Bagi seorang pecinta atau yang sedang berikhtiar untuk mencintai, jangan harap proses mencintai dan berada dalam kondisi mencintai akan lancar, mulus dan tanpa kendala. Namun sebaliknya para pecinta harus bersiap-siap menghadapi berat dan terjalnya ujian dan godaan dalam mencintai. Setidaknya ada tiga hal yang akan menjadi ujian bagi seorang pecinta untuk meraih hakikat cintanya.

Ujian tersebut adalah IKHLAS, SABAR dan ISTIQOMAH.

Ikhlas akan menjadi ujian pertama yang akan dihadapi oleh para pecinta dan pemburu cinta hakiki. Tidak mudah menghadapi ujian pertama ini. Namun bagi pecinta sejati keikhlasan akan menjadi jalan hidup yang akan terus dijalani. Imam al-Ghazali tokoh tasawuf yang sangat masyhur menyatakan bahwa ikhlas memiliki hakikat, prinsip dan kesempurnaan.

Prinsip ikhlas adalah niat, sebab dalam niat itu terdapat keikhlasan. Sedangkan hakikat ikhlas adalah kemurnian niat dari kotoran apapun yang mencampurinya, dan wujud kesempurnaan ikhlas adalah kejujuran. Hakikat, prinsip dan kesempurnaan ikhlas inilah yang harus dimiliki oleh para pecinta untuk menaklukkan ujian yang pertama.

Ujian cinta yang pertama ini akan bisa dilewati jika para pecinta memperkuat tiga pilar keikhlasan yaitu niat, keikhlasan niat dan kejujuran. Tidak akan ada cinta tanpa ada niat, tidak akan ada cinta yang murni dan hakiki tanpa adanya keikhlasan niat dan cinta akan rusak tanpa adanya kejujuran.

Advertisement

Bagi para pecinta sejati, keikhlasan akan bermuara pada yang menciptakan rasa cinta dan pemilik cinta yaitu Allah SWT. Sehingga niat, keikhlasan niat dan kejujuran benar-benar dijalankan karena Allah SWT. Menjalankan ibadah, pengabdian dan ketaatan dijalankan hanya karena Allah SWT. Petunjuk ini yang menginspirasi Adibal Syahrul, sehingga menciptakan lagu yang berjudul “Cintai Aku Karena Allah” (CAKA). Lagu dengan makna yang cukup mendalam tentang keikhlasan cinta ini berhasil membawa Novi Ayla KDI menjadi sangat terkenal setelah menyanyikannya dengan genre bernuansa pop islami.

Hakikatnya memang para pecinta harus mencintai karena Allah, tidak karena sesuatu hal atau lainnya. Ini jawaban ujian keikhlasan, ujian cinta yang pertama. Selanjutnya jika para pecinta telah menyelesaikan ujian cinta yang pertama tentang keikhlasan, maka ada ujian kedua tentang kesabaran. Sabar akan menjadi ujian berat kedua bagi para pencinta untuk mencapai cinta hakikinya. Karena sangat beratnya sabar, tidak jarang bahasan ini sering diulang-ulang dalam kajian-kajian keislaman. Sebagian ulama tasawuf memaknai sabar dengan makna “memenjarakan”. Maksudnya adalah memenjarakan hawa nafsu. Benar-benar ujian berat bagi para pecinta dan pemburu cinta hakiki.

Dalam ihya ulumuddin-nya, Imam al-Ghazali membagi sabar dalam tiga tingkatan yaitu sabar dalam menerima ujian dari Allah, sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah dan sabar dalam menjauhi segala yang dilarang oleh Allah. Sabar memang menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan bagi para pecinta. Meski tak jarang hawa nafsu selalu menggoda, berusaha menggoyahkan tembok kesabaran yang ada pada diri. Ujian kesabaran memang akan terus dihadapi oleh para pecinta, karena ini memang proses memurnikan cinta yang hakiki. Ini yang akhirnya menghasilkan “kesabaran dalam cinta”. Ujian ketiga bagi para pecinta adalah istiqomah.

Sebagaimana ujian pertama dan kedua, ujian ketiga inipun tak kalah beratnya. Istiqomah dalam khazanah istilah tasawuf mengandung makna “keteguhan”. Jadi ini merupakan wujud keteguhan para pecinta atas keikhlasan dan kesabaran yang dimiliki.

Bagaimana perjuangan para pecinta dalam menunjukkan rasa cinta yang dilandasi dengan keikhlasan dan kesabaran. Ini sulit, bahkan bisa dikatakan benar-benar sulit. Karena tak jarang para pecinta tidak dapat mempertahankan keteguhannya untuk terus mencintai. Namun bagaimanapun juga hal itu harus tetap diikhtiarkan.Salah satunya dengan kesungguhan keikhlasan dan kesabaran.

Setidaknya inilah tiga ujian yang akan dihadapi oleh orang yang akan menempuh jalan cinta. Ujian berat yang harus terus diusahakan untuk bisa lulus. Semoga kita bisa Ikhlas, Sabar dan Istiqomah dalam jalan cinta kepada Allah SWT, Semoga kita bisa Ikhlas, Sabar dan Istiqomah dalam mencintai Suami/Istri, Anak dan Keluarga kita. Sehingga kita bisa benar-benar merasakan hakikat cinta. Salam Cinta.