Dalam telaah (review) kali ini saya sama sekali nggak berniat untuk membandingkan dengan Keluarga Tak Kasat Mata versi film dengan dua versi sebelumnya (cerita bersambung dan novel). Niat itu saya urungkan karena ‘segala bentuk karya seni akan senantiasa mengalami perubahan jika ia berpindah medium’—dalam hal ini sastra beralih medium dalam format gambar bergerak (film). Berangkat dari itu saya beranggapan bahwa akan sangat buang waktu untuk membandingkannya, karena mau bagaimanapun beda medium beda pula cara penyampaian (pesan cerita). Akan selalu ada kompromi (perubahan sana-sini) menyesuaikan dengan medium yang ada. Singkatnya, pasti ada perubahan—baik cerita, alur, karakter tokoh, dan sebagainya.

Namun, hal itu nggak lantas membuat saya lepas dari tanggung jawab untuk memberikan resensi film Keluarga Tak Kasat Mata. Meskipun saya cukup kesulitan menuliskannya karena banyak sekali kekurangan dalam film ini. Namun, saya akan menjelaskan bagian-bagian yang sangat mengganggu saya sebagai penonton. Berikut ulasan secara utuh pandangan saya tentang kisah horor fenomenal ini sebagai film.

(SPOILER ALERT)

1. Kesalahan-kesalahan teknis mendasar yang kasat mata. Fatal banget untuk ukuran film layar lebar

Genta (asli), ikut terlibat sejak pembuatan film agar ceritanya nggak lari dari kisah yang ia tulis. via hype.idntimes.com

Advertisement

Peristiwa menonton di layar sinema kalau dianalogikan seperti ibu yang sedang menyuapi anaknya. Yang dimaksud ibu ialah sang film maker, anaknya adalah penonton, sedangkan makanannya adalah film itu sendiri. Dalam hal ini sang ibu gagal membuat sang anak senang dengan makanan yang ia buat. Hal ini dikarenakan beberapa hal. Pertama, yang paling mengganggu anak (red: saya sebagai penonton) adalah perpindahan gambar yang kasar. Dalam film ini banyak sekali peralihan antarperistiwa yang begitu cepat dari gambar satu ke gambar yang lainnya. Terus terang ini bikin sakit mata sangat mengganggu saya.

Asumsi saya adalah editing yang dibuat sedemikian rupa itu mungkin adalah konsep yang dibuat sang film maker untuk meninggalkan kesan pada bagian-bagian tertentu, semisal kemunculan hantu. Namun, menurut saya itu terlalu cepat dan sangat kasar. Belum selesai saya ‘mencerna’ adegan, sudah dipaksa menyaksikan adegan lainnya. Hal itu membuat penonton ‘tersendak’.

Kedua, ihwal sound effect. Penambahan bebunyian dalam film sejatinya sebagai elemen pendukung, penguat nuansa yang coba dibangun dalam suatu adegan. Namun kehadiran elemen bebunyian dalam film Keluarga Tak Kasat Mata ini sungguh ‘tak kasat’ fungsi. Penempatannya serba nggak pas dan terkesan berantakan. Apalagi ketika soundtrack lagu film tersebut diturutsertakan dalam pengiring adegan, sungguh nirfaedah dan memaksakan. Dua kesalahan teknis yang sangat fundamental ini sungguh fatal dan nggak semestinya terjadi pada sebuah film layar lebar. Apa jangan-jangan ini film tugas akhir kuliah?

2. Dari cerita yang kurang menarik hingga akting pemainnya yang biasa-biasa saja

Para pemeran Keluarga Tak Kasat Mata. via hype.idntimes.com

Advertisement

Film yang baik dapat diukur dengan bagaimana film itu meninggalkan kesan pada penontonnya. Kesan itu bisa bersumber dari berbagai macam hal: kemampuan akting sang aktor, cerita yang menarik, ending yang nggak ketebak, dan lain-lain. Saya mesti berterus terang, film ini nggak meninggalkan apa-apa kecuali rasa kecewa. Karena ini film horor, misi yang paling utama bagi si pembuat adalah ‘menakuti’ penonton. Namun dari sekian banyak usaha mencipta ketakutan penonton, hanya satu yang benar-benar membuat saya takut  kaget, apesnya itu ada adegan terakhir film.

Belum lagi aktornya. Kepiawaian akting Deva Mahenra dalam film Sabtu Bersama Bapak nggak mampu ia ulangi dalam film garapan Hedy Suryawan ini. Sejumlah nama lain seperti Ganindra Bimo (Mas Rudy), Gary Iskak (Pak Marwan), Wizzy Williana (Andrea), Miller Khan (Yoga), dan Kemal Pahlevi (bebek) aktingnya biasa-biasa saja. Khusus untuk Bimo, sebenarnya terlihat paling menonjol di antara lainnya, namun karakter ‘Jogja’ yang ia tawarkan nggak konsisten sehingga saya urung untuk memujinya. Ya, untungnya ada Tio Pakusadewo (Om Hao) dan Aura Kasih (Rere) yang lumayan bisa menghidupkan adegan meskipun dengan porsi adegan yang minim, Tio dengan aktingnya dan Aura dengan kecantikannya.

3. Kesalahan-kesalahan yang membuat alur ceritanya terasa kurang lengkap dan janggal

Hantunya satu keluarga. via www.hipwee.com

Begitu banyak keganjilan yang kasat mata ketika saya menontonnya. Namun yang paling saya ingat ialah: pertama, pada bagian akhir film, tepatnya di bagian penyelesaian konflik. Entah ketemu berapa perkara, tiba-tiba mereka tahu cara ‘membasmi’ hantu, dengan memecahkan cermin yang ada dalam kantor mereka. Menurut saya seharusnya akan lebih baik jika ada satu adegan yang menjelaskan ‘cara’ tersebut sebelum solusi menyelesaikan konflik digunakan.

Kedua, berkaitan dengan setting tempat yang digunakan. Saya melihat ada ketidaksesuaian antara pekerjaan yang mereka (para tokoh) kerjakan dengan tempat yang digunakan dalam film. Gedung yang dipakai sebagai kantor dalam film bahkan lebih mirip seperti perpustakaan ketimbang kantor periklanan. Justru, saya menilai akan sangat cocok apabila rumah Genta (Deva Mahenra) yang digunakan sebagai kantor merujuk pada pekerjaan dan jumlah karyawan kantor yang hanya berjumlah tujuh orang, termasuk simbok.

4. Kelebihan-kelebihan yang patut untuk dihargai dari film Keluarga Tak Kasat Mata ini

Kemunculan hantunya menggunakan efek CGI. via hype.idntimes.com

Terlepas dari itu semua, ada beberapa hal yang patut dipuji dari Keluarga Tak Kasat Mata ini. Pertama, ialah efek CGI yang digunakan pada kemunculan hantu terlihat baik dibanding yang dipakai oleh sinetron Indosiar atau Rafathar film-film Indonesia lain. Kedua, keberanian sang sutradara untuk nggak ‘mengeksploitasi’ tubuh seksi wanita sebagaimana tren film-film horor lainnya. Ya, tren horor ‘esek-esek’ nampaknya sudah berakhir tahun ini jika melihat beberapa film horor yang rilis tahun ini, sebut saja Danur, Jailangkung, Pengabdi Setan, dan sebagainya.

Keluarga Tak Kasat Mata yang sempat digadang-gadang bakal menjadi film horor terbaik tahun ini, nampaknya akan sulit terealisasi. Sebab, mimpi itu terbukti sangat muluk dan sangat bertolak belakang dengan kualitas filmnya. Secara kualitas jauh di bawah Pengabdi Setan. Terlihat sekali masih banyak kekurangan dalam penggarapannya. Kalau boleh saya jujur, 77 menit menonton film ini terasa sangat lama dan sangat menjemukan.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya