Melewati bulan ramadhan di perantauan memang bukanlah hal yang gampang. Momen sahur dan berbuka merupakan dua hal yang sering membuat anak kost jadi 'baper'. Setiap kali tiba waktu berbuka hatipun harus kuat menahan kerinduan pada kampung halaman. Pasalnya, suap demi suap hidangan berbuka justru semakin mengingatkan pada masakan ibu di rumah. Apabila biasanya menunggu waktu berbuka denga bercengkrama bersama keluarga, maka di perantauan pun harus melewatinya dengan teman atau terkadang sendirian. Apabila biasanya menikmati masakan ibu, maka di perantauan pun harus mencari atau membuat makanan sendiri. Kalau sudah seperti ini rasanya lebih sedih daripada diputus oleh pacar.

Menjadi anak perantauan memang harus tabah. Saat harus melewati momen ramadhan di perantauan yang merupakan ujian bagi kemandirian. Ujian bagi kekuatan iman dalam menahan rindu pada kampung halaman. Perantauan juga merupakan ujian bagi kebiasaan. Apabila biasanya dibangunkan oleh ibu, maka anak perantauan harus menyetel alarm agar terbangun di waktu sahur. Tak ada hidangan yang telah tersaji, untuk menyantap makanan pun harus mandiri. Memang awalnya terasa berkecamuk dalam hati. Mencari makanan ke luar di tengah dinginnya sepertiga malam. Namun tetap akan terasa hangat bersama teman-teman seperantauan.

Sholat tarawih bersama keluarga pun menjadi momen yang sangat dirindukan. Kehangatan yang bisa jadi jarang dirasakan oleh mereka yang orangtuanya sibuk dengan pekerjaan. Apabila datang bulan ramadhan, kebersamaan dengan keluarga pun lebih terasa. Berbuka, berangkat sholat tarawih, dan makan sahur bersama adalah momen yang sangat dinantikan. Namun apalah daya jika harus melewati semuanya di perantauan. Media sosial pun menjadi lebih sering ditengok untuk berkomunikasi dengan ayah, ibu, kakak dan adik. Ada rindu yang menyeruak saat mengetik pesan di Whatsapp
, saat mendengar dan mengirim voice note, bahkan saat terhubung melalui skype. Biasanya Ibu kita yang akan lebih dulu bertanya "Nak, buka dengan menu apa?' "Nak sahur dengan menu apa?"

Barangkali jarak dan kerinduan lah yang akan mengajarkan kepada kita tentang arti kebersamaan. Jarak yang membentang antara perantauan dan kampung halaman telah menyadarkan kepada kita bahwa kasih keluarga memang tak tergantikan. Bersama mereka kita menemukan kebahagiaan yang mungkin belum kita sadari saat kita masih bersama. Sedangkan kini saat kita jauh dari mereka, kita pun menjadi tahu betapa berharganya momen ramadhan bersama keluarga.

Namun menjalani ramadhan di perantauan bukan berarti tak bisa dijalani dengan penuh kebahagiaan. Masih banyak teman yang senasib sebagai anak perantauan. Bersama mereka kita bisa berjuang bersama. Selamat menjalani bulan ramadhan..