Eh, kok lu gendutan sih sekarang? Wah makmur dong hidupnya?

Berbeda dengan realita zaman kerajaan dulu ketika semua serba terbatas, badan gemuk itu jadi pertanda dari status kelas atas seseorang. Pasalnya, hanya orang-orang berada yang mampu makan berlebih. Namun di zaman modern saat ini, obesitas atau berat badan berlebih itu justru bisa jadi pertanda bahwa orang tersebut sedang stres beratStress eating yang populer dikaitkan dengan kebiasaan makan berlebih akibat stres, sebenarnya sangat berbahaya.

Advertisement

Banyak orang yang nyatanya menjadikan makanan sebagai ‘pelarian’ dari penatnya pikiran. Namun fenomena ini bukannya tidak bisa dijelaskan secara ilmiah lho, ada serangkaian penelitian yang berupaya menjelaskan hubungan antara stres dan nafsu makan yang berlebih. Nah supaya nggak terjerumus ke kebiasaan buruk ini, yuk sedikit-sedikit pelajari seluk beluk stress eating bareng Hipwee News & Feature!

Banyak yang terjerumus karena tertipu. Ketika stres, sensasi awal di otak seakan-akan membuat kita tidak ingin melakukan apa-apa. Termasuk makan

Padahal sensasi tersebut biasanya akan berbalik via unsplash.com

Ketika mengalami stres dan banyak tekanan untuk berpikir, biasanya seseorang akan langsung merasa hilang semangat dan tidak ingin melakukan apa-apa. Termasuk makan. Banyak orang awalnya justru kehilangan nafsu makan ketika sedang stres. Dilansir dari Business Insider, ada bagian di otak kita yang disebut dengan hypothalamus. Bagian ini menghubungkan perasaan gelisah yang dialami seseorang dengan sistem hormon.

Ketika perasaan gelisah muncul terlalu banyak, maka bagian ini akan memproduksi hormon yang bisa menekan nafsu makan. Kelenjar adrenal manusia juga memproduksi adrenalin yang memposisikan kita pada kekacauan. Jika kekacauan itu terus-terusan dipikirkan, maka nggak ada lagi ruang buat memikirkan soal makanan dan rasa lapar.

Tapi ternyata dalam jangka panjang, stres justru mendorong produksi hormon yang memicumu untuk terus makan lebih banyak

Habis makan coklat aku bakal lebih bahagia! via www.goodreads.com

Advertisement

Sedangkan dalam jangka panjang, efeknya justru berkebalikan. Stresmu yang sudah berkepanjangan itu bisa memicu kelenjar adrenal memproduksi lebih banyak cortisol, hormon ‘bahagia’ sebagai strategi pertahanan tubuh. Namun produksi hormon ini ternyata seringkali memicu nafsu makan yang berlebih. Hormon ini meningkatkan motivasi dan keinginan untuk selalu makan. Dalam Bahasa Inggris, fenomena inilah yang disebut dengan stress eating.

Dalam suatu kondisi stres yang cukup lama, otak kita memang mendorong kita mengonsumsi makanan yang enak. Sayangnya definisi makanan enak di benak banyak orang itu adalah makanan manis, penuh gula, penuh lemak, hingga junk food yang benar-benar nggak sehat. Saat banyak pikiran, dijamin deh nggak sempet buat memikirkan berapa kalori yang sudah dikonsumsi dalam sehari. Yang ada di otak kita kebanyakan: sudahlah, makan saja, kamu pantas makan yang enak-enak karena sedang menderita.

Di samping pergelutan hormon, stres juga membuat siklus tidur kacau. Ternyata kurang tidur bisa jadi faktor yang bikin nafsu makan tidak terkontrol

Bukannya tidur malah kelaparan dan makan via www.independent.co.uk

Bukan rahasia lagi kalau stres dan kecemasan bikin malam-malam kita dipenuhi oleh usaha memejamkan mata dan melupakan sejenak semua masalah yang ada. Namun tetap saja, hasilnya kita jadi begadang dan kurang tidur. Sebuah penelitian menyatakan kalau ternyata orang yang memiliki masalah dengan tidurnya cenderung mengonsumsi 385 kalori lebih banyak dari pada meraka yang tidur normal. Jadi sekalipun sedang stres, pastikan kamu sebisa mungkin memenuhi kebutuhan tidur yang mencukupi.

Parahnya setelah stres sudah usai, nafsu makan kita bisa tetap liar. Padahal sudah lebih happy

Akhirnya move on juga, lalu merayakannya dengan makan-makan via www.theodysseyonline.com

Yang jadi PR, setelah kita nggak lagi stres, hormon corsitol pemicu nafsu makan itu tetap ada. Hormon ini kadang bisa berkurang setelah kita mengonsumsi gula. Akhirnya saat stres datang lagi, hormon kita jadi ‘manja’ dan hanya ingin makan gula untuk menguranginya. Begitu pula dengan makanan enak penuh lemak yang kita konsumsi saat stres. Karena merasa sedikit terhibur dengan makanan enak ini, lain kali kita merasa stres secara nggak sadar kita akan melampiaskannya pada makanan. Masih mending kalau makanannya sehat, nah makan gula dan penuh lemak selain bikin gendut juga memicu penyakit diabetes. Malah bahaya nih.

Biar stresmu gak bikin kamu jadi gendut dan penyakitan, coba arahkan energimu untuk hal positif. Contohnya dengan olahraga, meditasi, dan yoga

Tenangkan pikiran, jangan biarkan amarah menguasaimu ya! via howhypnosiswork.com

Sulit banget memang mengontrol emosi dan pikiran yang berkecamuk. Rasanya ingin terus-terusan menghibur diri biar nggak kepikiran lagi. Tapi namanya juga masalah, pilihannya antara; lari atau hadapi. Kalau kamu mencoba lari, masalahnya nggak akan selesai, pelampiasannya jadi ke makanan lagi sampai dibela-belain begadang semalaman. Arahkan kecemasanmu ini untuk berolahraga, meditasi atau yoga yang bisa membersihkan pikiran dari hal negatif. Kalau nggak bisa tidur, kamu bisa mencoba melampiaskan beban pikiranmu lewat seni, seperti tulisan, lukisan, atau gambar. Setidaknya bebanmu bisa terkurangi.

Semua orang pasti pernah mengalami stres dan menghadapi masalah pelik dalam hidup. Bedanya adalah bagaimana cara menyikapinya. Lari atau hadapi? Ketika lari justru membuatmu makin kacau dan cenderung ketemu masalah yang sama di kemudian hari, maka menghadapinya adalah pilihan yang paling bijak. Setidaknya kamu bisa belajar untuk jadi pribadi yang tegar.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya