Syarat bahagia menulis ada dua: 1) dibebaskan menulis apapun. 2) dibaca banyak orang.

Saya mendapatkan keduanya di Hipwee. Ketika pertama kali bergabung dengan Hipwee pada dua tahun lalu, tak banyak ekspektasi yang saya punya selain bahwa Hipwee adalah satu lagi media anak muda sok iye yang orientasinya hanya merilis artikel yang laku keras.

Advertisement

Sekarang, saya ingin bilang ke diri saya versi dua tahun lalu,”kamu ganteng, tapi sayangnya kamu anaknya kurang riset.”

Tentu saja laku itu penting, ada puluhan orang di sini yang cari makan dari sana (sebagian sudah berkeluarga, sebagian lagi belum tapi porsi makannya sama dengan satu keluarga), namun cara yang ditempuh tidak sekaku kanebo kering. Ada keterbukaan dalam proses kreatif, semangat untuk mengembangkan diri bersama, dan berbagai romantisme lain yang membuat bekerja di Hipwee tidak terasa sebatas menjadi mesin pengeruk uang. Hei hei hei, di mana lagi kamu bisa punya puluhan juta orang yang siap membaca apa yang kamu tulis secara bebas?

Itu yang saya dapatkan di Hipwee. Lalu apa yang akan kalian dapatkan sebagai pembaca? *nada sales menawari jasa asuransi*

Advertisement

Tepat hari ini, 17 April 2018, Hipwee resmi menginjak usia keempatnya. Banyak perubahan konten terjadi di rentang waktu itu. Respons pembaca juga variatif, ada yang makin jatuh hati, ada juga yang marah-marah. Namanya juga perubahan, selalu ada konsekuensinya. Yang penting, semangatnya tetap sama.

Kini, semenjak mengomandoi redaksi Hipwee, saya berupaya menjaga segala sesuatu yang kalian cintai dari Hipwee, dan mengembangkan segala sesuatu yang membutuhkan sentuhan-sentuhan lebih gila. Adalah komitmen Hipwee untuk menemani langkah anak muda Indonesia. Sialnya, anak muda ini suka tantrum, tak mau diam, mereka terus berkembang. Maka, Hipwee juga harus berkembang untuk dapat mengejar dan selalu bersanding dengan mereka. Kamu bisa buktikan sendiri nantinya, namun inilah bocoran-bocoran kecil atas kenapa kamu akan tetap bahagia menjadi pembaca Hipwee hingga hari-hari esok:

Kami menulis untuk dibaca, bukan cuma untuk diklik lalu diabaikan

Merupakan isu bersama di jagat media bahwa rentang perhatian pembaca untuk mengonsumsi sebuah laman daring makin menurun per tahunnya. Terlalu beraneka pilihan artikel dan informasi yang bisa diakses. Ini menjadi salah satu alasan sebagian besar media memproduksi artikel yang sesingkat dan sepelit mungkin, kadang masih dimutilasi menjadi banyak laman berbeda. Toh yang disasar utamanya adalah klik, setelah itu bodo amat dengan nasib pembacanya.

Sementara itu, Hipwee tak ingin mengemis untuk klik. Kami ingin tulisan kami benar-benar dibaca. Tengoklah, tak banyak media serumpun yang masih rela menulis dengan kuantitas di atas 500 -1000 kata per artikelnya. Kecepatan rilis sangat penting, tapi kadang kami malas tergesa-gesa. Kami seakan lebih memilih berlama-lama mendengar apa yang perlu diresapi dulu, sebelum bercerita akrab dengan berayun-ayun kaki dan sedikit senda gurau. Dengan judul yang semenarik mungkin, konten-konten itu juga tak berupaya menjadi clickbait karena isinya selalu berupaya mempertanggungjawabkannya. Isi artikel harus mampu melunasi rasa penasaran yang sudah disulut di judul.

Hipwee adalah media anak muda yang ditulis oleh anak muda

Lantaran hampir seluruh personel adalah anak muda, kantor Hipwee pernah dikira gedung bimbel, markas kelompok belajar, panti asuhan, dan pangkalan idol group. Kami menjaga regenerasi karakter sumber daya manusia ini karena anak muda adalah sosok terbaik yang bisa mendengarkan dan menyuarakan permasalahan anak muda lainnya. Kami tak harus banyak berayal menjadi orang lain untuk menghasikan tulisan-tulisan seperti cara bertahan dari gerahnya kamar kos yang sempit, sulitnya hidup seminggu hanya dengan sisa uang saku sekian ribu rupiah, hingga bermacam persoalan asmara yang klasik dan berulang-ulang.

Tentu saja anak muda di Hipwee tak sembarangan anak muda. Kami punya armada penulis yang makin andal dari tahun ke tahun. Hipwee punya seseorang yang piawai menulis tips-tips problem keseharian yang jitu, penulis topik asmara yang pandai menyusun kalimat-kalimat baper, oknum yang cekatan mengumpulkan kabar-kabar aktual selebriti idolamu, dan lain sebagainya. Ini masih didukung dengan kerja hebat divisi lain, seperti antek-antek media sosial, event, IT, dan bahkan anak magang yang lucu-lucu.

Hipwee menggunakan pendekatan sosok “kakak perempuan” dalam berinteraksi dengan pembacanya

Dibanding konsep orangtua yang cenderung mendikte, Hipwee memilih menggunakan pendekatan seorang kakak dalam konten-kontennya. Alhasil, tulisan-tulisan Hipwee bersifat lebih personal, hangat, dan lebih pada berbagi perspektif dibanding mengadili, lebih pada membangun obrolan dibanding menghakimi. Bahkan, ketika bermaksud memberikan wejangan pun, kami tidak berakhir menjadi seperti seorang guru atau pemuka agama, melainkan lebih peka dan bawel, kadang resek pula, atau seperti orang yang benar-benar baru saja mengalami masalah yang sama, dan masih membuka ruang untuk diajak berdebat.

Lebih tepatnya, sebagian pembaca melihat Hipwee sebagai sosok kakak perempuan. Namun, bukan berarti Hipwee adalah media eksklusif untuk kaum perempuan. Bukankah pria paling sok maskulin sekalipun tetap adakalanya butuh pendapat-pendapat dari kakak perempuannya?

Hipwee memiliki kesadaran dan pertimbangan atas konsekuensi konten-kontennya terhadap pembaca

Secara personal, saya menulis dengan tujuan berupa penyebaran ide dan gagasan. Rekan-rekan lain di redaksi Hipwee mungkin punya motif berbeda-beda, namun semua dipastikan punya (dipecat sih kalau tidak punya!!!) kesadaran bahwa apa yang ia tulis bisa memberikan pengaruh terhadap pembacanya. Kebebasan kami dalam menulis dibatasi oleh pertimbangan atas konsekuensinya bagi para pembaca. Bahkan, di dinding ruang kerja Hipwee, kami menulis elemen-elemen yang dilarang keras masuk dalam semua tulisan, termasuk pornografi, rasisme, fasisme, dan hoaks.

Prinsipnya, kami tidak memisahkan tanggung jawab profesional dengan tanggung jawab sebagai manusia.

Ketika kami memutuskan untuk menulis topik sensitif atau yang menyinggung konflik kepentingan politik elit pun semata didasarkan pada kebutuhan untuk bersuara. Ada kalanya kami dituding sebagai pro Yahudi, pro Ahok, pro liberal atau pro komunis (padahal keduanya kan bertolak belakang, wkwkwk). Tak apa, sesat pandang ini justru kian menunjukan bahwa ada momen-momen genting bagi Hipwee untuk perlu angkat suara dalam isu politik, agama, ras, LGBT, dengan perspektif yang kami anggap paling baik. Lah, kami sih aslinya cuma pro pedagang siomay yang suka lewat depan kantor di jam-jam lapar massal.

Ide kami tak pernah (dan tak boleh) kering, kamu akan menemukan banyak konten-konten baru dan beda dari Hipwee ke depannya

Selain ide topik-topik seru dalam artikel yang tak ada mampetnya, beberapa format konten baru juga kami garap mengikuti kebutuhan anak muda. Mengingat minat  menonton bioskop yang makin tinggi misalnya, Hipwee kian produktif untuk merilis resensi film. Ada juga rubrik Panduan Kado biar kamu tak selalu membeli bed cover untuk ngado teman yang menikah, dan boneka beruang untuk teman yang wisuda. Lalu kita punya konten interaktif berupa Hipwee Polling yang bisa bikin kamu tahu seberapa pasaran atau seberapa terkucilnya pendapatmu terhadap suatu hal, mudah-mudahan bisa membuat kita lebih kenal perbedaan pandangan. Belum lagi konten-konten visual seperti video yang sedang semangat-semangatnya kami utak-atik, harus kamu intip, bakal penuh kejutan soalnya.

Tak kalah penting, Hipwee adalah media yang sadar jika masih punya banyak kekurangan

Saya sering menerima kiriman surat elektronik dari pembaca, isinya ada ucapan terimakasih, pujian, surat lamaran, curhatan orang yang mau ditinggal nikah, promo judi online, virus, dan lain-lain. Tapi saya menaruh perhatian lebih pada tiap kiriman saran atau kritik dari pembaca. Tanpa menjadi seorang presiden pun saya sudah memahami sulitnya memenuhi keinginan seluruh umat. Ada yang minta Hipwee jadi begini, ada juga yang minta jadi begitu, Namun, karena kami juga doyan sekali mengkritik orang lain, maka Hipwee pun selalu sudi menerima keluhan dan kritik pembacanya. Karena dengan bermodal kritik, kita jadi tahu di mana posisi kita dan ke arah mana kita harus melangkah. Terima kasih sudah membuat saya mengeluarkan kalimat bijak tadi.

Maka itulah pokok-pokok komitmen tim redaksi Hipwee untuk pembaca ke depan. Mudah-mudahan tak hanya jadi gombalan belaka. Terimakasih sudah memilih Hipwee sebagai pendamping keseharianmu. Selama kamu tak lupa cara membaca dan kami tak lupa caranya menulis, Hipwee akan selalu menemanimu. Cieee ~

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya