Menjadi seseorang yang berhasil bukan cuma perkara kerja keras dan investasi semata. Keberhasilan sebagai pribadi juga erat kaitannya dengan mentalitas yang kamu punya. Kalau Hipwee bilang “Demi menjadi orang yang lebih baik kamu harus punya mentalitas remah-remah rempeyek,” kamu percaya gak?

“Mentalitas remah-remah rempeyek” adalah frasa yang Hipwee ciptakan untuk menggambarkan pentingnya sebuah kerendahan hati dalam perjuangan menuju keberhasilan. “Remah-remah rempeyek” adalah perwujudan mawas diri. Sebagai manusia, kita perlu merasa belum menjadi apa-apa agar bisa meraih sesuatu yang diimpikan.

Mau tahu lebih jauh apa itu “mentalitas remah-remah rempeyek”? Bagaimana perwujudannya dalam kehidupan sehari-hari? Yuk, temukan jawabannya di artikel ini!

Mentalitas Remah-Remah Rempeyek? Serius Nih?

Rempeyek, yang melandasi mentalitas remah rempeyek via resepmasakankuliners.blogspot.com

Serius. Hipwee tidak sedang berkelakar. Ide untuk mengangkat topik tentang remah-remah rempeyek muncul dari keprihatinan saat melihat banyak anak muda yang sudah merasa ahli dalam berbagai hal, meski sebenarnya belum punya pencapaian. Contohnya? Amati saja lingkungan pertemananmu sendiri!

Advertisement

“Berapa banyak temanmu yang merasa (dan mengaku) jago fotografi hanya karena punya kamera DSLR yang mumpuni? Berapa banyak kenalanmu yang sudah merasa bisa menulis? Padahal karyanya belum pernah dibukukan, dan dia hanya rutin mengunggah tulisan di blog pribadi. Berapa banyak dari kita yang mudah merasa pintar, tanpa pembuktian?”

Rasa “paling tahu” dan “sudah ahli” ini sangat berbahaya, baik bagi pribadi masing-masing, maupun perkembangan kita sebagai bangsa. Apabila sudah merasa “paling”, seseorang bisa-bisa berhenti berusaha mengembangkan dirinya.

Tentu kamu gak mau kan, kesempatan berkembangmu terbatasi karena standar-standar absurd yang berusaha kamu ciptakan sendiri?

Bagaimana Mentalitas Remah-Remah Rempeyek Bisa Membuatmu Jadi Orang yang Lebih Baik?

1. Merasa Seperti Remah-Remah Rempeyek Membuat Kamu Tidak Cepat Merasa Puas

Dengan mentalitas remah-remah rempeyek kamu tidak akan merasa puas via galleryhip.com

Rasa cepat puas adalah musuh bagi pencapaian jangka panjangmu. Dengan cepat merasa puas, kamu akan kehilangan kemauan untuk terus memperbaiki diri agar menjadi lebih baik. Bisa-bisa keberhasilan yang kamu dapatkan saat ini tidak bertahan lama jika kamu cepat berpuas diri macam ini.

Contohnya nih, kamu adalah seorang arsitek. Saat hasil karyamu mendapatkan pujian, dengan mudah kamu merasa berhasil. Kamu merasa sudah punya “tempat” di industri desain karena sudah bisa memuaskan keinginan konsumen. Dampaknya, kamu enggan memperbanyak referensi dari majalah-majalah desain luar negeri seperti yang selama ini kamu lakukan. Lama kelamaan hasil desainmu menjadi monoton. Klien pun berpaling darimu.

Terus merasa diri kurang dan tidak memiliki kemampuan signifikan selayak “remah-remah rempeyek” akan membuatmu jadi orang yang haus untuk terus belajar. Tidak ada kata “cukup” bagimu. Pencapaian yang kamu dapatkan saat ini selalu kamu anggap belum ada apa-apanya. Sebab kamu selalu merasa bisa mencapai “lebih”.

2. Mentalitas Remah-Remah Rempeyek Adalah Soal Tidak Pernah “Merasa” Sukses

Sudah merasa sukses? Yakin udah beneran sukses? via www.designscene.net

Menjadi orang sukses memang jadi impian hampir semua pribadi di dunia ini. Namun, “menjadi sukses” itu sangat berbeda dari “merasa sukses”. Menjadi sukses adalah proses tak berujung yang melibatkan peningkatan kompetensi dan konsistensi untuk terus berusaha jadi pribadi yang lebih baik.

Sementara “merasa sukses” justru membuatmu puas dan berhenti berusaha.

Menjadi orang dengan “remah-remah rempeyek mentality” akan mendidikmu untuk tidak pernah merasa sukses. Kesuksesan akan kamu pandang sebagai hal yang biasa-biasa saja. Tidak ada hal yang perlu dibanggakan dari itu. Memang sih, kesannya jahat karena kamu akan selalu menempatkan diri sebagai orang yang “gagal”.

Tapi jika kamu bisa memanfaatkan perasaan “gagal” yang kamu tanamkan itu, akan ada dorongan kuat dalam dirimu untuk terus mencoba mencapai kesuksesan yang sebenarnya.

3. Dengan Memiliki Mentalitas Remah-Remah Rempeyek, Kamu Akan Selalu “Insecure” dan Merasa Bisa Digantikan

Ingat, kamu selalu bisa tergantikan via www.keepcalm-o-matic.co.uk

Tahu ‘kan remah-remah rempeyek yang kesannya tidak berharga dan bisa dibuang sewaktu-waktu itu? Perasaan seperti itulah yang perlu kamu tanamkan pada dirimu. Buat dirimu merasa selalu bisa dibuang sewaktu-waktu oleh atasan, pasangan, atau teman-temanmu. Ini bukan dimaksudkan agar kamu jadi rendah diri, ya! Maksud kami adalah menggarisbawahi agar kamu jangan terlalu merasa nyaman. Jangan sampai kamu merasa tidak perlu lagi memperbaiki diri.

Jika kamu karyawan, mentalitas remah-remah rempeyek akan membantumu untuk terus merasa “siaga” terhadap persaingan dalam perusahaan. Karena merasa belum punya apa-apa dan bisa digantikan setiap saat, kamu akan terus tertantang untuk meningkatkan kualitas diri.

Jika kamu berada dalam sebuah hubungan, mentalitas remah-remah rempeyek akan memaksamu untuk terus melakukan yang terbaik demi pasanganmu. Ini karena kamu tahu bahwa masih banyak perempuan atau laki-laki lain di luar sana yang lebih ganteng, cantik, atau kaya darimu. Kamu ingin terus memberikan pasanganmu alasan untuk setia mencintaimu.

Mentalitas remah-remah rempeyek akan membuatmu jadi orang yang tidak pernah merasa punya zona nyaman di manapun. Dunia jadi tempat yang penuh tantangan. Tanpa usaha keras, kamu tidak akan pernah bisa bertahan.

4. Kamu Tidak Akan Merasa Lebih Baik Dari Siapapun

Kamu tidak akan menganggap dirimu tinggi via hotguysreadingandwearingglasses.tumblr.com

Misalnya nih, kamu adalah penulis yang sudah menghasilkan 5 karya best seller. Sepatutnya sih dengan pencapaian tersebut kamu bisa merasa “lebih” dibanding penulis-penulis yang karyanya tidak begitu diterima oleh pasar. Tapi saat kamu memiliki mentalitas remah-remah rempeyek, kamu akan merasa tidak lebih baik dari siapapun.

Mentalitas remah-remah rempeyek akan membuatmu jadi orang yang terus menjejak bumi. Semua hal yang kamu hasilkan akan dirasa belum ada apa-apanya. Selalu ada orang lain dengan pencapaian yang lebih memukau. Jangankan membanggakan diri pada orang lain, merasa puas dengan pencapaianmu saja tidak pantas rasanya kamu lakukan.

Sebagai remah-remah rempeyek, kamu merasa kasta dan pencapaianmu tetap ada di titik terendah setiap waktu.

5. Mentalitas Remah-Remah Rempeyek Akan Membuatmu Jadi Orang yang Tanpa Pretensi

Kamu bisa jadi orang yang lebih tulus via blogs.bet.com

Lihat deh remah-remah rempeyek di dasar toples. Mau berusaha diubah jadi apapun, dia akan tetap jadi remah-remah rempeyek, ‘kan? Saat mengadopsi mentalitas ini, kamu tidak merasa perlu berusaha terlihat cool, keren, atau genius. Karena sudah bisa menerima jati dirimu sebagai rempeyek, kamu tak perlu berusaha meyakinkan orang kalau kamu itu foie gras atau sushi.

Sebagai contoh, kamu adalah seorang content writer di laman gaya hidup. Karena merasa tidak pintar-pintar amat, kamu tidak punya urgensi untuk menggunakan kata-kata sulit dalam artikelmu demi terlihat lebih WOW. Toh yang penting orang yang membaca tulisanmu paham apa yang kamu maksudkan. Hasilnya? Tulisanmu pun bisa diterima.

Mentalitas remah-remah rempeyek akan membuatmu jadi orang yang tampil apa adanya di depan orang lain. Kamu akan dengan ringan membawa dirimu yang sebenarnya ke hadapan mereka. Tidak ada hal yang kamu rasa perlu disembunyikan pun dilebihkan. Inilah apa adanya kamu, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

6. Karena Merasa “Remah-Remah”, Kamu Justru Memandang Kompetitor Sebagai Sumber Untuk Belajar

Memandang kompetitor sebagai sumber belajar via www.kiptonart.com

Memiliki mentalitas remah-remah rempeyek sama dengan merasa kecil di hadapan orang lain. Kamu akan terus merasa belum cukup baik, belum cukup punya kemampuan untuk berkompetisi, dan tidak memiliki hal untuk dibanggakan di depan orang lain.

Seorang atlet yang memiliki mentalitas “Remah-Remah Rempeyek” akan memandang persaingan dengan berbeda. Dia tidak akan jumawa dan merasa yakin menjelang pertandingan. Justru, karena merasa belum ada apa-apanya dia akan sibuk memperhatikan bagaimana teknik dan persiapan atlet lain.

Saat orang lain sibuk memikirkan bagaimana caranya jadi pemenang, orang dengan mentalitas remah-remah rempeyek akan lebih fokus ke bagaimana caranya bertahan. Biasanya, orang-orang macam ini justru bisa jadi “kuda hitam”. Mereka yang bisa sukses tanpa pernah diprediksi sebelumnya.

7. Ketika Dihadapkan Pada Kegagalan, Mentalitas Remah-Remah Rempeyek Membantumu Agar Lebih Bisa Berbesar Hati

Mentalitas remah rempeyek membuatmu lebih bisa menerima kegagalan via www.quotescover.com

Saat dihadapkan pada kegagalan, orang yang sudah merasa “bisa” akan cenderung lebih kecewa. Orang-orang yang sudah merasa “mampu” terkadang lebih tidak siap saat harus tersungkur. Keyakinan mereka atas kemampuan diri sendiri yang sudah dimiliki selama ini bisa hilang tak berbekas.

Berbeda dengan orang yang merasa hanya “remah-remah rempeyek”. Ketika kegagalan datang, mereka akan menanggapinya dengan lebih legawa. Dengan menanamkan bahwa kamu belum jadi apa-apa, ketika kamu merasa kehadiranmu tidak ada signifikansinya– seperti remah-remah rempeyek di dasar toples — kegagalan akan bisa kamu pandang sebagai hal yang wajar. Pikirmu:

“Wajar lah aku gagal. Kan memang aku masih remah-remah rempeyek. Belum ada hebat-hebatnya.”

Tapi ingat. Jangan jadikan mentalitas remah-remah rempeyek sebagai excuse untuk kegagalanmu, ya. Kamu harus tetap berjuang untuk mengubah kegagalan itu menjadi sebuah keberhasilan.

8. Mentalitas Remah-Remah Rempeyek Membuat Kamu Percaya Diri: Kamu Jadi sadar Kalau Dirimu Gak Begitu Signifikan Buat Orang Lain

Tidak ada hal yang perlu kamu buktikan ke orang lain via www.quotescover.com

Sering gak sih kamu merasa galau dan gak percaya diri karena terlalu memusingkan pendapat orang lain? Rasanya seluruh hal yang kamu lakukan diawasi dan akan dikomentari dengan pedas. Dampaknya, kamu tidak lagi leluasa dalam bersikap. Kamu jadi orang yang terpaku pada standar-standar yang ditetapkan oleh orang lain.

Dalam hal ini, mengadopsi mentalitas remah-remah rempeyek bisa membuatmu percaya diri. Kamu akan berusaha meyakinkan dirimu sendiri bahwa sebenarnya kehadiranmu tidaklah sesignifikan itu bagi orang lain. Ketakutan atas pikiran buruk orang itu hanya terjadi di kepalamu. Sisanya, mungkin kamu cuma GR semata.

Saat kamu menyadari bahwa ketakutanmu tak beralasan, kamu bisa jadi orang yang lebih lepas. Mentalitas remah-remah rempeyek membuatmu jadi pribadi yang lebih tahu apa yang benar-benar ingin kamu lakukan. Kamu sudah tidak lagi peduli pada validasi orang lain. Hidupmu hanya signifikan bagi dirimu sendiri, maka hanya kamu pula yang layak mengaturnya.

9. Dengan Mengadopsi Mentalitas Remah-Remah Rempeyek, Kamu Hanya Akan Berhenti Di Pencapaian Tertinggi

Sebelum bisa memborong Grammy sebanyak ini, artinya kamu belum sukses via ez103.cbslocal.com

Mentalitas remah-remah rempeyek akan membuatmu jadi orang yang baru puas saat pencapaian tertinggi sudah ada di tangan. Pencapaian-pencapaian kecil sebelumnya tidak akan kamu jadikan patokan kesuksesan. Kamu selalu menempatkan diri di posisi “belum jadi apa-apa”, sampai benar-benar berhasil dalam artian sesungguhnya.

Sebagai penulis, kamu tidak akan merasa sukses sampai hasil karyamu dibaca Jokowi — orang nomor 1 di republik ini. Sebagai pemusik, kamu baru akan merasa berhasil waktu bisa menjadi salah satu nominasi di Grammy Awards. Semua penghargaan lokal yang kamu dapatkan sebelumnya hanya akan kamu anggap sebagai pencapaian biasa yang tidak patut dibanggakan.

Alhasil, kamu jadi pribadi yang tidak mudah terhanyut oleh pencapaian-pencapaian yang belum seberapa. Kamu selalu ingin mendapatkan hal yang lebih tinggi.

Apakah menurutmu mentalitas remah-remah rempeyek ini bisa membawa kebaikan bagi hidupmu? Jika iya, yuk kenapa tidak mulai kamu adopsi dari sekarang? Salam remah-remah rempeyek dari Hipwee!