita selalu egois dalam setiap hal dan selalu menuntut agar keinginan kita selalu terpenuhi. Ya mengkritik boleh saja, tapi jika sering diiringi dengan sikap nyinyir ya tetap tidak baik plus tidak enak di dengar, toh orang yang suka nyinyir biasanya hanya bisa suruh sana-sini, lontarkan perintah, bully orang lain dan sindir kanan-kiri, tanpa merasa dirinyalah yang belum melakukan apa-apa.

Bukankah disebutkan dalam salah satu syair tentang adab seorang pelajar

Advertisement


“dan ketahuilah bahwasannya diam adalah hiasan yang paling menghiasi jika memang kamu tidak memiliki ilmu dengan yakin”


Arrgh, sudahlah, isi waktu kita dengan hal-hal positif, jangan terlalu sering komentari hidup orang, bukankah lebih baik kita intropeksi terlebih dahulu diri kita masing-masing.