Umrah dengan gaya backpacker kini sering menjadi alternatif pilihan bagi mereka yang ingin menunaikan ibadah haji kecil ini. Sebabnya, apalagi kalau bukan karena dalih penghematan alias lebih meminimalisir pengeluaran finansial. Lebih dari itu, gaya ibadah ala backpacker ini juga kerap menjadi pilihan bagi mereka yang mencari pengalaman berbeda dan gemar berpetualang. Umrah backpacker alias umrah mandiri tanpa bantuan travel tentu bukan hal mudah, kamu harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan sangat matang. Ada visa umrah yang wajib diurus melalui biro umrah, budget untuk hotel, dan tiket penerbangan. Apa dan bagaimana sih sebenarnya umrah backpacker ini? Simak baik-baik yaa..

Umrah sambil backpacker agaknya tak hanya sekadar wacana. Hal ini sudah sering menyeruak, khususnya di kalangan para pejalan atau traveler

umroh yuk via kompasiana.com

Mereka yang sudah terbiasa bepergian ke luar negeri dengan cara ngeteng atau backpacker-an melihat hal ini sebagai peluang dan sekaligus tantangan. Kalau kamu pernah bertanya, apakah mungkin menunaikan ibadah di Tanah Suci dengan cara backpacker yang lebih murah dan terjangkau? Jawabannya, sangat mungkin. Umrah backpacker ialah umrah mandiri yang seringkali dinilai lebih fleksibel dari segi harga, jadwal dan pilihan paket yang bisa disesuaikan dengan selera dan budget calon peserta. Istilah backpacker sengaja disematkan sebagai pembeda antara umrah mandiri dan umrah paket reguler dari para travel umrah. Beda signifikannya apa? Sebentar, sabaaar…

Bedanya ada di proses pembelian tiket pesawatnya aja. Dalam umrah backpacker, tiket pesawat bisa kamu beli secara bebas. Bebas memilih kelas penerbangan yang sesuai selera dan budget

make ini nih, cari promo juga kalau bisa via tribunnews.com

Tentang tiket pesawat, tentu bukan hal sulit bagi para backpacker. Berburu tiket murah di tengah malam hingga subuh hari bukanlah hal baru. Bukan begitu? Apalagi sejak ada maskapai Low Cost Carrier membuka rute penerbangan Jakarta-Jeddah, yang transit di Kuala Lumpur dulu. Kalaupun ingin memilih airlines lain, tinggal browsing dan memadukan beberapa connecting flight mulai dari Jakarta hingga Jeddah atau Medinah.

Advertisement

Ada satu hal yang perlu kamu ingat dalam membuat itinerary nanti, khusus untuk keberangkatan dari Jeddah atau Medinah, penumpang sudah harus tiba di airport King Abdul Aziz paling lambat lima jam sebelum jadwal keberangkatan. Jadi, kamu harus siap dengan resiko ngemper di terminal untuk menunggu jam penerbangan. Sudah biasa juga ‘kan selama ini? Hehee… Sekadar saran, kamu bisa menggunakan Air A*ia misalnya. Maskapai ini sering menawarkan harga tiket umrah promo mulai harga 6 juta-an lho untuk rute Jakarta-Jeddah via Kuala Lumpur, pulang-pergi.

Kalau kamu bisa mengusahakan tiket pesawat sendiri, selanjutnya urusan visa dan passport. Bisa ngurus sendiri nggak?

VISA ini yang paling penting. Tanpa ini kamu nggak jadi umrah via rabbanitour.com

Kalau kamu berkunjung ke negara manapun di luar Indonesia, kedua dokumen ini teramat penting. Saudi Arabia nggak memberlakukan Visa On Arrival (VoA) untuk kunjungan apapun, baik umrah, haji ataupun kunjungan biasa. Nah, si Visa ini harus kamu urus dulu ke Kedutaan Besar Saudi Arabia di negara asal sebelum keberangkatan. Sayangnya, visa tidak bisa diurus secara orang per orang atau independen, alias harus kolektif. Di sinilah, kamu terpaksa harus menggunakan biro jasa atau travel. Pihak travel akan mengenakan biaya untuk itu, meski secara resmi yang tertera di stiker visa menyebutkan bahwa visa umrah untuk WNI adalah gratis. Biasanya harga untuk visa umrah senilai 75-100 USD, tergantung travelnya sih. 75 USD sendiri sekitar Rp 975 ribu.

Sebenernya ada cara lain sih, kalau mau agak repot. Jadi gini, kamu bisa menggunakan visa dari berbagai jalur yang memungkinkan untuk bisa masuk ke Arab Saudi. Misalnya, jalur kerja dan studi di Arab Saudi dan negara-negara teluk (GCC). Kalu ini kamu bisa urus visanya sendiri, agak ribet memang.

Lalu, untuk mengurus visa, ada syarat untuk menunjukkan bukti pesanan hotel di Mekkah dan atau Medinah. Jadi, kamu nginep dimana?

cari hotel yang jauh aja ya via wisatanabawi.com

Biasanya, pihak travel akan membuat paket pengurusan visa dan biaya booking hotel sekaligus. Tapi, kalau bisa nego, silahkan minta pengurusan visa saja dan hotel bisa kamu urus sendiri. Banyak yang beranggapan bahwa hotel terbaik saat melakukan umrah adalah hotel yang ada di dekat masjid. Belum tentu lho. Tergantung kebutuhan, tergantung usia, kesehatan, dan tentunya gaya hidup juga. Inget, tujuan umrah itu ibadah, I-BA-DAH. Ibadah terbaik adalah ibadah yang dilakukan di masjid atau baitullah.

Di Tanah Suci, hotel hanya berfungsi sebagai tempat istirahat sejenak untuk mengembalikan dan memulihkan stamina, untuk tidur, mandi, dan makan. Selebihnya, waktumu akan habis untuk beribadah di masjid. Harga hotel di Mekkah dan atau Medinah pun sangat bervariasi. Harga akan ditentukan oleh jarak ke masjid, baik ke Masjidil Haram ataupun Masjid Nabawi. Semakin dekat ya harganya makin mahal. Jadi gini, saran ya, mending kamu cari hotel yang jauuuuh, yang murah, hanya sebagai syarat mendapat visa. Sesampai di sana, kamu bisa kok tidur di masjid, mandi di terminal, makan di emperan. Informasi untukmu, ada apartemen-apartemen murah yang disewakan di radius 1-2 km dari Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, dengan kisaran harga 50-100 Real, atau sekitar Rp 125-250 ribu per malam. Kamu bisa berbagi dengan rekan backpacker lainnya. Per kamar bisa diisi 3-4 orang.

Tentang transportasi di Arab Saudi, mulai dari Jeddah, Mekkah dan Medinah, nggak usah khawatir. Ada banyak bus eksekutif yang beroperasi 24 jam dan siap mengantarmu kemana saja

tenang, nggak usah bingung transportasi umum via kompasiana.com

Selain bus, angkutan umum macam taxi juga tersedia. Meski menggunakan argo, inget, kamu tetep harus menawar terlebih dahulu sebelum naik. Jangan kaget pula, satu taxi bisa diisi beberapa orang, sama ketika kamu naik taxi di Kuala Lumpur sana. Tentang kapan baiknya kamu berangkat umrah, masalah cuaca patut kamu perhatikan. Hindari keberangkatan pada bulan-bulan dengan cuaca yang ekstrem, seperti pada puncak musim panas, yaitu Juni-Agustus, karena suhu bisa mencapai 44-45 C. Sebaliknya, pada musim dingin, yaitu November-Februari suhunya bisa mencapai 8-2 C. Cuaca yang bersahabat ada pada bulan Februari-Mei.

Satu lagi, buat perempuan, kamu harus didampingi muhrim untuk bisa berangkat umrah. Kalau nggak ada? Lagi-lagi, pihak travel bisa membantu, dengan catatan, BAYAR! Bisa disiasati nggak sih?

tenang, segalanya bisa disiasati via konsultasisyariah.com

Terkhusus untuk para perempuan, utamanya yang belum menikah dan berusia kurang dari 45 tahun, kamu bisa melakukan umrah tanpa ditemani mahram kok, tapi harus melampirkan surat mahram. Nah, surat ini bisa diminta saat pengajuan visa, dan bisa dibuat dengan biaya sekitar Rp 250 ribu sampai Rp 500 ribu. Tapi kalau backpacker ya jangan sendirian lah, usahakan mengajak beberapa teman, minimal 3-4 orang, atau bergabunglah dengan komunitas umroh backpacker lainnya. Selain bisa meminimalisasi kemungkinan tersesat sendirian, kamu juga bisa berbagi banyak hal, sehingga bisa memudahkan perjalanan dan meringankan biaya operasional.

Jadi, kapan nih berangkat umrah backpacker? Inget, ini bukan buat keren-kerenan, ibadah.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya