Bali sebagai destinasi wisata top tentu selalu jadi tujuan wisatawan kala liburan. Nggak cuman pas liburan sih, Bali selalu ramai kok setiap hari. Tempat-tempat ramai turis seperti Kuta, Sanur, Legian, sampai toko oleh-oleh semacam Joger dan Krisna tak pernah sepi dari wisatawan. Memang ya, Bali jadi idaman banyak orang.

Hanya saja, popularitas Bali sebagai destinasi wisata terbaik dunia tercoreng karena ulah segelintir warganya. Di terminal maupun pelabuhan, banyak sekali calo dan preman yang tak sungkan meneror korbannya. Kejadian semacam ini sudah sangat biasa dan seakan dimaklumi bahkan oleh aparat sekalipun. Nih, Hipwee Travel mau cerita ke kalian semua. Biar waspada kalau jalan-jalan ke Bali ya…

 

Sebelumnya, kamu harus tahu letak Terminal Ubung, dan fungsi terminal ini dalam sistem transportasi di Bali

terminal ubung via www.satyawinnie.com

Terminal Ubung adalah terminal utama di Kota Denpasar, ibukota Provinsi Bali. Berada di Denpasar bagian utara, setiap pelancong yang datang lewat darat pasti akan berhenti di sini. Jalur darat via Banyuwangi harus menyeberang ferry ke Pelabuhan Gilimanuk. Nah, dari pelabuhan Gilimanuk, transportasi darat akan berhenti di perberhentian Terminal Ubung. Jadi fungsi terminal ini cukup strategis, sebagai penghubung pelancong darat dari Pulau Jawa.

Advertisement

 

Sayangnya, Terminal Ubung jadi sarang calo dan preman yang begitu nekat. Calon penumpang akan dipaksa beli tiket dari calo. Jika tidak dibeli, mereka menggunakan jalur kekerasan…

suasana terminal ubung via bali.tribunnews.com

Preman dan calo di Terminal Ubung sudah terkenal akan perangainya yang buruk dan cenderung memaksa. Jika kamu baru datang ke terminal ini, percayalah bahwa keselamatanmu terancam. Para calo akan mengerubutimu dan memaksamu membeli tiket yang mereka bawa, entah kemanapun tujuanmu. Misal kamu mau pergi ke Kuta, kamu harus naik mobil APV mereka dengan harga yang tak masuk akal, sampai 200 ribu rupiah. Atau jika kamu mau pergi ke Malang, kamu akan diberi tiket ke Surabaya dengan harga lebih dari 300 ribu, padahal aslinya cuma 150-170 ribu. Jika tidak dituruti, kamu akan dipepet mereka dan barang atau dompetmu akan diambil oleh mereka. Lantas, kamu akan dipaksa membeli tiket nggak masuk akal itu. Serem ‘kan?

 

Kasus pertama, pemudik ini dipukuli ketika menolak membeli tiket Bus ke Banyuwangi!

ubung nggak aman via static.panoramio.com

Pada bulan Juli 2016, salah seorang pemudik, anggap saja bernama T, ingin membeli tiket ke Banyuwangi. Calo tiket segera memaksanya membeli tiket kepadanya dan mengajaknya masuk ke dalam bus. Harganya bisa dibahas di dalam bus. Eh, sesampainya di bus, ia dipaksa membayar seharga 320 ribu rupiah. Kagetlah si T karena harga biasanya cuma 50 ribu saja. Menolak membayar dan memutuskan pergi dari bus, kepalanya justru dipukul oleh si calo. Ia pun berlari lapor kepada polisi yang sedang bertugas, dan menariknya, polisi pun cuma sekedar mendamaikan tanpa ada tindakan apa pun. Luar biasa ya kekuasaan calo dan preman di Ubung! Berita lengkapnya bisa kamu baca di sini.

 

Kisah kedua, backpacker dari Jawa pun tak luput dari perilaku buruk. Di terminal Mengwi mereka dipalak, di terminal Ubung mereka diintimidasi!

razia calo dan preman via static.republika.co.id

Tiga orang backpacker ini punya kesan buruk ketika sampai di Bali pada November 2016. Mereka dipalak, dipaksa naik mobil dengan harga yang mahal. Di terminal Mengwi, preman masuk bis dan mereka dipaksa turun serta diminta naik mobil menuju Ubung. Mereka akhirnya bisa kabur menggunakan angkot yang lewat. Sesampai di Ubung, mereka sudah dicegat oleh preman-preman tadi. Untungnya mereka bisa kabur.

Nah, ketika pulang, mereka kembali mampir ke Ubung. Belum juga taksi mereka berhenti, calo-calo sudah datang mengerubung. Ketika pintu dibuka, tas mereka langsung diambil. Mereka dipaksa naik bus yang sudah disiapkan sebelumnya. Di dalam bus, mereka dimintai uang 275 ribu untuk tiket ke Surabaya. Mahal, merekapun ingin turun di Gilimanuk. Tapi nihil, harganya dipukul rata. Kurang ajar sekali ‘kan?

Di dalam bus, mereka diintimidasi oleh para calo dan preman tersebut. Mereka dirampok uangnya. Hingga akhirnya mereka pasrah untuk membayar 220 ribu. Salah satu dari mereka pun kehabisan uang, dipaksa ambil ke ATM dan diantarkan oleh preman tersebut. Sesampainya di terminal, ia ditariki ongkos ojek 50 ribu. Gila nggak? ternyata memang bus itu hanya digunakan untuk mengancam para penumpang. Bahkan ada yang dimintai 400 ribu sampai ada wanita yang menangis karena diintimidasi habis-habisan. Kisah lengkapnya kamu bisa baca di sini.

 

Kalau ancaman dan intimidasi nggak mempan, ada cara terakhir. Penganiayaan!

Pada tahun 2012, rombongan mahasiswa yang akan kembali ke Malang menunggu bus di Terminal Ubung. Seperti kasus yang lain, mereka dikepung oleh calo dan dipaksa membeli tiketnya. Karena tidak mau membeli tiket, akhirnya salah satu calo menendang kakinya. Tidak terima, mereka pun misuh-misuh. Namun, justru calo yang lebih banyak datang dan memukuli mereka. Dan konyolnya, tak ada yang mau menolong mereka. Sadis!

Mereka pun melapor polisi, dan seperti biasa, tidak ada tindakan apa-apa yang dilakukan untuk menangkap atau menghukum pelaku. Betapa aparat tidak mau tahu dengan kondisi terminal yang telah dikuasai preman! Cerita lengkapnya kamu bisa baca di sini.

 

Dari cerita di atas, kamu harus lebih hati-hati sebelum memutuskan untuk ke Bali. Kalau ada duit lebih mending naik pesawat aja deh. Kalau memang mau backpacker-an turunlah di Terminal Pesiapan, Tabanan, letaknya sebelum terminal Ubung. Kamu bisa menuju berbagai destinasi menggunakan Bus Sarbagita di terminal ini. Pokoknya hati-hati ya. Semoga wisatawan nggak kapok dateng ke Bali gara-gara calo di Ubung. Tetap dukung pariwisata Bali dan Indonesia…

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya