Hipotermia sudah menjadi momok yang menakutkan bagi para pendaki. Meski begitu, hal itu nggak mampu mengurungkan niat pendaki untuk terus berpetualang. Apakah kamu termasuk dalam jajaran pendaki yang nggak takut akan cuaca di gunung yang misterius ini? Atau kamu masih pendaki pemula yang asal ikut mendaki kalau ramai semata?

Masih lekat dalam ingatan kita semua, tanggal 7 Februari lalu kawan kita Oky Kumara Putra telah meninggal di Gunung Merbabu. Sebab kepergiannya terindikasi karena terkena hipotermia. Oky tak sendiri, ada puluhan mungkin ratusan pendaki mengalami hal serupa. Artikel tentang Oky Kumara Putra dapat dibaca di link berikut.

Selamat Jalan Oky Kumara Putra, Semoga Kisahmu Jadi Duka Terakhir di Gunung

Apa yang bisa kita lakukan agar hal ini tak terulang kembali, kawan?

Masalah hipotermia, sebenarnya ada berbagai cara untuk menyelamatkan seseorang dari gejala yang menyerang suhu tubuh ini. Biar kamu punya skill lebih di antara rombongan tim pendakianmu, simak ulasan dari Hipwee ini tentang hipotermia.

Apa itu hipotermia? Seperti apa gejalanya? Pelajarilah serangan alam yang mengerikan ini sebelum berangkat mendaki gunung.

Advertisement

Dingin ya, Kak? :3 via www.weathersphere.com

Hipotermia adalah perubahan suhu udara tubuh seseorang atau mekanisme pengaturan suhu tubuh yang tidak stabil ketika udara dingin menyerang. Jangan pernah menganggap sepele hal ini. Nggak sedikit pendaki yang mengidap gangguan suhu tubuh seperti ini, bahkan nggak sedikit pula pendaki yang meregang nyawa setelahnya.

Pendaki yang terserang hipotermia akan melalui tiga tahap, hipotermia ringan, menengah, dan berat. Seperti apa gejalanya? Hipotermia ringan, suhu tubuh berada di angka 35-33 derajat Celcius, memberikan efek gigil, rasa pusing, mual, lapar, lelah, dan napas yang terengah cepat. Secara fisik, kulitmu akan mengalami perubahan suhu dan tampak pucat. Gejala hipotermia ringan.

Untuk gejala hipotermia menengah, tubuhmu akan semakin lemas, tampak seperti orang kebingungan, seperti orang sakau, dan hanya bisa menggumam atau berbicara nggak jelas. Tentu juga pernapasan yang mulai melemah dan kesulitan untuk bergerak pada suhu tubuh yang mencapai 33-29 derajat Celcius.

Setelah itu, kamu akan memasuki fase yang semua orang tidak mengharapkannya; suhu tubuh berada di angka paling rendah 29-27 derajat Celcius. Kalau kamu nggak segera mendapat pertolongan, kamu akan mengalami gejala seperti pupil mata kian melebar. Belum lagi kamu bisa sampai kehilangan kesadaran alias pingsan! Jangan biarkan suhu tubuh menurun hingga 26 derajat Celcius atau lebih rendah lagi. Bahaya!

Ini penyebab melandanya hipotermia pada tubuhmu. Meremehkan gerimis kecil bukanlah hal bijak!

Nah, neduh juga boleh. via travelingneverdies.com

Kadang, gerimis yang rintik perlahan di sepanjang perjalananmu, masuk ke dalam kamus ‘lumrah’. Padahal, penyebab pertama melandanya hipotermia adalah menyepelekan gerimis. Justru gerimis kecil inilah yang berpotensi menyerang kondisi tubuhmu yang kian muncak, kian melemah. Tubuhmu yang mulai goyang, tapi gengsi memakai jas hujan karena ‘cuma’ gerimis, maka, bukan nggak mungkin hipotermia akan menyerangmu. Gejala ringan perlahan merasuk, merusak suhu tubuhmu yang kian labil.

Selain karena gerimis yang terabaikan, ternyata hipotermia bisa terjadi dengan mudah pada seseorang manula dan balita. Juga pada pengonsumsi minuman keras dan obat-obatan, karena zat pada minuman beralkohol dapat membuat peredaran darah berada di permukaan kulit, sehingga tertusuk oleh udara dingin yang ada di alam. Serta beberapa penyakit yang dicatat sebagai penyakit yang bisa dengan mudah mengidap hipotermia, seperti stroke dan alzeimer.

Cegahlah serangan hipotermia sebelum terjadi. Jangan biarkan tubuhmu takluk dengan suhu dingin yang menyerang.

Nyalakan api! via www.philipcaruso-story.com

Sebelum hipotermia menyerang tubuhmu, pastikan kamu bisa mencegahnya. Sebab hanya diri sendirilah yang tahu kapan suhu tubuhmu berubah. Perhatikan poin di bawah ini untuk pencegahan hipotermia yang melanda:

Jangan biarkan tubuhmu basah karena ‘kostum’ yang kamu kenakan.

Berusahalah untuk tetap menjaga tubuhmu dari basah, entah karena hujan atau karena keringat. Kenakan jaket polar yang anti air, celana yang cepat kering, sarung tangan polar, dan juga jas hujan. Ketika kamu merasa sudah cukup basah, segeralah mengganti semua pakaian yang kamu kenakan.

Kamu ini sedang naik gunung, bukan main ke mall. Celana jeans bukan buat mendaki!

Celana jeans memiliki tingkat kekeringan yang lambat. Sulit untuk celana jeans segera kering ketika kena keringat maupun hujan. Jangan kenakan jeans buat naik gunung! Ini peraturan untuk para pemula.

Terlalu lama beristirahat ternyata nggak baik. Banyakin gerak, ya!

Mungkin kamu mengira istirahat bisa memberimu energi untuk melanjutkan langkah berikutnya. Nggak salah memang, tapi kalau keadaanmu sudah basah, kena hujan, kena air, atau baju berkeringat, maka kamu nggak akan lepas dari serangan hipotermia. Sebab udara dingin akan merembas ke kulitmu, mengacaukan suhu tubuh normalmu. Upayakan istirahat secukupnya saja, ya!

Tidurlah dengan menggunakan sleeping bag. Setidaknya jangan mengenakan pakaian yang basah.

Sleeping bag merupakan perlengkapan yang paling aman untuk mengusir dingin. Jangan gunakan sleeping bag sebagai alas tidur, ya. Kan ada matras buat alas.

Jangan panik, kunci utama menyelamatkan temanmu dari bahaya hipotermia.

Don’t be panic! via www.outdoorsbycracky.com

Kunci utama untuk menolong seseorang yang terkena hipotermia adalah ketenangan. Jangan pernah panik ketika teman mendakimu terkena hipotermia. Hal ini akan menyebabkan kamu sulit untuk berpikir dan malah memperkeruh suasana. Bersikaplah tenang dan selamatkan temanmu. Berikut cara penanganannya:

Jangan biarkan temanmu tertidur. Upayakanlah agar dia tetap menggigil

Kalau sampai temanmu tertidur, otomatis dia akan kehilangan kesadaran. Dengan begitu dia akan kehilangan suhu panas di tubuhnya. Biarkan dia tetap menggigil, karena hal itu merupakan upaya tubuhnya untuk melawan suhu dingin yang menyerang.

Rebahkanlah temanmu di atas matras alumunium dan bawa dia ke dalam tenda

Rebahkanlah temanmu di atas matras alumunium, lebih efektif lagi kalau di dalam tenda. Karena kontak langsung dengan tanah akan membuat suhu tubuhnya menjadi lebih rendah.

Ganti pakaiannya yang basah oleh hujan atau keringat. Bikin temanmu tetap hangat.

Ketika temanmu ketahuan mengalami hipotermia, segeralah ganti pakaiannya yang basah dengan yang kering. Sedikit saja air yang mengenai tubuhnya, bisa memicu suhu tubuh menjadi rendah.

Suplai temanmu dengan makanan dan minuman hangat. Biar ada pembakaran dalam tubuhnya.

Berikan makanan dan minuman yang hangat. Sebisa mungkin, buatlah temanmu terus mengunyah, berbicara, bergerak, atau beraktivitas lainnya. Supaya suhu panas di tubuh terus meningkat.

Berikan tindakan skin to skin pada temanmu dengan lembut!

Kalau penderita hipotermia sudah memasuki tahap menengah atau suhu tubuh telah mencapai 33 derajat Celcius, lakukanlah tindakan skin to skin. Tapi ingat, jangan terlalu kasar memberikan pertolongan. Karena hal itu akan memicu detak jantungnya.

Tempelkan botol yang berisi air panas atau hangat pada temanmu yang mengidap hipotermia

Menempelkan botol berisi air panas pada leher, tengkuk, ketiak, dan kelangkang, akan membantu meningkatkan suhu panas pada tubuh penderita hipotermia. Paling nggak, berilah handuk kering untuk membalut botol berisi air panas tadi ke keempat bagian tubuh temanmu.

Upayakan tubuh tetap hangat dengan berbagai pertolongan yang bisa kamu lakukan ketika teman atau kamu sendiri mengalami hipotermia. Setelah temanmu tersadar, buatlah perapian di dekatnya atau nyalakan kompor di dalam tenda, supaya menghadirkan suasana hangat di dalam tenda. Jangan sampai panik dan gugup ketika menghadapi situasi seperti ini di pendakianmu.

Nah, sekarang sudah mengerti, ‘kan? Semoga artikel ini bisa membantumu menambah wawasan tentang ‘musuh’ di pendakianmu berikutnya. Jangan sampai ada korban lagi dari atas gunung karena hipotermia. Jadilah pendaki yang cerdas dan bijak, jangan asal nanjak!