Hai pribadi menawan yang dulu pernah menjadi priaku. Apa kabarmu disana?

Masihkah kamu mengingatku? Wanita yang dulu selalu kamu sebut rumah? Percayalah.. Aku merindukanmu..

Siang ini aku dan beberapa teman kantor membicarakan pria idaman yang layak jadi pertimbangan. Apapun kriterianya, selalu namamu yang terbersit dalam riak pikiranku. Celoteh hati kecilku berkata 'Kamu memiliki semuanya' Apa yang mereka sebut layak untuk dipertimbangkan.

Kamu yang datang dan singgah dirumahku. Mencoba mengakrabkan diri dengan kedua orang tua dan menarik perhatian adik-adikku. Membawakan makanan yang diinginkan nenekku. Tertawa bersama keluarga besarku diruang tamu.

Kamu yang selalu menggenggam bukan hanya tangan tapi juga hatiku. Yang selalu merasa lebih sakit saat aku sakit. Meneteskan airmata sesaat setelah membentakku. Menjagaku seperti menjaga saudara perempuanmu sendiri. Memandang jauh kedalam mataku saat aku berbohong. Memarahiku saat aku tidur larut malam, tidak teratur makan, dan marah untuk menutupi rasa khawatirmu saat sakitku kambuh akibat kecerobohanku menjaga kesehatanku.

Aku selalu menikmati kebersamaan kita. Ada perasaan lain saat aku berada disisimu.

Rasa nyaman, aman, dan percaya. Aku masih hafal betul rasanya saat tanganmu mengusap lembut rambutku ketika ku sandarkan kepala dipundakmu yang begitu tegap dan melindungi. Aroma tubuhmu yang selalu membuatku ingin memejamkan mata, saat kedua tanganmu mendekapku erat seolah tak ingin membiarkan apapun memisahkan kita. Kamu yang selalu merasa jatuh cinta setiap kali melihatku sekalipun tanpa riasan diwajah.

Advertisement

Kamu yang memutar otak mencari jalan keluar saat masalah datang menghimpitku. Kamu yang selalu merindukan kabarku disela-sela kesibukanmu. Kamu yang menceritakan kepada teman-teman dan keluargamu betapa luar biasanya aku dan betapa layaknya aku mendampingimu. Kamu yang menyingkirkan banyak hati wanita demi menjaga perasaanku. Kamu yang selalu memasukan aku dalam setiap rencana kecil maupun besarmu.

Dunia rasanya mau runtuh saat kusadar keadaan pada akhirnya akan memudar. Perubahan-perubahan kecil yang mebuatku semakin tahu inilah, akhir perjalananku untuk memilikimu. Andai kamu tahu, itu sangat menyakitiku. Bagiku, kamu seperti refren dalam lagu. Barisan kata dan nada yang paling menyita rasa. Kamu juga adalah rangkaian kata yang selalu begitu manis untuk aku jadikan bahan obrolan dengan Tuhan.

Aku merasa begitu terluka saat semua yang kita miliki, terpaksa harus direlakan pergi perlahan-lahan.

Tapi jangan khawatir, seperti yang selalu kamu bilang, aku adalah wanita hebat yang tidak akan terjatuh begitu saja saat didera masalah. Seperti itulah aku akan menghadapi perpisahan kita.

Suatu saat nanti, aku akan mampu melupakanmu. Seperti mereka yang pernah hadir sebelum kamu. Memberi harap, kemudian mendorongku ked asar jurang. Aku pasti akan dapat melupakanmu. Kelak kamu hanya akan jadi bagian yang pernah penting dalam hidupku. Bahkan saat nanti keadaan mungkin mempertemukan kita lagi. Aku pasti bisa bersikap biasa, sebagaimana aku akan bersikap terhadap teman-temanku yang lainnya.

Aku sangat berterimakasih padamu. Terimakasih karena pernah hadir, mengajarkanku banyak hal, kemudian pergi tanpa pernah mengajarkanku bagaimana caranya bertahan tanpa kamu.

moonelika.blogspot.com