Setiap menyimak berita soal koruptor di media, seringkali kita ikut geram dibuatnya. Selain karena udah terlalu sering terjadi, kebanyakan koruptor malah kelihatan tidak menyesali perbuatannya. Saat disorot kamera, mereka selalu tersenyum lebar, seolah-olah tidak habis merugikan negara. Padahal di beberapa negara maju kayak Korea Selatan atau Cina, pejabat yang ketahuan korupsi akan merasa sangat malu, sampai rela jabatannya dicabut dan kehilangan semua kekayaannya. Perasaan malu dan menyesal bisa dilihat dari sorot wajahnya saat terekam kamera. Bukannya malah cengar-cengir dan dadah-dadah kayak koruptor di sini.

Kita boleh aja marah sama kelakuan para koruptor. Tapi sadar nggak sih kalian kalau korupsi itu tidak melulu menyangkut hal besar seperti penggelapan uang negara yang jelas-jelas merugikan? Korupsi bahkan bisa ditemukan pada hal-hal kecil yang mungkin menurut kita wajar dan biasa aja karena sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Padahal kalau dilakukan terus menerus, ya tidak ada bedanya sama perilaku koruptor negeri ini. Sebagai negara yang udah 73 tahun merdeka, rasanya miris sih kalau tahu ternyata 6 korupsi kecil ini masih sering ditemui dan dilumrahkan. Mau tahu apa aja? Yuk, simak ulasan Hipwee News & Feature berikut ini.

1. Setiap diberi mandat beli sesuatu, mungkin banyak dari kita yang menyepelekan uang kembalian. Ujung-ujungnya malah tidak dikembalikan

Menyepelekan uang kembalian via mediakonsumen.com

Advertisement

Sebagai anak, mungkin kita sering disuruh beli sesuatu sama orangtua kita di toko. Ternyata tidak sedikit lho yang masih menyepelekan uang kembalian. Kalau ditanya alasannya, mungkin karena orangtua memang jarang ada yang perhitungan sama anak sendiri. Apalagi kalau kembaliannya cuma seribu-dua ribu. Buat orangtua mungkin nggak seberapa. Meskipun nominal kembalian itu kecil, tapi kalau diambil dengan tidak jujur tetap aja namanya penggelapan. Soalnya kebiasaan korupsi yang lebih besar bisa jadi malah berawal dari kebiasaan kecil di keluarga kayak gini.

2. Ada juga yang mungkin suka memakai benda milik bersama untuk kepentingan pribadi. Bahkan sesepele spidol aja udah bisa dikatakan korupsi lho

Memakai benda milik bersama tanpa izin via www.eschoolnews.com

Mungkin ada di antara kalian yang diberi tugas merawat barang atau benda milik bersama, misalnya kebetulan kalian menjabat sebagai sekretaris kelas dan bertugas membawa alat-alat tulis kelas. Tapi ternyata kalian malah memakai alat-alat tersebut buat kepentingan pribadi. Bahkan sesepele dan semurah bolpoin atau spidol, kalau dipakainya diam-diam tanpa izin yang lain, udah bisa dikatakan korupsi lho. Karena biar gimanapun, apa yang kalian lakukan itu tetap aja mengurangi nilai barang yang dimaksud. Padahal itu milik kelas ‘kan…

3. Saking seringnya dilakukan, terlambat kayak udah jadi kebiasaan wajar masyarakat Indonesia. Padahal hal sepele satu ini termasuk korupsi waktu lho

Kebiasaan terlambat yang tidak sehat via wtop.com

Banyak orang yang sampai udah kenyang sama yang namanya terlambat, saking seringnya dilakukan sama orang lain. Bahkan tidak sedikit orang sengaja ngaret dengan alasan yang lain pasti nelat, jadi mereka malas kalau datang duluan dan sendirian. Sadarkah kalian, kebiasaan terlambat ini harus dihapuskan karena termasuk korupsi waktu? Sadarkah kalian kalau banyak pihak dirugikan karena kebiasaan terlambat ini? Kalau kalian pernah dengar pepatah yang bilang ‘Time is Money’, rasanya itu benar adanya.

4. Kita seringkali memanfaatkan jabatan dan hubungan kekeluargaan untuk memudahkan sesuatu. Meskipun jabatannya seremeh ketua karang taruna, kalau ada kecurangan tetap aja termasuk nepotisme

Memanfaatkan jabatan untuk kepentingan pribadi via spoiler-alert.livejournal.com

Advertisement

Praktik nepotisme yang satu ini biasanya sering terjadi saat pendaftaran sekolah murid baru. Banyak orangtua yang meminta bantuan keluarga, teman, atau tetangga yang punya jabatan di sekolah atau universitas bergengsi, demi agar anaknya bisa masuk ke sana. Mungkin ‘bayaran’-nya bukan uang, tapi sekadar bingkisan buah atau oleh-oleh dari kampung halaman–tetap saja itu termasuk bibit korupsi. Hubungan kekeluargaan tidak semestinya diartikan seperti itu. Untuk urusan profesional, tidak seharusnya kita mengandalkan nama keluarga.

5. Saat ditilang, kita seringnya lebih pilih membayar uang damai daripada harus repot-repot ke persidangan. Padahal cara itu juga termasuk menyogok

Lebih pilih uang damai via www.bintang.com

Tidak bisa dipungkiri lagi, kalau praktik ‘uang damai’ ternyata masih banyak dilakukan aparat atau penegak hukum negeri ini, salah satunya saat terjadi penilangan. Yang bikin makin parah, banyak juga orang yang lebih pilih bayar uang damai ini daripada harus repot-repot ke pengadilan untuk menjalani persidangan. Padahal ya cara ini tidak ada bedanya dengan orang-orang yang menyogok pejabat biar proyeknya disetujui. Sama-sama kotor~

6. Buat yang lagi merantau, mungkin kalian sering minta uang ke orangtua untuk keperluan yang sebenarnya tidak benar-benar dilakukan. Hati-hati ya, kebiasaan itu sangat tidak sehat lho

Catatan untuk para perantau via www.wisnutri.com

Meski tidak semua perantau pernah melakukannya, tapi praktik curang yang satu ini masing sering dilakukan mereka yang tinggal jauh dari orangtua lho. Saking butuh duit banget, mereka sampai rela berbohong ke ortunya. Misalnya dengan mengatakan harus beli buku ABCD, padahal uangnya bakal dipakai untuk nongkrong dan foya-foya aja. Meski mungkin ortu kita kaya raya, tapi kebiasaan ini jelas sangat tidak sehat. Please, jangan dibiasakan ya!

Praktik korupsi di atas memang kelihatannya sepele bagi sebagian orang. Tapi kalau dibiasakan terus menerus, bukan tidak mungkin merembet ke hal-hal yang lebih besar kayak penggelapan uang perusahaan, dan lain-lain. Katanya sih udah merdeka, tapi budaya korupsi, kolusi, dan nepotisme masih mengakar dengan kuat di negeri ini. Sebagai generasi penerus bangsa, yuk hapus praktik curang ini lewat hal-hal kecil terlebih dahulu…

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya