Dewasa ini, menjadi traveler rasanya kurang afdol kalau cuma jalan-jalan biasa. Memang, traveler melakukan perjalanan untuk mendapatkan hal-hal baru yang bisa dipelajari dan untuk menambah wawasan. Lalu, setelah itu, apa? Apa yang akan kamu lakukan atas pengetahuan baru yang sudah kamu dapatkan dari perjalananmu itu? Hanya akan kamu ingat-ingat?

Salah satu cara yang bisa kamu lakukan untuk menyimpan pengetahuan dan pengalaman baru yang kamu dapatkan itu, cobalah untuk menuliskannya. Kalau menurutmu nulis itu nggak banget, pernah kepikiran buat jadi travel blogger nggak? Nah, kali ini Hipwee Travel akan berikan tips menjadi travel blogger ala Iqbal Kautsar, salah seorang travel blogger yang sudah termasyur di kalangan para blogger. Cekidot!

Sikap terbuka menjadi gerbang utama buat kamu yang ingin menjadi travel blogger. Menulis dengan open minded

Bersikap terbuka. via diasporaiqbal.blogspot.co.id

Untuk menjadi seorang travel blogger, kamu butuh yang namanya sikap terbuka. Artinya, kamu nggak boleh judging atau menuduh sesuatu tanpa tahu asal usul dan kebenarannya. Selama kamu menuduh sesuatu tanpa tahu kebenarannya, selama itu pula kamu nggak akan bisa menerima hal-hal baru yang sebenarnya perlu kamu tahu. So, bersikaplah terbuka untuk mendapatkan hal-hal baru dari setiap perjalananmu.

Mengingat nama orang yang kamu temui, akan memudahkanmu untuk mengawali tulisanmu. Selalu ingat nama, ya! jangan cuma rasa!

Advertisement

Kalau kata Iqbal Kautsar, mengingat nama orang itu penting. Sebab, nggak semua orang dengan mudah mengingat nama dan wajah seseorang dengan begitu saja. Upayakanlah kamu ingat nama dan asal usul orang-orang yang baru kamu temui. Dengan mengingat nama, kamu akan dengan mudah untuk mengawali tulisanmu. Masih menurut Iqbal, meruntutkan tulisan yang diawali dari perkenalan nama seseorang akan memudahkan dalam melanjutkan tulisan berikutnya, seperti memasukkan latar tempat tinggal, panorama, dan sebagainya.

Amati dan rekam semua yang kamu lihat dan rasa dengan panca indera. Nikmati suasana sampai meresap ke dalam jiwa

Amati dengan jeli. via www.instagram.com

Sebagai penulis, kamu harus bisa bersikap lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Poin yang perlu kamu perhatikan, perhatikan gejala sosial yang ada dan sedang terjadi. Kalau kamu mau bikin tulisan tentang panorama, cukup hayati keadaan yang ada sampai meresap ke dalam jiwa. Supaya tulisanmu lebih mengena ke pembaca.

Cobalah untuk berinteraksi secara intensif dengan warga lokal. Supaya surveimu lebih akurat dan mendalam

Untuk membuat tulisan berupa laporan perjalanan dan fenomena sosial masyarakat, kamu perlu yang namanya interaksi dengan warga lokal. Kamu harus tahu bagaimana keadaan mereka di lingkungannya, kegiatan mereka setiap hari, gaya hidup, sejarah, dan budaya serta kepercayaan yang mereka anut. Tujuannya adalah agar tulisanmu lebih dalam, lebih bernas, dan lebih bisa memengaruhi para pembaca. Dengan begitu, pembaca akan merasa tulisanmu itu penting dan perlu untuk dibaca atau bahkan disebarluaskan, seperti yang Iqbal Kautsar lakukan pada para pembacanya.

Dalam menulis, secara teknis kamu perlu merajutnya dengan data-data sekunder. Agar makin matang hasil tulisanmu.

Perlu mencari data sekunder via www.instagram.com

Selain berinteraksi secara intensif dengan para penduduk lokal, kamu perlu juga menambahkan bahan-bahan sekunder untuk ‘menggemukan’ tulisanmu. Biar tulisanmu itu lebih berbobot dan nggak sekadar laporan perjalanan yang alay. Sebagai travel blogger, tujuan utamamu adalah untuk mengangkat kearifan lokal tempat yang kamu kunjungi. Sudah pasti, blog yang kamu kelola akan menjadi guide book bagi para orang yang membutuhkan ulasan tertentu.

Kembali ke poin pertama, sikap terbuka. Cobalah untuk menulis dengan sudut pandang pribadimu yang berbeda dengan yang lainnya

Sudut pandang. Foto ini sempat diterbitkan oleh Natgeo beberapa waktu lalu. via www.instagram.com

Dengan kamu bersikap terbuka terhadap segala hal baru yang belum kamu ketahui, kamu bisa menilai bagaimana sesuatu itu yang sebenarnya. Karena kamu telah mengumpulkan data dari hasil kunjunganmu ke tempat tersebut dan menambahkannya dengan data-data sekunder. Setelah semua data terkumpul, mulailah menulis. Tapi ingat, jangan asal menulis, ya! Cobalah untuk menulis dengan gaya dan sudut pandangmu sendiri. Cobalah untuk melihat sesuatu (hal baru) dengan kacamata yang lain daripada yang lain.

Tambahkanlah foto yang ‘berbicara’ pada tulisanmu. Bukan cuma foto selfie loh, ya!

Seorang yang memilah rumput laut kering, Kertasari, Sumbawa Barat. via diasporaiqbal.blogspot.co.id

Sebagai pelengkap, tambahkan beberapa foto yang seolah ‘berbicara’ pada pembaca. Seperti yang dilakukan Iqbal Kautsar, ia selalu menambahkan foto sebagai pelengkap tulisannya. Dan hal ini keren banget! Kadang, beberapa orang akan langsung jatuh hati pada sebuah gambar yang dilihatnya, lalu tertarik untuk membaca tulisan yang terkandung di dalamnya. Coba deh buka blog travel blogger yang baru dikaruniai satu anak ini.

Last but not least, menambahkan pesan-pesan kearifan (budaya, lingkungan, dll.) agar lebih bermakna, supaya tulisanmu lebih cantik!

Setelah kamu rasa tulisanmu lengkap dengan foto-foto yang berbicara, coba deh sempurnakan tulisanmu itu dengan pesan-pesan kearifan budaya, lingkungan, atau sebagainya. Agar tulisanmu itu lebih bermakna dan makin asyik buat dibaca. Apa sih tujuanmu menulis, selain untuk dinikmati para pembaca?

Nah, itulah beberapa tips yang bisa kamu terapkan untuk menjadi travel blogger seperti Iqbal Kautsar! Seperti halnya Iqbal Kautsar, harapan semua travel blogger tentu seperti ini:

Bisa terus traveling dan terus menuliskannya dalam blog. Lebih jauh, lebih sering, dan lebih bermakna. Dengan begitu, identitas sebagai travel blogger tetap terjaga. – Iqbal Kautsar.

So, keep traveling and write it down!