NAY, Perempuan yang Berdosa karena Dibuang.

Sebagai seorang yang idealis pun juga kritis serta memang sangat concern dengan berbagai isu mengenai perempuan dan kekerasan (yang memang sangat dekat), tentu bukanlah hal yang mengagetkan lagi untuk seorang Djenar Maesa Ayu menulis sebuah cerita seperti NAY. Sebuah cerita yang mengisahkan tentang pergolakan seorang perempuan modern yang secara tiba-tiba dihadapkan pada dua pilihan, yakni cita-cita dan cinta, atau lebih tepatnya sebuah tanggung jawab. Sebenarnya ini adalah cerita yang sangat sederhana, cerita yang akan sangat mudah kita temui dalam kehidupan perempuan di masyarakat.

Coba ingat, berapa kali kita menjadi saksi orang-orang sekitar kita, bahkan teman semasa sekolah yang tiba-tiba hamil, kemudian harus memilih menjadi ibu? Atau melanjutkan sekolah. Di sini pun demikian. NAY dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan menjadi artis yang sudah menjadi impian besarnya sejak dulu, atau melakoni peran sebagai ibu karena kini NAY tengah berbadan dua, bahkan masalah ini langsung ada pada bagian perkenalan tokoh di awal cerita. Sebagai seorang perempuan modern, tentu seharusnya pilihan ini menjadi sangat mudah untuk diputuskan, mengingat sudah banyak berceceran dokter-dokter profesional yang bersedia melakukan operasi aborsi dengan aman dan sesuai prosedur, bahkan dapat dikatakan semi legal. Seharusnya, masalah ini sudah dapat selesai sejak awal.

Tapi kemudian, perlahan, audience dibawa untuk mengetahui masa lalu NAY. Tentang seorang anak yang bahkan sama sekali tidak mengenal sosok sang ayah. Bukan karena ayahnya meninggal, atau sudah bercerai, atau ayahnya jarang pulang. Tapi karena ayahnya sendiri tidak mau mengakui NAY dan bertanggung jawab pada ibunya bahkan sejak NAY belum ada di dunia. Perasaan dilema kemudian datang. NAY yang selama ini ternyata diketahui selalu mengutuki ibunya karena tidak pernah mampu menghadirkan sosok seorang ayah itu seakan seperti sebuah bumerang yang sedang berbalik arah. NAY, dengan perut yang telah diketahui membungkus sebuah janin itu seakan dihujani kutukan yang selama ini ia curahkan kepada sang ibu. Menghadirkan seorang Ayah untuk anaknya yang selama ini NAY anggap mudah, seakan menjadi sesuatu yang tidak mungkin.

Kenapa?

Advertisement

Karena ternyata lelaki yang sudah menghamili NAY adalah seorang pria yang jauh dari kesan bertanggung jawab, atau bahkan mandiri. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa BEN (pacar NAY) adalah ‘anak mami’ yang sangat tergantung pada keputusan ibunya. Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan yang selama ini NAY jalani. Kehidupan NAY dengan sang Ibu memang sudah buruk sejak awal. Bukan hanya karena Ibunya tidak memiliki suami sehingga dia menjadi kehilangan sosok ayah, tetapi juga karena tindak kekerasan yang selama ini diterima NAY dari orang yang sama. Hal tersebut membuat NAY menjadi sangat benci dan menyimpan dendam pada sang Ibu, dan perilaku BEN yang sangat mengagung-agungkan Ibunya membuat NAY semakin muak dan menjadi murka.

Keputusan Ibu BEN yang sama sekali tidak merestui hubungan NAY dan anaknya itu pun menyeret kita pada kehidupan di masyarakat luas. Pandangan dan stigma bahwa wanita yang hamil duluan adalah wanita murahan, pelacur, yang bisa ditiduri oleh semua lelaki, kemudian perlahan (tapi pasti) ikut meracuni pemikiran audience. Semua penonton diam. Kaku. Mungkin sanking penuhnya dengan amarah (apalagi penonton perempuan), seakan penonton sedang sama-sama ingin menumpahkan dan meneriakkan rasa sakit yang sama. Semua pernyataan Ibu BEN seakan menjadi perwakilan dari pandangan dan pendapat semua orang mengenai seorang wanita yang tengah hamil duluan. Semua itu adalah dosa wanitanya, kebodohan si wanita yang tidak bisa menjaga keperawanan, dan “harga” si wanita kemudian langsung anjlok bak barang return. Sedangkan laki-laki dianggap wajar menghamili perempuan. Mengapa? Karena mereka laki-laki. Wajar bukan?

Setelah menginjak pertengahan, cerita ini kemudian menjadi sangat complicated. Gejolak yang ada di batin NAY semakin menjadi-jadi. Apakah ia tetap teguh dengan ambisinya untuk mengejar cita-cita menjadi artis dengan merontokkan janin yang terlanjur bersarang di rahimnya, atau ia ingin menunjukkan pada at least dirinya sendiri bahwa ia adalah perempuan yang lebih baik dari ibunya. Bahwa dia bisa membesarkan anaknya dengan penuh cinta kasih dan menghadirkan sosok seorang ayah? Hal yang dianggapnya telah gagal dilakukan oleh Ibunya sendiri yang selama ini NAY salahkan.

Mungkin goals dari cerita NAY bukanlah pada keputusan akhirnya untuk tetap mempertahankan atau melepas kandungannya, karena sampai akhir cerita, penonton akan tetap mendapatkan apa yang mereka inginkan. Di sini, Djenar seolah hanya ingin membawa penonton (atau lebih luas lagi masyarakat) untuk ikut merasakan kegelisahan setiap wanita yang tengah menghadapi kasus serupa. Memposisikan masyarakat untuk mau berpikir dari sudut pandang korban, yang mungkin selama ini mereka anggap penyebab. Sehingga mereka menjadi mengerti dan mengubah pandangan terhadap perempuan dan semua isu yang menyankut tentang perempuan.

NAY, Perempuan yang Berdosa karena Dibuang.

Sebagai seorang yang idealis pun juga kritis serta memang sangat concern dengan berbagai isu mengenai perempuan dan kekerasan (yang memang sangat dekat), tentu bukanlah hal yang mengagetkan lagi untuk seorang Djenar Maesa Ayu menulis sebuah cerita seperti NAY. Sebuah cerita yang mengisahkan tentang pergolakan seorang perempuan modern yang secara tiba-tiba dihadapkan pada dua pilihan, yakni cita-cita dan cinta, atau lebih tepatnya sebuah tanggung jawab. Sebenarnya ini adalah cerita yang sangat sederhana, cerita yang akan sangat mudah kita temui dalam kehidupan perempuan di masyarakat. Coba ingat, berapa kali kita menjadi saksi orang-orang sekitar kita, bahkan teman semasa sekolah yang tiba-tiba hamil, kemudian harus memilih menjadi ibu? Atau melanjutkan sekolah. Di sini pun demikian. NAY dihadapkan pada pilihan untuk melanjutkan menjadi artis yang sudah menjadi impian besarnya sejak dulu, atau melakoni peran sebagai ibu karena kini NAY tengah berbadan dua, bahkan masalah ini langsung ada pada bagian perkenalan tokoh di awal cerita. Sebagai seorang perempuan modern, tentu seharusnya pilihan ini menjadi sangat mudah untuk diputuskan, mengingat sudah banyak berceceran dokter-dokter profesional yang bersedia melakukan operasi aborsi dengan aman dan sesuai prosedur, bahkan dapat dikatakan semi legal. Seharusnya, masalah ini sudah dapat selesai sejak awal.

Tapi kemudian, perlahan, audience dibawa untuk mengetahui masa lalu NAY. Tentang seorang anak yang bahkan sama sekali tidak mengenal sosok sang ayah. Bukan karena ayahnya meninggal, atau sudah bercerai, atau ayahnya jarang pulang. Tapi karena ayahnya sendiri tidak mau mengakui NAY dan bertanggung jawab pada ibunya bahkan sejak NAY belum ada di dunia. Perasaan dilema kemudian datang. NAY yang selama ini ternyata diketahui selalu mengutuki ibunya karena tidak pernah mampu menghadirkan sosok seorang ayah itu seakan seperti sebuah bumerang yang sedang berbalik arah. NAY, dengan perut yang telah diketahui membungkus sebuah janin itu seakan dihujani kutukan yang selama ini ia curahkan kepada sang ibu. Menghadirkan seorang Ayah untuk anaknya yang selama ini NAY anggap mudah, seakan menjadi sesuatu yang tidak mungkin. Kenapa? Karena ternyata lelaki yang sudah menghamili NAY adalah seorang pria yang jauh dari kesan bertanggung jawab, atau bahkan mandiri. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa BEN (pacar NAY) adalah ‘anak mami’ yang sangat tergantung pada keputusan ibunya. Sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan kehidupan yang selama ini NAY jalani. Kehidupan NAY dengan sang Ibu memang sudah buruk sejak awal. Bukan hanya karena Ibunya tidak memiliki suami sehingga dia menjadi kehilangan sosok ayah, tetapi juga karena tindak kekerasan yang selama ini diterima NAY dari orang yang sama. Hal tersebut membuat NAY menjadi sangat benci dan menyimpan dendam pada sang Ibu, dan perilaku BEN yang sangat mengagung-agungkan Ibunya membuat NAY semakin muak dan menjadi murka.

Keputusan Ibu BEN yang sama sekali tidak merestui hubungan NAY dan anaknya itu pun menyeret kita pada kehidupan di masyarakat luas. Pandangan dan stigma bahwa wanita yang hamil duluan adalah wanita murahan, pelacur, yang bisa ditiduri oleh semua lelaki, kemudian perlahan (tapi pasti) ikut meracuni pemikiran audience. Semua penonton diam. Kaku. Mungkin sanking penuhnya dengan amarah (apalagi penonton perempuan), seakan penonton sedang sama-sama ingin menumpahkan dan meneriakkan rasa sakit yang sama. Semua pernyataan Ibu BEN seakan menjadi perwakilan dari pandangan dan pendapat semua orang mengenai seorang wanita yang tengah hamil duluan. Semua itu adalah dosa wanitanya, kebodohan si wanita yang tidak bisa menjaga keperawanan, dan “harga” si wanita kemudian langsung anjlok bak barang return. Sedangkan laki-laki dianggap wajar menghamili perempuan. Mengapa? Karena mereka laki-laki. Wajar bukan?

Setelah menginjak pertengahan, cerita ini kemudian menjadi sangat complicated. Gejolak yang ada di batin NAY semakin menjadi-jadi. Apakah ia tetap teguh dengan ambisinya untuk mengejar cita-cita menjadi artis dengan merontokkan janin yang terlanjur bersarang di rahimnya, atau ia ingin menunjukkan pada at least dirinya sendiri bahwa ia adalah perempuan yang lebih baik dari ibunya. Bahwa dia bisa membesarkan anaknya dengan penuh cinta kasih dan menghadirkan sosok seorang ayah? Hal yang dianggapnya telah gagal dilakukan oleh Ibunya sendiri yang selama ini NAY salahkan.

Mungkin goals dari cerita NAY bukanlah pada keputusan akhirnya untuk tetap mempertahankan atau melepas kandungannya, karena sampai akhir cerita, penonton akan tetap mendapatkan apa yang mereka inginkan. Di sini, Djenar seolah hanya ingin membawa penonton (atau lebih luas lagi masyarakat) untuk ikut merasakan kegelisahan setiap wanita yang tengah menghadapi kasus serupa. Memposisikan masyarakat untuk mau berpikir dari sudut pandang korban, yang mungkin selama ini mereka anggap penyebab. Sehingga mereka menjadi mengerti dan mengubah pandangan terhadap perempuan dan semua isu yang menyankut tentang perempuan.