Ketika kita memilih untuk jatuh hati, secara bersamaan kita juga telah memilih mengambil kemungkinan terburuk untuk patah hati. Setiap orang tidak ada yang ingin ditempatkan pada situasi yang menyakitkan, pun jua dengan diriku. Tapi aku sadar, ketika aku memilih untuk bersandar di beranda hatimu, artinya aku telah memiliki kesepakatan dengan cinta, bahwa aku siap jika tetiba dia menenggelamkanku jauh menuju palung terdalam dari perasaanku sendiri, tersesat dalam gelap, terombang-ambing tanpa pelita, tak tahu arah, hanya menengadahkan tangan sembari berharap akan ada yang membebaskanku dari gulitanya rasa cinta yang menggelapkan pandanganku.

Sakit tak terkira rasanya ketika kau kehilangan tanpa pernah memiliki. Tapi tidak, setidaknya aku pernah merasa memiliki, walau akhirnya harus diganti dengan rasa sakit tak terperi. Mungkin begitu akibatnya jika kita jatuh pada saat yang tak tepat. Jatuh pada saat yang tak semestinya kau terjatuh, atau mungkin aku telah salah menambatkan hatiku padamu? Oh, bagaimana bisa begitu. Bukan aku yang awalnya menyemai suka, tapi ia sendiri yang telah membidikku dan menautkannya dengan sukamu yang membuatnya berakhir cinta dan hari ini dibuat patah juga olehmu.

Kau tak paham, di sini, di dalam hatiku tersimpan ketulusan yang tak tehingga, sayang. Tak sampaikah ketulusan itu masuk menyusuri jantungmu hingga kau bisa merasakan detakan yang sama? Pernahkah kau mendengar walau hanya sebisik tentang lelahku? Tidak pernah sayang, karena tiada lelah bagiku untuk mencintaimu. Tapi hari ini, kau membuatkan pusara untuk perasaanku, kau sendiri pula yang akan menancapkan nisan bernama luka itu di atasnya. Kau jua yang menaburkan mawar-mawar hitam lambang dari duka itu. Mungkin kau merasa berduka dengan cinta tulusku. Begitukah sayang? Pantas saja, ketika aku mengetuk-ngetuk jantungmu, selalu takku dapati jawaban, selalu sunyi dan tak berdebar seirama dengan jantungku.

Aku kalut, aku larut dalam debaran rasaku, sendiri. Kupikir sayang, selamanya kau akan menyimpan rasa yang sama denganku, ternyata tidak. Kaitnya tak lagi terpaut. Kau berjalan sendiri setelah menghempaskanku. Aku tersungkur dan sulit untuk bangkit lagi, sayang. Setidaknya, menolehlah sesekali untuk meleburkan rasa sakitku agar ia tak terhampar menyakiti bumi. Cukup aku saja yang terbenam jatuh dalam patah.

Katakan sayang, katakan! Aku ingin mendengar dari mulutmu, jika selama kau merasa terluka atas cintaku, katakan saja. Biar aku relakan kau pergi menjauh menjemput bahagiamu. Biarlah aku hanya menjadi sekelebat bayangan yang hanya bisa mengekori setiap derap kakimu tanpa bisa berjalan merengkuhmu.