Penyakit umum dari cerita adalah sama, gak jelas, gak seru, mainstream. Mungkin ada yang lainnya lagi, tapi di artikel ini gue akan fokus membahas apa yang membuat sebuah cerita menjadi seru.

Apakah untuk membuat cerita menarik, kita butuh tema yang menarik?

Karena kita sadar bahwa antara cerita satu dengan yang lainnya mungkin punya tema sama, tapi yang satu jelek, sedangkan yang lain seru. Kita juga sadar bahwa untuk menciptakan karya yang 100% original, yang nggak mirip dengan karya lainnya itu impossible.

Nothing new under the sun, semua ide original udah habis! Jadi saya gak menganjurkan kamu untuk menghabiskan energi memikirkan tema apa yang menarik untuk digarap.

Apakah untuk membuat cerita menarik, harus mirip dengan cerita-cerita yang laris manis di pasaran?

Advertisement

Kalau seperti itu jalan keluarnya, sudah pasti industri film Indonesia mendunia. Karena kita sangat gak pinter dalam mengadopsi karya orang lain dan menjadikannya karya orisinal, sehingga ujung-ujungnya dikatain "plagiat"!

Rumus cerita yang menarik yang bisa kamu terapkan dalam metode apapun, entah itu komik 4 panel, atau iklan 15 detik, atau sinetron 5000 episode terletak pada bagaimana kamu menggarap konflik.

Kamu harus memperhatikan konflik!

Alasannya adalah karena konflik merupakan alasan kenapa sebuah cerita terjadi. Dengan kata lain, tidak ada konflik, tidak ada cerita. Kalau kamu mau menceritakan sesuatu tanpa konflik, jadinya jokes tanpa punchline; GARING!

Nih contoh cerita tanpa konflik :

Ibu pergi ke pasar. Di pasar dia membeli ubi. Setelah membeli ubi, dia pulang ke rumah lalu memasak.

THE END.

Apa yang akan terjadi bila kamu membaca cerita seperti itu?

Kalau saya sih langsung tutup buku/ganti channel dan move on.

Ini juga yang menjadi alasan kenapa iklan-iklan asuransi Thailand bisa menyentuh dan mengharukan tapi iklan asuransi Indonesia gak terlalu begitu. Karena jujur saja, saya melihatnya orang-orang Indonesia sangat menyepelekan konflik. Kita lebih mengandalkan unsur teknis visual dan audio. Banyak animator Indonesia yang jago-jago, komikus yang gambarnya keren-keren, tapi apakah ceritanya cukup bagus? Saya katakan jarang ada komikus Indonesia yang sadar bahwa untuk bercerita ada tekniknya. Komikus gak sekadar menggambar jago, tapi seorang komikus juga harus jadi pencerita jago.

Bayangkan andai artikel itu berhenti sampai di atas saja. Saya yakin pasti kalian kecewa dengan ending nggantung seperti ini. Karena gak seru, gak worthed untuk dibaca, membuang-buang waktu dan gak ada tujuannya. See?

Maka dari itu, inilah rumus cerita yang baik :

awal > konflik > penyelesaian

Si Budi si pengecut pergi ke pasar. Dia perlu membeli kentang untuk makan. Tapi di pasar tidak ada kentang. Maka Budi pergi ke pasar sebelah. Tapi dalam perjalanan dia dirampok begal. Budi melawan. Budi menang. Budi sampai di pasar sebelah dan membeli kentang. Budi pulang membawa kentang dan kini orang menyebutnya "Budi si Pemberani".

Bila kita perhatikan dari kilasan cerita sederhana di atas, ada satu hal penting yang dihasilkan oleh cerita yang baik : petualangan.

Petualangan adalah perjalanan. Ada sesuatu yang bergerak dari suatu tempat ke tempat lain. Ya, kalian benar bila menurut kalian petualangannya adalah Budi pergi ke pasar. Tapi, bukankah cerita garing tentang ibu pergi ke pasar itu juga ada petualangannya? Nah, maka dari itu, kita yang ingin jago bikin cerita ini harus paham bahwa ada suatu bentuk pengalaman lain yang jauh lebih penting daripada petualangan yang sangat obvious tersebut.

Petualangan yang sesungguhnya adalah bagaimana Budi si pengecut memberanikan diri melawan preman, sehingga ketika dia pulang dari pasar dia sudah bukan pengecut lagi.

Itulah inti dari cerita, ada sesuatu yang terjadi yang mengubah sesuatu. Cerita adalah cara menyampaikan pesan dalam bentuk seni. Tidak melulu harus pesan moral, namun si penulis harus punya tujuan kenapa dia menceritakan cerita tersebut. Bila kamu ingin bercerita karena kamu ingin berpesan bahwa "kita harus berani melawan penindasan", itu bagus. Kalau pun ingin seperti Akira Toriyama, "bercerita karena ingin membuat orang lain senang", tak masalah. Yang penting ceritamu juga harus bisa menjadi petualangan bagimu sendiri. Penulis berpetualang melalui cerita yang dia sampaikan, begitu juga pembaca. Orang meluangkan waktu untuk menikmati sebuah cerita karena mereka berharap dapat menemukan petualangan seru di dalamnya.

Sebagai penutup, biarkan saya mengutip kata-kata seorang story guru, Brian McDonald :

"Ketika zaman berganti, unsur visual tidak lagi penting, karena semua akan ketinggalan zaman. Yang tersisa adalah bagaimana cerita itu bekerja."