Seekor paus ditemukan mati di tepi perairan Filipina tepatnya di Kota Mabini. Dilansir dari BBC, dalam perut ikan itu ditemukan sampah plastik dengan berat sekitar 40 kilogram, itu jumlah plastik terbanyak yang pernah ditemukan di dalam perut ikan paus sejauh ini. Yang lebih miris, sampah plastik yang ada di perutnya ini beragam sekali jenisnya, tak hanya kantong belanja biasa, tapi juga 16 karung beras!

Paus ditemukan mati dengan 40 kg plastik di perutnya via www.facebook.com

Karena menelan sampah terlalu banyak, sistem pencernaan paus malang itu jadi tidak berfungsi. Ia merasa kenyang padahal tak mendapat nutrisi apapun dari benda yang ia telan. Akibatnya berat badannya jadi turun, ia jadi lemas, kehilangan kemampuan berenang, dan akhirnya mati perlahan kemudian terdampar. Peristiwa serupa sebenarnya pernah terjadi di Thailand dan Indonesia. Sampah plastik jadi semakin mematikan untuk hewan-hewan laut yang malang ini. Biar tidak memakan korban lagi, sebetulnya apa sih yang bisa kita lakukan?

1. Kini semboyan ‘tidak buang sampah sembarangan’ jelas tak lagi cukup. Perlu juga memastikan mekanisme pembuangan sampah di suatu daerah memang sudah benar-benar baik

Sulit memastikan sampah-sampah ini berakhir di tempat yang seharusnya via makassar.tribunnews.com

Advertisement

Selama ini mungkin kita sudah merasa selalu membuang sampah di tempatnya. Tapi kenapa kok sampah di laut masih aja bertambah setiap tahunnya? Bisa jadi ini karena tidak adanya mekanisme pembuangan sampah yang baik. Kita seringkali tidak tahu, kemana sampah-sampah di tempat pembuangan itu berakhir. Apakah dipilah-pilah dulu, atau dibiarkan menumpuk sampai mencemari lingkungan sekitar, termasuk sungai dan laut?

2. Langkah yang tidak kalah penting adalah menjadikan ‘diet plastik’ sebagai prinsip hidup semua orang. Sudah terlalu banyak jumlah sampah plastik yang mengotori bumi ini dan tidak dapat terurai sampai ratusan tahun lagi

Yuk, diet kantong plastik via www.tribunnews.com

Sekarang sudah banyak banget kampanye yang mengimbau kita untuk berhenti pakai produk plastik. Seiring dengan kampanye itu, jadi banyak juga produk-produk ramah lingkungan pengganti plastik, di antaranya sedotan dari stainless steel atau bambu, dan tas belanja yang terbuat dari anyaman, jadi bisa dipakai berulang kali. Sekarang juga mulai ada tuh kantong plastik yang terbuat dari singkong, dan bisa larut dalam air!

Ya meski mungkin awalnya susah, tapi coba deh dikurangi pelan-pelan, agar tidak menambah sampah yang sudah menumpuk itu.

3. Selain mengurangi jumlahnya, kita juga harus makin sering putar otak untuk menggunakan kembali sampah-sampah ini alias ‘reuse’. Kalau bisa jangan sampai ada yang terbuang

Harus punya siklus daur ulang supaya plastik-plastik ini bisa terus dipakai kembali via palembang.tribunnews.com

Advertisement

Meskipun kita sudah menghindari pemakaian kantong plastik, tapi kenyataannya masih banyak industri yang belum bisa move on dari plastik. Buktinya tiap belanja ke minimarket atau supermarket, produk-produk yang dijual juga masih pakai kemasan plastik, ‘kan. Rada sulit memang kalau kita benar-benar menghindar dari produk-produk itu. Tapi kita bisa lo mendaur ulang kemasannya setiap isinya sudah habis. Kayaknya sekarang juga mulai banyak lembaga, organisasi, atau komunitas yang menerima kemasan-kemasan bekas untuk mereka daur ulang.

4. Kamu juga bisa lo berpartisipasi dalam komunitas yang kegiatannya bersih-bersih sampah di sungai atau laut. Ya, kan, sampah-sampah plastik yang menumpuk di sana juga perlu dibersihkan~

Gabung ke kegiatan bersih-bersih sampah, jangan malah ditambahi via kumparan.com

Sampah di laut yang sudah terlanjur menumpuk itu tidak bisa terurai lo. Kalau tidak dibersihkan ya akan ada terus sampai berpuluh-puluh tahun ke depan. Atau berakhir di perut biota-biota laut. Nah, untuk meminimalisir hal itu, kamu bisa bergabung di komunitas peduli sampah, yang kegiatannya membersihkan sampah di sungai atau laut. Baru-baru ini juga ada tantangan viral di internet, namanya #ChallengeForChange, dimana orang ramai-ramai mengunggah foto before-after mereka membersihkan sampah. Layak buat ditiru!

5. Selain kita dan pemerintah, industri atau pabrik juga perlu mencari alternatif lain selain plastik. Soalnya kalau tidak, masalah sampah plastik tidak akan bisa selesai

Perlu inisiatif dari industri produk juga via www.grid.id

Mungkin perusahaan penyedia kantong plastik perlu membuat inovasi baru, seperti memproduksi plastik dari bahan aman. Biar kalaupun termakan biota laut, tidak akan membahayakan mereka. Atau kalau mau riset dulu, bisa juga membuat plastik dari bahan dengan tampilan atau bau menyengat. Biar hewan-hewan tidak terkecoh dan mengira itu makanan.

6. Tingkatkan awareness ke semua lapisan masyarakat dan jadikan ini misi bersama. Seperti mungkin program khusus penggantian plastik di pasar-pasar tradisional, ‘kan banyak tuh pedagang-pedagang yang sulit move on dari kantong plastik

Pedagang di pasar masih ketergantungan banget sama kantong plastik sekali pakai via kumparan.com

Kalau kantong plastik dilarang di pasar-pasar tradisional, kayaknya sudah bisa ditebak, pedagang-pedagang di sana bakal heboh dan protes. Ya meski tidak bisa instan, mereka perlu diberi sosialisasi perlahan, soal bahaya plastik. Dan tentunya diberi alternatif lain yang lebih aman dan sama murahnya sama kresek. Kita sebagai pelanggan juga perlu mendukung dengan cara membawa kantong belanja sendiri. Kalau permintaan kresek menurun, pasti mereka juga akan mengurangi pembelian kantong plastik, kan…

Kalau sudah terlanjur ketergantungan sama plastik, memang susah ya buat beralih ke yang lebih aman. Tapi kalau tidak dibatasi dari sekarang, mau nunggu sebanyak apa lagi biota laut yang mati karena plastik?

Advertisement
loading...

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya