Saya sering dengar orang bilang, “Pada dasarnya..”

Wah, sebuah kalimat yang menurut saya sangat tidak enak.

Biasanya kalimat ini lengkapnya adalah, “Pada dasarnya semua orang itu baik.” “Pada dasarnya semua pilihan sama saja.” “Pada dasarnya saya terserah.” Dan ketika dibahas lebih lanjut, ternyata ‘pada dasarnya’ itu jauuuhh sekali dari dasar. Mungkin yang dimaksud adalah permukaan tapi yang dikatakan adalah pada dasar.

Saya sebenarnya sangat setuju bahwa ‘pada dasarnya’ semua orang baik. Sayang, kita semua ini bukan dasar. Yah, jujur saja sudah banyak orang yang keluar dari dasar. Jadi memang sudah bukan jamannya kita bicara soal ‘pada dasarnya’ karena dasar ini sudah tidak relevan.

Semua orang waktu lahir ‘pada dasarnya’ memang baik. Semua makanan ‘pada dasarnya’ memang baik. Tapi setelah diproses dengan sedemikian rupa, hal yang mendasar ini sudah hilang. Jadi sudah sangat tidak cocok bila kita bicara tentang dasarnya lagi.

Advertisement

Contohnya begini, pada dasarnya kentang itu baik. Sehat dan merupakan sumber karbohidrat yang tidak menggemukkan bila dimakan secara bijak. Namun ketika kentang itu sudah diproses menjadi kentang goreng, mashed potatoes berbumbu mentega, keripik, dan kawan-kawannya, kentang itu sudah tidak lagi bagus. Apa masuk akal jika kita masih bicara bahwa kentang goreng itu baik? Tentu tidak karena ‘pada dasarnya’ tadi sudah lenyap tinggal ampasnya.

Begitu juga dengan manusia. Saya yakin 100% bahwa setiap manusia pada dasarnya baik. Menurut saya, setiap orang dititipi oleh yang maha kuasa sebuah hati nurani. Kita tahu mana yang baik mana yang buruk. Mana yang salah mana yang benar. Seiring dengan bertambahnya usia kita juga akan belajar banyak hal. Memelajari norma, aturan, hukum, dan sebagainya. Sampai sejauh itu, bila semua berjalan dengan baik, maka kemungkinan besar kita bisa menjadi orang yang ‘pada dasarnya’ baik. Namun saat membicarakan persona yang sudah dewasa, masihkah perlu kita bertumpu ‘pada dasarnya’?

Di sini semua jadi lebih rumit. Dalam berhubungan dengan orang lain, saya sebenarnya cukup berpegang pada prinsip ‘pada dasarnya’. Namun pengalaman mengajarkan saya untuk tidak sepenuhnya percaya pada dasarnya tadi. Sepertinya, jauh lebih penting bagi kita untuk melihat aspek-aspek lain di luar dasarnya.

Saat disakiti, dijahati, ditipu, dilukai oleh orang lain, saya sering bertanya-tanya bukankah semua orang ‘pada dasarnya’ baik? Mengapa mereka tega melakukan perbuatan jahat? Tidakkah mereka sadar seharusnya tindakan melukai itu tak boleh dilakukan?

Lalu saya sadar bahwa perbuatan jahat itu ada dua jenisnya. Jahat yang memang jahat dan jahat yang hanya di permukaan. Jahat yang memang jahat itu adalah perbuatan di mana pelakunya memang jahat. Mereka berniat buruk, melakukan hal buruk, dan ketika sukses, mereka merasa senang berhasil melakukannya. Berbeda dengan jahat di permukaan. Jahat ini adalah perilaku yang Anda kira jahat padahal sebenarnya maksud orang itu baik. Bisa saja terjadi miskomunikasi atau salah sangka sehingga Anda merasa dijahati padahal niat orang itu baik. Sering terjadi bukan?

Jadi asas praduga tak bersalah ‘pada dasarnya’ bisa Anda terapkan pada mereka yang jahat di permukaan. Memang mereka ‘pada dasarnya’ baik namun mungkin kesalahpahaman membuat kalian cekcok. Tapi untuk mereka yang jahat sejahat-jahatnya, tolong jangan labeli mereka dengan ‘pada dasarnya’ tadi. Percayalah Anda malah akan sakit hati. Anda akan pusing sendiri mempertanyakan mengapa orang yang ‘pada dasarnya’ baik bisa berlaku sedemikian jahat pada Anda. Itu sama saja dengan berharap mendapatkan nutrisi kentang rebus dari french fries yang dijual restoran fast food.