Belum genap setahun, baru hampir memasuki pertengahan tahun, gunung telah menyita duka yang begitu mendalam dari para pendaki Nusantara. Bukan bermaksud untuk mengorek luka lama, melainkan hanya ingin mengingat bagaimana kematian begitu dekat dengan kita, para pecinta alam atau kegiatan outdoor. Berikut Hipwee Travel rangkumkan sederet air mata para pendaki di gunung se-Indonesia yang terjadi sejak awal tahun hingga hampir memasuki pertengahan tahun 2016.

Di awal tahun, duka menyambar di Bukit Kaba, Bengkulu. Petir menggugurkan perjuangan 7 pendaki muda di barat Indonesia

Menyambar! via www.hikebiketravel.com

Kabar duka dari ujung barat Indonesia adalah meninggalnya dua dari tujuh pendaki di puncak Gunung Kaba (1.937 mdpl), Kecamatan Selupu Rejang, Rejanglebong, Bengkulu pada awal tahun lalu (17/1) . Saat itu, tujuh pendaki ini sampai di puncak pada pukul 17:04 waktu setempat dengan kondisi hujan deras disertai petir. Malapetaka bermula dari salah seorang pendaki memainkan ponselnya. Setelah menyimpan kembali ponsel ke dalam sakunya, tiba-tiba petir menyambar ke tujuh pendaki yang berteduh dari hujan itu. Naas bagi Asih (21) dan Maspuri (21) yang seketika meregang nyawa, sementara lima rekan lainnya mengalami luka parah dan ringan.

Duh, hati-hati ya jangan main HP kalau ada petir!

Bulan Februari menjadi kemelut duka bagi keluarga seorang pemuda asal Semarang. Oky Kumara Putra mengakhiri petualangannya di Gunung Merbabu dengan hipotermia

Hipotermia. via pixgood.com

Advertisement

Hipotermia memang selalu menjadi momok bagi para pendaki. Perubahan cuaca yang nggak dapat diprediksi ini kerap menyusahkan para pendaki yang kurang persiapan dan buta akan pengetahuan tentang hipotermia. Nggak terkecuali nasib sial yang dialami almarhum Oky Kumara (17) pada awal Februari lalu, (7/2) di Gunung Merbabu. Siswa asal Mustokoweni, Plombokan, Semarang, yang masih duduk di bangku SMK kelas 2 ini menjadi korban keganasan hipotermia.

Gunung Slamet menjadi duka pertama di bulan April bagi para pendaki. Irfan Hidayat, mahasiswa UI yang terpeleset di Baturaden, tertolong dengan selamat

Ilustrasi evakuasi korban. via instagram.com

Seorang pendaki yang juga mahasiswa Universitas Indonesia, Depok, Irfan Hidayat (19), terjatuh dan terpeleset di jalur Baturaden, setelah berhasil sampai di puncak Gunung Slamet (16/4). Sekadar catatan, jalur Baturaden memang terkenal sangat ekstrem. Banyak turunan terjal dan akar-akar pohon besar yang malang melintang. Untung, setelah dievakuasi, Irfan masih diberi kekuatan untuk menghirup udara segar. Hanya, badannya penuh luka dan mengalami beberapa patah tulang di tubuhnya.

Meski terjatuh dan terpeleset, Gunung Rinjani masih memberi kesempatan untuk pendaki wanita asal Negeri Jiran meneruskan perjalanannya. “Tuhan masih sayang pula pada saya.”

Kasihan. 🙁 via www.facebook.com

Bukti bahwa Tuhan masih mencintai umat-Nya, ketika seorang pendaki wanita asal Malaysia (17/4), terpeleset di Palawang Sembalun dalam perjalanannya menuruni Gunung Rinjani. Pendaki wanita bernama Titi Zaharah binti Husein bersama rekan-rekannya berhasil mencapai puncak pada tanggal 16 April. Naas, pada perjalanan pulang, Titi terjatuh dan terpeleset di Plawangan. Baru pada keesokan harinya tim penyelamat berhasil mengevakuasi Titi dan membawanya dengan tandu ke puskesmas Sembalun, Lombok Timur, pada Minggu petang (17/4).

Sementara dari timur Nusantara, Puncak Cartenz Pyramid telah memberi luka mendalam dengan hipotermia. Pupus sudah cita-cita Erick Erlangga di puncak tertinggi di Papua

Evakuasi Erick Erlangga. via www.facebook.com

Berstatus sebagai pendaki profesional yang sering memimpin pendakian di beberapa gunung Indonesia, khususnya Cartenz Pyramid, Erick Erlangga (30) nggak bisa menghindar dari bencana yang mengepungnya di puncak tertinggi di Papua tersebut. Hipotermia menjadi marabahaya yang membuatnya mengembuskan napas terakhirnya. Di Yellow Valley, Areal Grasberg Mine lah, Erick harus mengakhiri petualangannya dalam ekspedisi Hari Kartini. Pria yang juga bekerja di Geotech Underground PT Freeport Indonesia ini pergi meninggalkan seorang istri yang sedang mengandung dan seorang anak berusia 3 tahun. 🙁

Kabar duka datang lagi dari Rinjani setelah dua bulan berlalu. Kali ini, tim penyelamat tak berhasil menyelamatkan nyawa pendaki wanita asal Palembang ini

Ike. 🙁 via twitter.com

Bukan cuma bagi para pendaki, Gunung Rinjani memang selalu mempunyai daya magis tersendiri bagi setiap orang. Seolah menarik para mata dan batin semua orang, gunung yang lekat dengan mitos Dewi Anjani ini menarik untuk dikunjungi. Tapi siapa sangka, dari kecantikan dan eksotisme panoramanya, ternyata Gunung Rinjani memiliki segudang cerita duka?

Setelah dua bulan berlalu, duka kembali tersiar dari Gunung Rinjani, tepatnya di pemandian air panas Aik Kalak, yang nggak jauh dari danau Segara Anak. Adalah pendaki wanita asal Palembang, Ike Suseta Amelia (26), mengembuskan napas terakhirnya pada ketinggian kurang dari 2000 mdpl. Masih hangat betul kronologi kejadiannya, bagaimana Ike berpulang dari Rinjani. 🙁

Ya, itulah rentetan kabar duka yang menyisakan air mata dari kalangan pendaki Nusantara. Semoga korban yang tak berhasil terselamatkan tenang di surga. Dan bagi kita, semoga ada hikmah di balik kesedihan ini. Jangan pernah mengabaikan maut, sebab kita tak pernah tahu seberapa dekat kita dengan kematian!