Saat mendengar kata kesuksesan, apa yang langsung muncul di pikiran kita? Apakah kesuksesan selalu identik dengan banyaknya uang dan harta yang dimiliki? Ternyata, bagi beberapa orang kesuksesan memiliki makna yang lebih luas daripada itu. Mari kita tengok mereka yang sukses dengan cara mereka sendiri, tanpa memusingkan banyaknya pundi-pundi harta yang dimiliki.

1. Butet Manurung, Meninggalkan Kenyamanan Demi Membantu Anak Rimba

Butet Manurung via 2.bp.blogspot.com

Perempuan satu ini mengabdikan hidupnya bagi pendidikan anak-anak rimba. Butet Manurung yang lulusan Bahasa Indonesia UNPAD ini melihat motivasi lain dalam mewujudkan kesuksesan. Cita-citanya adalah membuat hidupnya dapat bermanfaat bagi orang lain.

Hidup bagi saya, bagaimana hidup saya bisa bermanfaat bagi orang lain dengan hobi kita. Jadi hobi yang bermanfaat bagi orang lain, katanya. Melalui hobi menjelajah alam itulah Butet Manurung menerapkan sistem pendidikan dasar dengan metode Silabel.

Butet mengajar anak rimba via www.wireservice.co

Advertisement

Metode ini adalah sebuah cara yang diolah oleh Butet untuk mengajarkan anak-anak rimba mengenal bahasa Indonesia selama dia berada di pedalaman Bukit Tujuh Belas, Jambi, Sumatera Timur. Metode yang merupakan ramuan Butet dari pengetahuan antropologi dan bahasa yang pernah diperolehnya di universitas. Metode Silabel adalah pengajaran bahasa Indonesia yang terbagi dalam 16 ejaan, yaitu pembagian konsonan-vokal berdasarkan bunyi.

Butet juga mengatakan bahwa anak-anak dan masyarakat adat di pedalaman merasa tertekan oleh orang luar. Tekanan itu berupa justifikasi bahwa mereka itu primitif, bodoh, apdahal mereka merasa nyaman hidup seperti itu. Banyak orang luar yang melakukan penipuan kepada mereka, juga pencurian kekayaan alam atas nama organisasi yang tidak mereka mengerti.

Anak rimba yang belajar bersama Butet via nationalgeographic.co.id

Setelah mendapat pendidikan dasar dari Butet masyarakat adat yang menjadi komunitas didiknya mulai memahami dan mengetahui bagaimana berkomunikasi dengan orang luar yang datang ke tempat mereka. Mereka juga sudah bisa menghitung dan membaca, termasuk tahu kepada pihak mana untuk mengadukan perilaku individu atau organisasi yang melakukan pembalakan liar, pencurian kayu, dan tindakan kriminal lainnya. Dengan demikian, pendidikan yang dilakukan Butet di komunitas adat telah membuka akses pada pengetahuan dan peradaban, meskipun kesenjangan antara komunitas adat dan masyarakat luar masih ada.

2. Bidan Agnes Bara-Bara Kundigmo, Mendayung 4 Hari demi Menolong Ibu Melahirkan

Bidan Agnes via assets.kompas.com

Bidan Agnes berugas di pedalaman Boven Digoel, Papua. Agnes mulai bertugas di Puskesmas Pembantu Kampung Maryam Distrik Mandobo mulai tahun 1996 hingga 2004. Puskesmas Pembantu ini terletak sangat jauh dari ibukota Tanah Merah. Untuk mencapai ibukota demi mengambil stok obat-obatan, dia harus mendayung selama empat hari empat malam. Hal ini berlangsung selama beberapa tahun hingga Agnes mendapat bantuan perahu bermotor.

Kondisi jalanan Boven Digoel via 4.bp.blogspot.com

Selama 18 tahun bertugas, sudah tidak terhitung banyaknya anak yang dibantu kelahirannya oleh Agnes. Tidak hanya menghadapi tantangan alam dalam proses mendayung menuju pusat kota, Agnes juga harus mengikuti kebiasaan adat yang unik selama proses persalinan berlangsung. Masyarakat pedalaman Papua menganggap darah persalinan kotor dan dapat menjauhkan hewan hasil buruan. Alhasil keluarga yang perempuannya hendak bersalin akan menempatkan ibu bersalinnya diluar rumah. Seminggu setelah proses persalinan selesai dan si ibu sudah dianggap “bersih” barulah ibu dan anaknya diperbolehkan kembali masuk rumah.

Ketidak tahuan masyarakat tentang pentingnya bantuan awak kesehatan dalam persalinan membuat Agnes kerap ditolak. Namun kegigihannya untuk membantu sesama membuat dia tetap menyediakan bantuan medis terbaik bagi ibu yang hendak melahirkan.Pendekatan dan penyuluhan terus dilakukan oleh Agnes hingga masyarakat mulai percaya terhadap jasa yang ia tawarkan.

Jumlah kematian ibu-anak masih tinggi via zonadamai.files.wordpress.com

Semua itu Agnes jalani dan ia lakukan tidak lain karena panggilan hati. Semangatnya untuk menurunkan angka kematian bayi yang masih tinggi di Boven Digoel membuatnya tetap berjuang menghadapi segala tantangan. Baginya, kekayaan jelas bukan berarti banyaknya penghasilan yang ia miliki tapi bagaimana ia mampu mengulurkan tangannya untuk meringankan beban orang lain.

3. Albertheine Endah, Sukses adalah Menyelamatkan Sesama Makhluk Tuhan

AE dan Jokowi via oporkreatif.com

Penulis yang terkenal dengan kelihaiannya menulis biografi memiliki hati yang sangat luas untuk membantu orang lain. Tidak hanya manusia, ia bahkan menunjukkan kemurahan hatinya terhadap hewan-hewan liar. Albertheine yang kerap disapa AE memiliki kegemaran untuk memelihara dan menyelamatkan anjing-anjing liar.

Salah satu program penyelamatan lumba-lumba JAAN via savejapandolphins.org

Panggilan hati AE untuk memperjuangkan hak hidup anjing yang disiksa dan dibuang oleh majikannya ia tunjukkan di media sosial dan lewat sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada penyelamatan satwa, JAAN Indonesia. Banyak orang yang kerap menuliskan tweet kepada AE meminta pertolongan saat ada satwa yang mendapatkan perlakuan semena-mena. AE dan tim pun bergerak cepat dengan segera mengevakuasi satwa tersebut, kemudian menempatkannya di penampungan sementara.

AE dan anjing-anjingnya via 3.bp.blogspot.com

Kebahagiaan AE nampaknya tidak lagi sebatas pada banyaknya buku yang ia tulis atau berapa besar royalti yang diterimanya. 8 ekor anjing yang kini ia pelihara layaknya anak sendiri di rumahnya yang asri dan ratusan satwa liar yang telah berhasil ia selamatkan menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak harus selalu berkaitan dengan uang. Menyelamatkan sesama makhluk Tuhan juga dapat membuat seseorang menjadi pribadi yang sukses.

4. Anies Baswedan, Melunasi Janji Kemerdekaan

Anies Baswedan via plus.google.com

Lahir pada tahun 1969, dalam usianya yang baru 45 tahun Anies sudah menjadi salah satu tokoh yang paling berpengaruh di Indonesia. Anies lahir dari keluarga yang berlatar belakang sebagai pendidik, ayahnya adalah mantan wakil rektor Universitas Islam Indonesia dan ibunya adalah seorang guru besar di Universitas Negeri Yogyakarta.

Jiwa kepemimpinan dan kecerdasan membuat Anies mendapatkan beasiswa hingga program doktor di Amerika Serikat. Berbeda dengan kebanyakan penerima beasiswa lain yang menggunakan ilmunya untuk bekerja demu mengumpulkan pundi-pundi kekayaan, Anies justru kembali ke Indonesia dengan semangat melunasi janji kemerdekaan.

Menjadi rektor via i1.ytimg.com

Langkah pertamanya dimulai saat ia terpilih menjadi rektor termuda di Indonesia. Pada usia 38 tahun Anies menjadi Rektor Universitas Paramadina, Jakarta. Ia kemudian membentuk Paramadina Fellowship untuk membantu pendanaan biaya kuliah mahasiswa yang tidak mampu dan memasukkan pendidikan anti korupsi dalam kurikulum.

Tahun 2010, Anies berupaya melunasi janji kemerdekaan “mencerdaskan kehidupan bangsa” lewat sebuah program yang ia namai Indonesia Mengajar. Ia memulai gagasan untuk mengirim lulusan terbaik universitas untuk mengabdi selama satu tahun di daerah terpencil dengan menjadu guru SD. Tidak disangka, program ini mendapat tanggapan yang baik. Banyak anak muda tergerak untuk menjadi Pengajar Muda dan mengabdikan ilmu dan diri mereka selama 1 tahun setelah lulus kuliah.

Program Turun Tangan Anies via 4.bp.blogspot.com

Terlepas dari berapa uang di rekening Anies yang juga dianugerahi gelar sebagai 100 intelektual dunia dari majalah Foreign Policy, namun kita dapat melihat kesuksesan Anies dari semangatnya untuk mewujudkan Indonesia yang cerdas dan bermartabat. Ia telah menunjukkan pada generasi muda bahwa Indonesia bisa dibangun bersama, tanpa harus menunggu kebijakan yang dibentuk oleh orang-orang yang berada di pemerintahan. Anies adalah anak bangsa yang benar-benar berjuang mengisi kemerdekaan yang telah dicapai dengan susah payah. Ia mengajarkan kita untuk berhenti mengutuk kegelapan, dan berupaya menyalakan lilin.

5. Almarhum Munir, Mati Terhormat Memperjuangkan Hak Melawan Lupa

Almarhum Munir via 2.bp.blogspot.com

Bernama lengkap Munir Said Thalib, lelaki yang lulus dari Fakultas Hukum Universitas Brawijaya ini menjadi salah satu aktivis HAM yang dihormati oleh aktivis lokal dan internasional bahkan hingga ia berpulang. Nama Munir mulai bersinar saat ia mendirikan Komisi Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KONTRAS) pada tahun 1996. Organisasi ini berusaha melakukan advokasi atas para aktivis dan orang sipil yang berusaha dihilangkan oleh rezim Orde Baru.

Tidak hanya cukup berkiprah di KONTRAS, Munir juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Manusia Indonesia. Keberaniannya mengkritisi rezim yang berkuasa membuat Munir mendapat sorotan dari berbagai pihak. Walau mendapat kecaman dan ancaman Munir tidak berhenti berjuang demi keadilan bagi penegakan HAM di Indonesia.

Melawan lupa via 3.bp.blogspot.com

Salah satu kasus yang dikawal Munir adalah kasus penghilangan aktivis dan warga sipil yang dilakukan oleh Tim Mawar dari Kopassus dibawah komando Prabowo Subianto. Sayang, perjuangan Munir harus berakhir pada 7 September 2004. Ia tewas karena diduga keracunan arsenik dalam perjalanan dari Jakarta menuju Amsterdam.

Hingga saat ini belum diketahui siapa yang memasukkan arsenik kedalam hidangan pesawat Munir. Seorang pilot Garuda yang menerbangkan pesawat Munir telah dijatuhi 14 tahun hukuman atas upaya pembunuhan terhadap aktivis HAM paling bertaji yang pernah kita miliki ini. Sayang, seorang petinggi Badan Intelijen Nasional yang juga diduga terlibat justru mendapatkan vonis bebas.

Aksi Kamisan via gdb.voanews.com

Munir adalah lambang kesuksesan yang mampu membuka mata Indonesia, terutama anak-anak muda — bahwa bangsa ini memiliki sejarah panjang tentang pelanggaran Hak Asasi Manusia yang tidak sepatutnya dilupakan. Ia mengobarkan semangat untuk terus memperjuangkan keadilan. Kesuksesannya dalam urusan materi barangkali terhenti sejak 10 tahun lalu, namun ia akan selalu hidup dalam setiap demo mahasiswa. Dan payung-payung hitam keluarga korban tragedi 1998 yang rutin Kamisan di depan istana.