Rasanya ini belum lama, ketika awal pertama kita disebut sebagai mahasiswa

Rasanya baru kemarin, kita mendaftar perguruan tinggi dan dikerjai kakak senior bersama-sama. Memakai kostum bawahan hitam serta atasan putih dan rambut dikepang tiga.

Sepertinya belum lama, ketika untuk pertama kalinya kita masuk ke ruang kuliah dan dimarahi dosen karena datang sepuluh menit lebih terlambat dari mahasiswa lainnya. Menghabiskan seharian di ruang organisasi, saling bertukar pikiran bahkan berdebat tentang politik atau agama yang tak ada ujungnya.

Cerita yang kita punya, mungkin tak sedramatis ABG di SMA. Tidak pula selebay anak-anak belasan tahun yang baru saja mengenal cinta. Tapi aku percaya, cerita kita tetap akan terkenang sepanjang masa

Ketika anak SMA memiliki cerita tentang belajar rumitnya matematika dan indahnya jatuh cinta, kita yang disebut mahasiswa mulai belajar untuk menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Tak ada lagi tanda tangan orang tua pada KHS, juga tak perlu membawa ayah atau ibu ketika kita harus mendapat nilai E pada mata kuliah tertentu.

Ketika di masa putih abu-abu orang tua kita dipanggil saat kita berantem di sekolah, kita harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri ketika kita membuat ulah di bangku kuliah.

Aku yang sebelumnya selalu bergantung pada orang tua, kemudian menemukan kalian yang kusebut keluarga kedua

Harus hidup jauh dari orang tua karena menuntut ilmu di luar kota, tak jarang membuatku meremang, merindukan kasih sayang keluarga. Kehadiran kalian yang kusebut sahabat seperjuangan, semakin meyakinkan kalau kalian pun juga layak disebut keluarga. Kalian selalu ada.

Advertisement

Berbagi dinginnya malam, hangatnya canda tawa, makanan, bahkan seluruh isi kepala yang paling rahasia. Bagiku, kalian adalah keluarga kedua yang kupunya.

Kita sama-sama anak muda yang haus pengalaman, berbagai perjalanan yang pernah kita lakukan, kelak akan menjadi kenangan yang lebih indah daripada kenangan bersama mantan.

Perjalanan selalu mengajarkan arti kebersamaan yang sebenarnya. Kelak nanti, perjalanan kaki-kaki kecil kita akan menjadi kenangan yang tak akan padam termakan usia.

Kalian ingat? Ketika menjelang liburan akhir pekan yang panjang tiba, kita selalu sibuk membuat daftar jalan-jalan. Berbagai destinasi kita datangi untuk sekedar menjejakkan kaki. Hanya dengan berbekal sebuah kamera DSLR pinjaman, kita sudah cukup bahagia asalkan kita bisa tetap mengabadikan momen terindah kita bersama.

Bahkan pernah suatu waktu, kita bertandang ke sebuah kota di mana kita belum pernah ke sana sebelumnya. Tak mengenal siapapun di sana, hanya berbekal GPS di android buluk kita dan mulut yang lebih dari sekedar ramah untuk bertanya. Menahan lapar bersama, makan nasi di pinggir jalan bersama, hanya demi mengirit ongkos agar bisa kembali pulang ke kota kita.

Terima kasih, untuk segala kasih sayang yang lebih indah dari cerita roman picisan. Untuk segala perhatian yang mengesankan.

Ini mungkin tak akan begitu kamu hafal di kepala, tapi aku yang menerimanya akan selalu mengingatnya sampai aku tua. Kalian yang datang dengan susu dan roti lengkap dengan parsel buah-buahan ketika aku sakit terbaring tak memiliki daya. Tepuk hangat kalian di bahu ketika gagal ujian datang melanda, bahkan sorakan kegirangan kalian pertanda turut bahagia ketika artikelku dimuat di majalah untuk pertama kalinya.

Tak terasa, sebentar lagi akan segera kita tuntaskan empat tahun kebersamaan kita. Bersama-sama kita akan segera mengenakan toga.

Tak ada cerita yang tidak ada habisnya, begitu pula kebersamaan kita. Ada rasa bahagia dan puas yang tiada terkira saat menyandang satu lagi gelar di belakang nama. Sehabis ini akan segera kita purnakan status mahasiswa kita. Namun bersama dengan itu pula, inilah pertanda kalau kebersamaan kita akan mencapai batasnya. Akankah kita masih bisa bersama?

Kita selalu saja memiliki rencana di depan mata, mendaftar CPNS atau bekerja di sebuah perusahaan ternama bersama-sama. Tapi seringnya, Tuhan selalu memiliki rencana yang tak terduga.

Aku sudah pernah mempelajari ini sebelumnya. Ketika SMA aku pun memiliki sahabat yang sama baiknya, ingin melanjutkan di universitas yang sama, namun terhalang izin Tuhan yang bukan main kuasanya. Begitu juga dengan kita, mimpi kita bisa jadi sama. Cita-cita kita, juga bisa saja sama.

Tapi mungkin kelak, tempat kita akan berbeda. Karena masing-masing orang selalu diciptakan dengan jalan hidup yang berbeda-beda.

Kelak nanti, kita tak bisa berjumpa sesering dulu. Tak bisa berbicara sehangat dulu.

Lama-lama, kebersamaan kitapun mungkin akan menjadi sebuah momen langka. Ketika dulu setiap hari kita bisa bertemu, besok mungkin setiap lebaran baru bisa bertemu.

Pembicaraan kita pun mungkin tak lagi sehangat dulu, hanya cerita-cerita formal tentang apa yang sedang kita lakukan dan pencapaian apa yang sudah kita dapatkan. Atau sebatas makan dan jalan-jalan ringan sambil berbagi cerita, bernostalgia mengingat kejadian zaman perjuangan.

Maaf jika mungkin nanti, aku tak bisa di sana ketika kamu diterima kerja untuk pertama kalinya

Mungkin aku hanya bisa menerima kabar ini lewat pesan udara. Aku lantas tak bisa lagi bertepuk girang dan memelukmu seperti ketika waktu IPK mu naik untuk pertama kalinya.

Aku tak bisa lagi makan makanan traktiranmu seperti ketika kamu lolos beasiswa. Sibuknya jadwal kerja yang menuntutku harus menahan semuanya. Tapi percayalah, aku turut bahagia mendengarnya.

Mungkin nanti, kelak kita baru akan bisa saling bertemu ketika salah satu di antara kita mengucapkan janji di depan penghulu. Digandeng oleh istri atau suami di altar pernikahan, siapa yang duluan? Kamu ataukah aku?

Kelak, satu per satu dari kita akan bergilir mengadakan pernikahan. Mungkin sebentar lagi, beberapa bulan lagi, atau setahun lagi, salah satu diantara kita akan segera memantapkan hati dan melangkah ke pelaminan. Ingat kan? kita pernah berjanji untuk saling mengundang.

Lalu kelak, kita pun akan segera mengosongkan jadwal dan datang dengan hati yang ringan. Menyaksikan sang mempelai melemparkan bunga dan berlomba-lomba untuk menangkapnya, lalu berharap jodoh akan segera datang.

Kawan, tak kusangka kita sudah semakin dewasa.

Menjadi dewasa adalah hal yang tak bisa kita sangkal prosesnya. Kebersamaan yang pernah kita punya, kelak akan menjadi pemanis dan pelengkap kehidupan kita. Akan menjadi sebuah cerita sejarah terhebat yang mungkin akan kita tuturkan pada anak cucu kita.

Terima kasih, untuk segala kebersamaan selama empat tahun yang tak akan pernah terlupa. Jika tiba saatnya nanti kita sama-sama mengangkat topi toga, hanya satu do’a sederhana yang kupunya: semoga kalian sukses dan sehat selalu.