• 10 November 2016

Dari pemutaran dan diskusi FFF yang dilakukan, pasti akan ada banyak hal baru yang diperoleh.

Penonton bisa semakin peka dengan persoalan yang ada di sekitar. Perspektif yang dipahami pun bakal tambah luas.

Menonton film itu magis. Penonton bisa begitu saja terikat oleh penceritaan, audio, maupun visual yang dipancarkan layar.

Penonton juga bisa ikut merasakan berbagai pengalaman mulai dari yang sangat berbahaya hingga yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya tanpa harus ikut bersusah payah.

Tentu saja film semestinya tidak hanya menjadi konsumsi apresiasi entitas terbatas. Oleh karena itu, Jogja saat ini menjadi destinasi utama kalau orang-orang ingin merasakan atmosfer apresiasi film. Tidak terhitung banyaknya festival film yang digelar sepanjang tahun. Sebut saja dari yang sekaliber JAFF dan Festival Film Dokumenter, hingga pemutaran kecil-kecilan berskala komunitas.

Advertisement

Di penghujung 2016 ini ada satu lagi ruang apresiasi film yang tidak bisa kamu lewatkan: Forum Film FISIPOL (FFF)! Ajang ini diselenggarakan untuk memeriahkan Dies Natalis FISIPOL UGM ke-61.

Apa yang menjadi pembeda FFF? Tentu saja karena kegiatan ini diprakarsai oleh FISIPOL. Akibatnya, pendekatan apresiasinya pun dilihat dari sudut pandang sosial-politik. Perpaduan antara isu sosial-politik dan film selalu menarik buat disimak. Selain itu, FFF tidak hanya berhenti di mengapresiasi film secara pasif, namun juga mengadakan diskusi untuk lebih memahami isu-isu yang telah diangkat.

Namun, selain itu masih ada lima alasan lain mengapa kamu harus datang ke Forum Film FISIPOL 2016. Cek daftar ini!

  1. Menonton film-film yang menyematkan pesan penting

Dinas Kebudayaan DIY/Labide Film via twitter.com

Tidak salah kalau kamu memposisikan film sekadar sebagai media hiburan. Namun, kalau menyelami lebih dalam, film tidak sesederhana itu. Selalu ada pesan penting yang coba disampaikan oleh filmmaker-nya.

Salah satunya, coba besok simak film “Provokator Damai” di FFF. Film ini berkisah tentang konflik yang mendera Maluku periode 1999-2002 yang tidak hanya menelan korban jiwa. Konflik memaksa komunitas Kristen dan Muslim hidup tersegregasi dan penuh trauma. Muhammad Yusuf Laga dan Heni Lilikwati menyembuhkan trauma melalui program live-in yang diprakarsai Pendeta Jacky Manuputty dan Ustad Abidin Wakano.

  1. Bertemu dan mengobrol langsung dengan tokoh-tokoh yang peduli dengan isu-isu sosial-politik

Selain menyaksikan film, nilai tambah dari acara pemutaran film adalah bisa mendengarkan cerita dari orang di belakang layarnya, langsung.

Di FFF, kamu tidak hanya mendengarkan mereka bicara, namun kamu juga bisa bertukar pikiran dengan para tokoh yang peduli dengan isu-isu sosial politik. Ada Garin Nugroho, Tonny Trimarsanto, sineas-sineas yang filmnya ditayangkan, pun berbagai NGO terkait.

  1. Menambah wawasan atas persoalan yang terjadi di sekitar

(BORNEO Film)

Dari pemutaran dan diskusi FFF yang dilakukan, pasti akan ada banyak hal baru yang diperoleh.

Penonton bisa semakin peka dengan persoalan yang ada di sekitar. Perspektif yang dipahami pun bakal tambah luas.

  1. Melihat film tidak hanya sebagai hiburan untuk membunuh waktu

(buttonijo/Studio Antelope) via google.com

Menyambung poin pertama, FFF menyajikan beragam judul film yang pasti bisa mematahkan stigma “membunuh waktu”. Ya, film-film di sini masih tetap akan menghibur dan memberikan insight baru, tetapi ada pula hal lain yang bisa diperoleh.

Lihat saja dari tema-tema yang diangkat, seperti: Mendedah SARA, Seksualitas dan Politik, Biar Bicara Papua, Batas dan Identitas, sampai Tanah dan Rupa Konfliknya.

  1. Selangkah menuju perdamaian dunia dengan bertoleransi

Selaras dengan tema acaranya, “Kita Berhak Damai”, film-film yang ditayangkan juga membawa pesan toleransi demi perdamaian dunia.

Salah satu filmnya berjudul “Cheng Cheng Po”. Film ini kisah tentang persahabatan sekelompok anak dari beragam latar budaya. Ketika Han tidak mampu membayar SPP, Tohir, Markus, dan Tiara berusaha membantunya. Sebuah cara jenaka untuk memaknai Bhinneka Tunggal Ika.

Jadi, masih cari alasan buat melewatkan rangkaian screening ini? Simpan tanggal 10, 11, dan 12 November 2016 di kalendermu, lokasinya di Kampus Fisipol UGM Bulaksumur dan Kedai Kebun Forum Tirtodipuran. Jangan lupa registrasi melalui goo.gl/u93u7v untuk mengamankan tempatmu.

Sampai bertemu di Forum Film Fisipol 2016!