Kurang lebih 50 m dari rumahku, warung makan yang terkenal dengan kenikmatan tahu lontong dan tahu bumbunya berdiri tegak dan siap melayani siapapun yang datang. Tentunya untuk makan, bukan nonton film.

Warungnya sangat sederhana, dengan potongan bambu kecil-kecil dan panjang yang dipasang vertikal menjadi dinding. Terasa nyaman bersama semilir angin menerpa, sembari nyruput es ketan ireng atau es kacang ijo, soft drink favorit warung itu. Aahhh… nuwikmat.

Namanya Yuk Sri, begitu para pelanggan biasa memanggilnya. Umurnya kisaran 45 tahun. Tapi wajahnya masih tampak segar dan cerah. Mungkin karena terbiasa senyum pada para pelanggan. Ya senyumnya pasti ibadah dunk, menciptakan nuansa ramah, bukan tebar pesona.

Oh iya, apa perbedaan tahu bumbu dan tahu lontong? Tahu bumbu disajikan tanpa unsur lontong, dan tahu lontong, ya tahu kombinasi dengan lontong. Gampang toh. hehe….

Setiap membeli tahu bumbu/lontong, saya suka mengamati setiap pelanggan yang makan di warung itu, salah satunya model makan. Objek favorit pengamatan saya adalah para pekerja kasar (kuli bangunan, driver truk atau pick up dkk) yang sudah berusia paruh baya, ya kisaran >35.

Advertisement

Mula-mula mereka memesan minuman segar. Lalu diminum sedikit sambil mengusap keringat dan melepas dahaga. Mereka tampak lelah tapi tersirat bahagia di setiap kerutan wajahnya. Selang beberapa menit, makanan datang. Sudah menjadi kebiasaan, sebelum menyantap mangsanya, mereka akan mengambil beberapa krupuk untuk pelengkap makan.

Satu, dua, tiga, krauk-krauk, ceglek dan paduan suara antara mulut, gigi, dan lidah bersama-sama mengiringi santapan yang masuk demi keberlangsungan hidup cacing-cacing perut. "Biar nggak demo mulu mas…"

Ada semacam sensasi lahap yang tak ditemukan pada tipe manusia lain. Terlihat sangat menikmati. Padahal ya ndak terlampau nikmat tuh makanan, apalagi seperti sponsor makanan di televisi. Nggak blass…

Tapi entah kenapa, setiap melihat mereka. Lihat makannya lho, iya makan. Nafsu (makan) saya bangkit. Jangan suudzhon, bacanya yang teliti mblo, saya laki-laki tulen kog, masih cinta mbak-mbak keturunan mama Hawa.

Satu hal yang membahagiakan, makanan yang mereka lahap, bisa dipastikan tersapu bersih. Mungkin karena lapar yang terasa menghujam. Tapi apapun itu, tak menyisakan makanan di atas piring adalah perbuatan yang terpuji, langka.

Paman saya pernah bercerita, ada logika miring yang dimiliki bangsa ini. Banyak orang berdiskusi dan berbicara tentang kemiskinan di hotel bintang lima. "Saya sering mengamati ketika mereka makan." Ternyata masih banyak sisa-sisa makanan layak makan justru terkapar di piring mereka. Apa-apaan ini, di forum mereka habis-habisan mengkritik pemerintah dan berbicara tentang nasib dan kepedulian rakyat miskin. Di sini… Ah kalian bisa menilai sendiri seperti apa mereka.

Paman masih terus bercerita. "Suatu ketika kawan saya membeli makanan, ya semacam prasmanan. Bisa ambil sesuka hati dan sebanyak yang disukai. Tentunya dengan mengajak beberapa kawan dekatnya. Selesai makan, kawan saya menuju kasir untuk membayar tagihan."

Ya katakan saja total tagihannya 100rb. Anehnya si kasir menyodorkan 2 tagihan. Artinya total 200rb. Kawan saya ini kemudian protes.

"Kog bayar dua kali lipat?"

Kemudian kasir menjawab, "100rb untuk makanan anda dan 100rb lagi for this (menunjuk sisa makanan di piring)"

So guys, Ojo sampek

"Your eyes bigger than your stomach."

Rodok inggrisan, ben tetep gaul..

Mangan ya mangan, mung ojo mangan tok… Nggonoo…

Makan sih makan, tapi jangan cuma makan… Begituu…