Tahun sudah 2017, resepsi pernikahan kian banyak dari hari ke hari. Hitung saja, di awal tahun ini sudah berapa undangan pernikahan yang akan kamu datangi? Namun meskipun begitu, masih ada saja kicauan atau meme yang cenderung mendiskreditkan perempuan semacam ini:

Membandingkan uang lamaran vs kemampuan seorang wanita via www.facebook.com

Iya, sekilas memang ada benarnya. Ketika membandingkan budaya konsumerisme dan pertumbuhan ekonomi yang semakin meningkat membuat para wanita lebih punya kebebasan dan kemampuan untuk membeli ponsel pintar untuk selfie dan update status. Sementara ibu-ibu atau nenek-nenek kita tidak punya pilihan aktifitas sebanyak sekarang.

Tapi kalau dipikir-pikir; nggak gitu juga kali

Postingan ini akan mengajak kamu untuk berpikir bahwa perempuan itu (jaman dulu atau sekarang) tidak dinikahi untuk dibeli. Jadi, berpikir ulanglah kalau kamu tiba-tiba nemu meme dengan kesan mendiskreditkan seperti itu.

Menikah adalah kesepakatan berdua dan atas persetujuan kedua belah pihak termasuk keluarga. Jadi nggak sesederhana uang lamar-melamar

Advertisement

perjanjian laki-laki dan perempuan via www.creativefotografi.com

Memang dalam menikah, ada prosedur mahar atau sejumlah harta yang diberikan untuk syarat sahnya pernikahan. Tapi bukan berarti dengan pemberian uang itu bermakna ada transaksi ‘pembelian’ pengantin cewek oleh cowok. Lebih dari itu, menikah adalah tentang perjanjian yang dilakukan oleh dua belah pihak, yakni cewek dan cowok plus keluarga besar. Jadi sama sekali nggak ada unsur jual-beli di sini.

Akad dalam pernikahan adalah perjanjian sehidup semati, bukan perjanjian jual beli. Memangnya kamu sebagai cewek, mau jadi barang dagangan?

bukan barang dagangan via ridvanmau.com

Baik cewek maupun cowok, jangan mau kalau tujuanmu menikah/dinikahi adalah untuk transaksi. Pernikahan idealnya dilandasi dengan komitmen dan rasa kasih sayang antara sepasang manusia. Menerima kekurangan dan kelebihan dari pasangan adalah wajib adanya.

Juga bukan merupakan perjanjian kontrak dengan karyawan. “Kulamar kau dengan imbalan nyuci, masak, urus anak,” yakin begitu adanya?

dilamar bukan transaksi dengan calon karyawan via make-your-wedding.blogspot.co.id

Yang perlu kamu tekankan juga, bahwa menikah bukan perjanjian kontrak kerja. Punya skill lebih itu baik, tapi dalam pernikahan, tujuannya bukan mencari skill. Tetapi lebih ke mencari pasangan hidup yang setia menemani seterusnya. Bukan setia nyuciin baju-bajumu saja.

Setelah menikah, cowok mendapatkan istri, dan cewek mendapatkan suami. Tidak ada istilah mendapatkan pembantu atau ATM berjalan

saling bagi tugas via www.youtube.com

Cowok, tugasmu bukan menjadi ATM berjalan untuk istrimu. Artinya, calon istrimu juga bukan barang jadi yang bisa kamu beli sesuka sendiri. Kalian akan menjadi suami-istri bukan bos-karyawan atau penjual dan pembeli.

Setelah menikah, yang ada adalah kerjasama kedua belah pihak. Bukan saling lempar tugas: ini pokoknya aku, ini pokoknya kamu

semua dipikirkan bersama via www.vebma.com

Menikah adalah persoalan kerjasama antar dua belah pihak. Kalau cuma salah satu pihak saja yang beupaya, bukan pernikahan namanya. Apalagi di jaman sekarang ini, skill sederhanapun seperti memasak, angkat galon, membersihkan rumah bukan hanya monopoli satu gender saja. Yuk, yuk kembangkan diri lagi agar semakin pantas untuk calon kamu kelak.

Pikirkan kembali: kalau jaman itu membeli ponsel pintar sudah semudah ini, yakinkah bahwa wanita jaman dulu tidak gemar selfie dan update status?

perbedaan fasilitas via www.kanthalaraghu.com

Jika di meme di atas berfokus pada cewek dulu vs sekarang, coba pikirkan kembali hal-hal ini:

  • Dulu belum ada fasilitas smartphone seperti sekarang
  • Kurs rupiah dan nilai mata uang dulu dan sekarang
  • Mayoritas pekerjaan cewek, apakah menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir
  • Tuntutan hidup, di mana konsumsi rumah tangga dulu vs sekarang
  • dsb

Wanita di era manapun punya tantangan dan masalahnya sendiri. Jaman sekarang misalnya, menjadi wanita karir sekaligus ibu rumah tangga adalah salah satunya

Mom working from home via www.kitamuda.id

Wanita dari jaman manapun punya masalah dan tantangannya sendiri-sendiri yang tidak bisa dibandingkan begitu saja tanpa mencari titik temunya terlebih dulu. Ibu-ibu kita punya tantangan harus pintar memasak karena kebutuhan yang mahal dan belum banyak jasa warung makan (misalnya). Sementara wanita sekarang disibukkan dengan mengejar karir yang juga bermanfaat untuk menunjang perekonomian keluarga.

Itulah alasan mengapa sebaiknya berhati-hati dalam mengambil kesimpulan, apalagi berdasarkan meme berukuran sekian piksel. Belajar lebih positif yuk,

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya