Halo, apa kabarmu disana ? Aku harap kamu selalu baik-baik saja.

Tiada yang spesial dari tulisan ini, hanya beberapa untai kata yang memaksaku untuk menulisnya dan berharap akan kau baca.

Sayang.. Eh, izinkan aku untuk tetap memanggilmu sayang, setidaknya hanya disini aku bisa memanggilmu begitu.

Sayang,

Mereka bilang aku bodoh. Mempercayakan hati dengan beralaskan hubungan yang tak tau mulanya, bersama orang yang belum lama kukenal. Tapi dengarlah, hati ini akan tetap kokoh.

Advertisement

Sayang,

Mereka bilang aku gila, kita memang terpaut ratusan kilometer. Tapi doa tak pernah kenal angka. Begitu pun rasa, yang sanggup mengalahkan jarak.

Sayang,

Kita juga dipertemukan dengan cara yang gila. Dipertemukan tapi tidak pernah bertemu. Dua manusia yang tak saling meraga tapi menyimpan rasa.

Sayang,

Kamu tak pernah memberiku banyak petunjuk tentang apa yang ada dalam dirimu. Semua seperti kau rangkum dalam teks yang kau tulis sesingkat-sesingkatnya. Ah, tapi lagi-lagi aku meyukainya.

Aku menyukai setiap huruf yang kau ketik dan masuk ke dalam inbox ku. Aku suka caramu ketika tegas terhadapku. Aku suka caramu menyinyirku ketika aku berpakaian kurang sopan. Aku suka caramu memarahiku jika aku terlalu banyak minum soda.

Aku suka dengan sifat sederhanamu. Aku suka caramu bergaya di depan kamera dengan seragam kebanggaanmu. Aku suka mata sipitmu. Aku suka alis tebalmu. Aku suka hidung mancungmu. Aku suka kumis tipis dan sedikit jambang dibawah bibirmu. Aku suka kamu dengan kacamata kotakmu. Aku suka semua tentangmu.

Sayang,

Ada sekelumit pertanyaan yang terkadang melintas dikala merindu datang.

Sayang,

Tahukah kamu, aku selalu menebak tentang apa yang sedang terjadi saat ini. Tapi aku tetap memaksa otakku untuk mencoba merasa bahwa semua baik-baik saja.

Sayang,

Aku tak pernah menyalahkan keadaan. Semua sudah jalan-Nya. Tapi kenapa ? Kenapa kamu pergi dengan meninggalkan sebuah tanya ?

Sayang,

Kamu bilang biarlah semua menjadi rahasia. Yang jika terkuak akan ada pihak yang terluka. Maka ketahuilah, hati ini sudah terlanjur terluka.

Sayang,

Kamu bilang tak ingin aku kehilangan ceriaku karena rahasiamu. Tapi sadarlah, senyumanku sudah ikut kau bawa pergi.

Sayang,

Aku ingin menjadi tempatmu pulang, bukan hanya sekedar bersinggah. Ah, tapi itu hanyalah sebuah harap yang tak mungkin Tuhan kabulkan.

Sayang,

Hingga kini, kalimat yang pernah kuucap malam itu tak pernah berubah. Setiap koma, nada dan kata, semua akan tetap sama.

Sayang,

Terima kasih. Disaat yang lain meninggalkanku karena kecacatan ini, kamu bisa menerimanya dan memaksaku untuk berhenti memaki diri sendiri. Ini sangat membekas buatku. Sekali lagi, terima kasih.

Sayang,

Sekarang, terbanglah. Belahlah semesta dengan semua impian-impianmu. Maka nanti jika kau sudah meninggi, carilah landasan yang tepat untuk mendarat.

Sayang,

Baik-baiklah disana. Jaga dirimu, kuatkan imanmu dan teguhkan hatimu. Jika kau rindu, selalu ada ruang kosong disini, jika nanti aral membawamu kembali dan takdir mengizinkan. Maaf, karena aku belum bisa jadi seperti apa yang orang tuamu inginkan.

Sayang,

Sampaikan salam ini untuk perempuan setelahku.

Kota Hujan, 3 Mei 2017, pukul 00.30

Dariku, yang setiap hari makan asinan.