Indonesia baru aja kembali dilanda gempa bumi. Setelah gempa Lombok dan Palu-Donggala yang banyak memakan korban dan kerugian, kali ini giliran Situbondo, Jawa Timur. Gempa berkekuatan 6,4 SR dilaporkan mengguncang Situbondo hingga bisa dirasakan daerah-daerah di sekitarnya, seperti Banyuwangi, Madura, Surabaya, dan Malang, dan lain-lain. Meski katanya tidak berpotensi tsunami tapi karena kita udah terlanjur trauma sama 2 gempa besar sebelumnya, kejadian tadi malam tetap menyisakan ketakutan tersendiri.

Seperti sebelum-sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), melaporkan adanya gempa Situbondo lewat akun Twitter resminya, sesaat setelah gempa terjadi. Tapi yang lucu, ada salah satu pengguna Twitter yang keberatan karena menurutnya BMKG harus memberi peringatan jauh-jauh sebelum gempa terjadi, biar masyarakat bisa antisipasi. Ia pun terlibat perdebatan dengan pengguna lain yang menilai gempa bumi tidak bisa diprediksi dan diketahui dengan pasti tanggal dan jam berapa datangnya.

Advertisement

Pernyataan soal gempa yang sulit diprediksi itu benar adanya. Sampai saat ini pun ilmuwan dunia masih sulit merumuskan metode yang bisa menebak kapan gempa bakal datang. Kali ini Hipwee News & Feature sudah merangkum sederet alasan kenapa gempa bumi memang susah atau hampir mustahil untuk diprediksi. Simak deh!

1. Gempa itu terjadi karena ada semacam ‘dorongan’ dari dalam bumi, ratusan kilo meter jauhnya di bawah permukaan tanah. Sangat sulit memahami gimana pergerakan bebatuan jauh di dalam sana

Sumber getaran jauuuh berada di dalam permukaan bumi via www.dailymercury.com.au

Getaran-getaran yang bersumber dari bawah bumi itu sulit diprediksi karena jaraknya yang sangat jauh dari permukaan. Bahkan mungkin kekuatan yang mendorong pergerakan bebatuan itu jauhnya bisa sampai inti bumi. Dilansir dari Forbes, teknologi dan tenaga manusia saat ini belum memadai buat melakukan penelitian sampai sejauh itu. Pengeboran zona sesar adalah operasi yang cukup sulit dilakukan. Kalaupun bisa, butuh biaya yang tidak murah.

2. Sebuah prediksi gempa yang valid akan membutuhkan semacam sinyal yang menandakan gempa besar akan datang. Tapi sampai saat ini, ilmuwan belum bisa menemukan sinyal semacam itu

Dari semua metode yang dicoba, belum ada yang bisa menghasilkan data valid via www.btvi.in

Advertisement

Balik lagi ke pusat gempa yang umumnya berada jauh sekali di bawah permukaan. Untuk bisa menciptakan sinyal gempa, tentu harus ada banyak riset ke sana. Paling tidak, ada alat yang dipasang di bawah bumi buat mendeteksi getaran-getaran tidak biasa. Padahal buat sampai ke sana aja sulit sekali. Selama ini para ilmuwan sudah sering mencoba menggunakan berbagai metode, seperti menghitung fluktuasi emisi gas radon sampai mengamati perilaku ganjil binatang. Gas radon ini dipercaya akan lepas dari rongga dan retakan saat kerak bumi menegang menjelang gempa.

Sayangnya, metode-metode itu belum bisa memberikan hasil yang valid. Soalnya gas radon juga bisa dihasilkan dari tanah longsor, reaksi kimia dalam air tanah, dan bebatuan yang hancur. Tidak semata-mata cuma dari getaran kerak bumi aja.

3. Yang kini bisa dilakukan ilmuwan baru sampai tahap memetakan daerah-daerah yang berpotensi gempa. Itu pun prediksinya bisa bertahun-tahun sebelumnya. Kalau suruh nebak tanggal dan waktu gempanya, tetap aja mustahil

Pemetaan potensi gempa di berbagai negara di dunia via www.cbc.ca

Para ilmuwan memang bisa memprediksi wilayah-wilayah mana saja di bumi ini yang rentan didatangi gempa bumi, lewat mempelajari struktur wilayah tersebut, jumlah sesar atau lempeng yang rentan ‘bergerak’, atau zona seismik aktif di sekitarnya. Prediksi ini bisa dilakukan bertahun-tahun sebelum kejadian. Tapi untuk menentukan kapan tepatnya gempa itu datang hingga berapa magnitudonya, rasanya itu masih mustahil dilakukan. Setidaknya sampai hari ini.

4. Sebenarnya getaran-getaran tidak biasa sebelum gempa bisa tertangkap oleh radar detektor. Tapi itu terjadi tidak lama sebelum gempa, jadi kemungkinan orang-orang tetap tidak punya waktu menyelamatkan diri

Tetap aja nggak punya waktu banyak buat lari via www.foxnews.com

Peringatan yang mungkin dilakukan itu paling cepat mungkin cuma beberapa menit (bahkan detik) sebelum gempa benar-benar terjadi. Soalnya getaran-getaran di bawah permukaan sebelum gempa ‘meledak’ sebetulnya bisa dideteksi. Tapi ya itu tadi, selisih waktunya antara getaran terdeteksi sampai gempa beneran terjadi itu tipis banget. Kemungkinan besar masyarakat tetap kehabisan waktu buat melarikan diri.

5. Selama ini para ahli, termasuk BMKG baru bisa mendeteksi adanya gempa susulan setelah gempa pertama terjadi. Kalau memprediksi gempa pertamanya, masih sulit sekali dilakukan

Yang paling mungkin bisa dilakukan cuma memprediksi gempa susulan via phys.org

Kebanyakan gempa destruktif itu muncul tanpa diduga-duga, tanpa ada tanda gempa kecil sebelumnya. Selama ini para ahli kegempaan –kalau di Indonesia BMKG– baru bisa mendeteksi gempa susulan yang bakal terjadi setelah gempa pertama. Jadi harus gempa dulu baru bisa dianalisis, apakah akan ada gempa susulan, atau apakah gempanya berpotensi tsunami. Kalau untuk merilis peringatan beberapa waktu sebelum gempa pertama melanda, rasanya masih sangat sulit.

Belum adanya teknologi yang bisa mendeteksi gempa secara akurat bukan berarti menunjukkan kalau para ilmuwan di luar sana cuma diam saja. Saat ini riset-riset soal kegempaan yang dikembangkan memang cenderung fokus ke penemuan dan pemetaan sumber gempa. Selain itu mereka juga menganalisis karakteristik setiap gempa yang terjadi. Data-data tersebut tentu sangat berguna sebagai mitigasi dan menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko gempa bumi. Semoga suatu saat nanti, ada cara, teknologi, maupun inovasi yang akhirnya dapat memperkirakan datangnya gempa bumi supaya lebih banyak lagi nyawa manusia yang dapat dilindungi…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya