Memiliki anak tentu jadi impian pada sebagian besar pasangan yang sudah menikah. Namun, beberapa di antaranya justru memilih untuk menunda untuk mempunyai anak terlebih dahulu dengan beberapa alasan. Ada yang karena long distance reliationship (LDR) yang terlalu jauh (beda negara), ada yang karena masih dalam masa kuliah, atau mungkin masih sibuk dengan pekerjaan saat ini di mana pulang sudah larut dan keesokan harinya harus kembali berangkat bekerja pagi-pagi buta.

Terkesan egois memang. Rasanya pasangan dengan keputusan ini seperti tidak mau direpotkan dengan hadirnya seorang anak. Namun, mem-bully apalagi memberi penilaian secara subyektif juga bukan ranah kita. Mereka pasti punya penjelasan panjang lebar mengenai apa yang sudah menjadi pilihannya. Nah, jika kamu juga salah satu orang yang berniat untuk menambah deretan panjang pasangan yang menunda untuk mempunyai anak setelah menikah, ada beberapa hal yang harus kamu ketahui agar tak kaget di kemudian hari.

1. Bicarakan baik-baik keputusanmu bersama pasangan dengan masing-masing orangtua

Bicarakan baik-baik dengan orang tua via tipy.interia.pl

Bagi orangtua, dikaruniai seorang cucu adalah anugerah yang sangat luar biasa. Tersirat rona bahagia yang terpancar saat di masa tuanya ada tawa riang dari mulut mungil sang cucu yang menghibur hari-harinya. Jika pada akhirnya kamu dan pasangan memilih untuk menunda mempunyai anak, bicarakan baik-baik rencana ini di awal, lebih baik lagi jika dibicarakan sebelum proses pernikahan berlangsung.  Meski berat dan terselip sedikit rasa takut, ini lebih baik daripada orang tuatahu belakangan atau malah sengaja ditutup-tutupi. Sampaikan dengan beberapa alasan kuat mengapa keputusan ini yang akhirnya kamu ambil.

2. Harus siap dengan pertanyaan dan tudingan orang

Harus siap dengan tudingan orang via www.collective-evolution.com

Advertisement

“Eh, kok belom isi juga, sih? Si Neng itu lho baru bulan lalu nikah, sekarang sudah positif hamil.”

“Kamu sih sok sibuk, tuh ‘kan jadi belom hamil juga!”

“Nggak mau repot ya?”

Setelah menikah, jangan harap kamu akan bebas dari pertanyaan ‘kapan’ yang menghantui itu. Kita sendiri tidak bisa mengendalikan orang akan berkomentar apa. Sayangnya, banyak di antara mereka yang terlalu ikut campur. Tahu sendiri orang-orang di sekitar kita tingkat ingin tahunya terlalu tinggi, sampai ke urusan pribadi saja mereka ikut cerewet.

Awalnya kamu mungkin menganggap omongan itu angin lalu, tapi lama-lama kesal juga. Walaupun menunda untuk tidak segera punya anak adalah keputusanmu sendiri, tudingan bahkan sampai bully-an macam ini harus siap kamu terima dengan hati lapang. Kalau sudah sampai pada tahap yang menyebalkan, balas dengan senyuman saja.

3. Punya batas waktu. Jangan sampai kebablasan!

Jangan malah kebablasan via aprilkirkwood.com

Saat berencana akan menunda punya anak, kamu dan pasangan juga wajib untuk menentukkan batas waktu maksimal. Jangan sampai kalimat ‘kita lihat nanti sambil jalan’ membuat kalian malah keenakan dengan kesibukan masing-masing dan kebablasan. Sampai akhirnya dalam hitungan tahun kamu dan pasangan sama-sama terlena dengan rutinitas sampai lupa untuk menjalankan program kehamilan. Kalian menikah memang karena ingin hidup berdua, namun kehadiran seorang anak dalam sebuah hubungan suami istri juga penting, lho!

4. Kalau ternyata tiba-tiba hamil, syukuri dan jangan menyalahi takdir

Syukuri and be happy! via www.sheknows.com

Jika pada akhirnya ternyata kamu tiba-tiba hamil saat masih dalam program menunda untuk mempunyai anak, syukuri dan jangan sekali-kali menyalahkan takdir. Meski kamu sudah melakukan beberapa cara untuk tidak hamil lebih dulu, semua bisa saja tidak sesuai rencana saat Tuhan berkehendak lain. Bagaimanapun juga, kehamilan harus dijalani dengan rasa senang, maka, buang jauh-jauh pikiran yang mengganggu. Selalu positive thinking dengan apa yang sudah digariskan Tuhan karena pastilah ada hal baik yang menunggu di ujung sana.

Untukmu yang sedang atau akan memilih untuk mengambil tahapan ini, jangan lupa bahwa manusia memang bisa menyusun banyak rencana, tapi Tuhanlah yang akhirnya menentukan segalanya.

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya