Air mata itu mulai ada

Rabu 11 september 2013 ayahku meninggal dunia, tak pernah ku sangka ini terjadi, kecelakaan itu merenggut nyawa ayah ku, aku melihat sosok ayah ku yang tak biasanya, aku tidak bisa melihatnya lagi karena tubuhnya telah tertutup kain berwarna hijau, ku coba menahan air mata ini karena kata orang kita tak boleh menangis karena hujan di luar sana itu tangisan ayah mu. Katanya ayah ku jauh lebih sedih di banding aku.

Tapi aku gila aku depresi aku ingin membunuh diriku sendiri, semua orang berkata “Adek sabar, ikhlasin ayah mu biar tenang hanya doa yang bisa kau lakukan sekarang ini”. “Diam kalian, kalian tak tau perasaan aku, melihat orang yang paling ku sayangi di dunia terbaring tak bernyawa”. Kata kata terakhir tak ku dengar, kalian tak tahu, berbulan-bulan aku tak bertemu ayah ku, dengan hp saja aku menghilangkan rasa rindu ku tapi sekali aku ketemu dalam keadaan tak bernyawa. Tuhan luka ini menyakitkan, katanya tuhan sayang pada makhluk nya tapi kenapa begini tuhan.

Ayah ku tak bernapas lagi

Ayahku telah pergi, ibuku seorang diri. Mengapa engkau pergi terlalu cepat meninggalkan kami yang belum tau taat, meninggalkan kami yang butuh bimbingan, untuk mencapai kesuksesan. Kami hanya bisa berdo’a, agar engkau nyenyak dialam baka.

Advertisement

Sejak ayah meninggal dunia, Rumah bagai kapal tak bernahkoda. Dan para awak tidak tahu apa-apa. Kami anak-anaknya. Bagai ayam tidak ada induknya. Kenangan indah bersama. Hilang selamanya. Bagai badai tiada habisnya. Jika hal itu ku kenang. Aku ingin menangis. Sampai air mataku habis. Aku ingin berteriak.

Ayah…
Izinkan aku bertanya. Jika ini kehendak yang kuasa. Aku hanya bisa pasrah. Dan berkata. Selamat jalan ayah. Kini luka ini menimpa ku, luka yang tak bisa di sembuh kan, walau dengan dokter sekalipun, aku berjerit bahkan aku mencubik tubuhku berkali kali ayah ku tak kan kembali. Ku lihat nisan bertulis nama ayah ku, “Itu nama ayah ku. Andai boleh nyawa ini untuk ayah ku, aku ikhlas meninggal kan dunia ini selamanya tapi sayang nya ini sudah kehendak tuhan”.

Proses penguburan, ya ayah ku akan di masukan dalam tanah ini, ini takdir ku ayah ku pergi tak pernah ku sangka, rasanya melihat ayahku dimasukkan dalam tanah membuat ku tak bisa menahan tangis lagi ku tak berdaya untuk berdiri lagi aku terjatuh tapi bukan terjatuh karena tersandung tapi ku terjatuh karena ku tak sanggup menahan luka, tubuh rasanya tak berdaya, darah ku tak mengalir kalau tuhan menghendaki biar aku meninggal juga biar ku bisa bersama ayah ku.

Pemakaman selesai, turunlah hujan, aku kembali ke rumah melihat rumah ku ramai sekali menangis dan menangis, ibuku histeris dan saudara ku tidur tak berdaya dan aku sendiri hanya termenung melihat di tengah keramain ini ayah ku tak ada lagi, rasanya aku ingin mati saja, rasanya aku ingin sekali ayahku mengajaku pergi bersamanya. Ku ingin tidur agar bisa ku bermimpi ayah ku di saat aku tidur ku bermimpi ayah ku duduk dengan tersenyum tapi ku aneh ku tak bisa menghampiri nya ku hanya bisa melihat, ayah ku tak berbicara juga sungguh aneh”.

Apakah benar di mimpi ku itu ayah ku, atau kah itu hanya bunga tidur, ku terbangun dan saat itulah ku termenung hingga makan pun tak berselera. Di malam tahlilan semua orang membaca yasin, sekarang aku membaca yasin buat ayah ku yang telah meninggal. Ku tak mendengar langkah sentakan kaki ayah ku lagi, “Aku tak punya ayah lagi!!!!!!”.

Kini ku hanya bisa lakukan hanya mendoakan ayah ku. Tuhan kumohon ambilah nyawa ku ini, beri sama orang yang membutuhkan aku tak membutuhkan nyawa ini yang ku butuh kan bertemu ayah ku berada di dekatnya.

Hari demi hari berlalu ini adalah malam 40 hari ayah ku, iya membaca yasin tapi kali ini yasin nya beda, bedanya karena ada foto ayah ku, ku menangis lagi karena ku tak bisa melupakan ayah ku. Luka ini begitu menyakit kan ku entah kapan akan sembuh ku tak tahu. Tuhan adakah pilihan lain dalam hidupku

Beberapa hari ini kulewati, ku merenung ternyata semakin lama semakin ku merinduhkan ayahku. Di saat aku jatuh sakit ku merinduhkan ayah ku yang mengantar ku ke dokter, aku takut jalanin hidup ku ini sekarang, kehidupan yang hanya bernapas saja tak ada lagi cerita yang indah. Kadang ku bermimpi namun mimpi yang tak jelas ku hanya merasakan ada ayah ku di mimpi ku. Ku tertawa-tawa untuk menutupi luka ku ini, ku berusaha tutup telinga saat teman teman ku sedang membanggakan ayah nya, ku coba menutup mata saat teman-teman ku di jenguk ayahnya dipesantren. Kata Tuhan kita tak boleh iri oleh punya orang lain. Tapi ku mohon Tuhan ampuni aku karena aku iri pada teman ku tapi bukan aku tak iri terhadap barang barang yang ia punyai tapi aku iri karena mereka mempunyai ayah.

Tuhan engkau memberi cobaan pada makhluk tidak melewati kemampuan nya. Tapi kalau boleh jujur Tuhan aku tak mampu melewati cobaan ini, aku harus ikhlas iya aku ikhlas ya Allah demi ketenangan ayah ku. Tapi kalau boleh minta aku tak ingin hidup di dunia ciptaan mu ini ya Allah aku jenuh Tuhan bukan berarti aku menentang mu tapi aku justru menghargai mu ya allah aku tak mau merepotkan mu tiap doa-doa ku panjatkan ku selalu mengeluh padamu. Tapi kalau tak ingin mengambil nyawa ku ini adakah pilihan untuk ku Tuhan. Pilihan untuk memilih antara masa sekarang dan masa lalu bila engkau memutar kan waktu itu aku akan memilih kembali ke masa lalu Tuhan. Masa dimana aku masih hidup tanpa rasa sakit, masa dimana aku masih bisa menangis karena haru. Bukan karena kesedihan melihat ayah ku menghadap mu.

Ku coba menerima hidup dan nasib, bisa tampak berantakan, misterius, fantastis dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan. Jika hidup ini seumpama rel kereta api dalam eksperimen relativitas Einsten, maka pengalaman demi pengalaman yang menggempur kita dari waktu ke waktu adalah cahaya yang melesa lesat di dalam gerbong di atas rel itu. Relativitasnya berupa seberapa banyak melesat lesat itu. Analogi eksperimen itu tak lain, kecepatan cahaya bersifat sama dan absolut, dan waktu relatif tergantung kecepatan gerbong. Maka pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana, dan secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain.

Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalaman yang pendek mencerahkan sepanjang hidup. Pengalaman semacam itu bak mutiara dan mutiara dalam hidup ku. Kini ku mulai menerima dan belajar mengiklaskan apa yang terjadi di hidup ku, aku tak boleh termenung hingga kemudian ku menyesal. Sudah cukup ku melewatkan waktu dengan menangis itu semua tak ada gunanya, pengalaman itu tak kan ku lupakan, kini ku tak kan menyia-nyiakan orang tua ku satu satunya. Ku kan belajar dari pengalaman ku sadari Tuhan itu tak memberi apa yang ku minta melainkan Tuhan memberi apa yang terbaik untuk ku, semua yang terjadi pada ku ini semua ada hikmah Tuhan hanya menunggu untuk menunjukkan itu pada ku. Aku masih sangat beruntung karena Tuhan selalu ada untuk ku menenang kan ku dan memberi kekuatan menghadapi semua itu. Hingga ku sadari sekarang betapa buruk nya sikap ku terhadap ayahku, sering ku membantah apa yang ia perintah kan, kini ku sadari betapa bodoh nya aku. Ku menyia-nyiakan waktu bersamanya dan hal itu tak kan ku ulangi kedua kali nya