Banyak yang Salah Kaprah Pikir Tunisia itu Surga Poligami, Faktanya Jelas Bakal Bikin Mereka Kecewa

Sekelompok perempuan Tunisia minta dipoligami

Bagi yang selalu update media sosial, beberapa waktu lalu mungkin sempat melihat kehebohan atas berita yang kira-kira judulnya seperti ini ‘kebanyakan jomblo, sekelompok cewek di Tunisia tuntut poligami dilegalkan di sana‘. Postingan seperti itu sontak saja dikerebungi cowok-cowok Indonesia yang langsung menyatakan ketertarikannya pindah ke Tunisia di kolom komentar. Ada yang tersentil dengan kata-kata ‘kebanyakan jomblo‘, ada juga yang mungkin serius tertarik mencari istri lebih dari satu.

Langsung pada semangat berangkat ke Tunisia via www.instagram.com

Advertisement

Sebelum beneran pada bikin paspor atau beli tiket pesawat ke Tunisia, kayaknya ada beberapa fakta yang harus diluruskan dari berita tersebut. Benar sih ada sekelompok perempuan Tunisia yang menuntut pemerintah melegalkan poligami dengan alasan banyaknya perempuan menjomblo, seperti dikutip dari laman Tempo. Tapi tuntutan yang digaungkan lewat media sosial itu, kayaknya bukan representasi suara kebanyakan perempuan Tunisia deh.

Di mata internasional, Tunisia justru dikenal sebagai negara Arab yang paling progresif soal hak-hak dan kesetaraan perempuan. Negara yang lebih dari 90%-nya muslim ini, adalah negara Arab pertama yang terang-terangan melarang poligami sejak merdeka pada tahun 1956. Jadi bagi yang bermimpi mengunjungi surga poligami di Tunisia, dijamin bakal kecewa berat sih soalnya kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Nggak percaya? Lihat deh ulasan Hipwee News & Feature tentang pergerakan perempuan di Tunisia ini.

Sejak 1956, poligami dilarang dan dikategorikan sebagai tindakan kriminal di Tunisia. Di samping Turki, negara ini mungkin satu-satunya negara mayoritas Islam yang terang-terangan melarang poligami

Gerakan kesetaraan hak bagi perempuan itu kuat banget di Tunisia via thearabweekly.com

Meski lebih dari 90% warganya adalah muslim, Tunisia cukup konsisten menunjukkan perbedaan sikapnya tentang posisi perempuan dari negara-negara Arab lainnya

Kesetaraan hak-hak perempuan dijunjung tinggi via www.dw.com

Apalagi setelah negara ini berperan sentral dalam Arab Spring atau revolusi demokrasi Arab pada tahun 2011, komitmennya mewujudkan persamaan gender secara total dan menyeluruh makin kuat

Terdepan dalam revolusi kesetaraan hak-hak perempuan via www.aljazeera.com

Salah satu perubahan kontroversial yang dibuat pemerintah Tunisia adalah soal pernikahan. Mulai 2017, perempuan muslim Tunisia boleh menikah dengan laki-laki nonmuslim, seperti dilansir dari Aljazeera

Sebelumnya, perempuan muslim tidak menikah dengan laki-laki nonmuslim. Salah satu harus pindah agama via www.aljazeera.com

Presiden Beji Caid Essebsi menjelaskan pembatasan pernikahan bagi perempuan yang ada sejak tahun 1973 itu, harus dicabut karena tidak sesuai dengan konstitusi Tunisia 2014 pasca Arab Spring

Presiden Beji Caid Essebsi via www.thenational.ae

Presiden Tunisia itu menambahkan bahwa pembatasan pernikahan tersebut juga menghalangi pemenuhan hak atau kebebasan memilih pasangan, yang seharusnya sama bagi perempuan maupun laki-laki

Perempuan muslim Tunisia bisa menikahi siapa pun yang mereka mau, meski beda agama via www.al-fanarmedia.org

Ketika memperingati Hari Perempuan 2017, Presiden Essebsi kembali ajukan rancangan undang-undang yang kontroversial. Kali ini menyangkut kesetaraan hak waris, ia ingin perempuan bisa mendapatkan warisan yang sama besar di bawah konstitusi

Hak untuk mendapatkan warisan yang sama juga diusung via foreignpolicy.com

Masih dalam proses persetujuan parlemen, RUU ini jelas ditentang banyak pihak di Tunisia sendiri maupun negara Arab. RUU ini dikritik karena dinilai tidak sesuai dengan hukum syariah Islam

Kedua perubahan ini diumumkan pada peringatan Hari Perempuan via www.alaraby.co.uk

Advertisement

Presiden Essebsi kembali menjelaskan bahwa warganya masih boleh pilih mempraktikan hukum syariah kalau mau. Tapi secara konstitusional, perempuan yang ingin hak warisan setara pun bisa menuntut

Warga turun ke jalan mendukung RUU kesetaraan hak warisan via dunia.tempo.co

Nah sejumlah perempuan yang menuntut pemerintah untuk melegalkan poligami kemarin, adalah kelompok yang tampaknya tidak setuju dengan posisi progresif pemerintah

Meski katanya tidak berafiliasi politik, banyak pihak menduga ada kelompok oposisi di balik gerakan itu. Jadi semacam political stunt gitu

Kayaknya banyakan perempuan yang ikut rally peringatan Hari Perempuan ini deh via www.albawaba.com

Para aktivis percaya kalau tuntutan diberlakukannya poligami itu diinisiasi oleh partai-partai politik kontra pemerintah. Seperti bagaimana aktivis Mohammed Nur Musa yang dilansir dari Middle East Monitor, menjelaskan bahwa rencana memobilisasi pendukung rezim itu diyakini tidak akan bisa mengubah arah pembaharuan seputar kesetaraan hak perempuan di Tunisia.

Benar sih semakin banyak perempuan Tunisia menjomblo, tapi itu bukan berarti semuanya putus asa dan ingin dipoligami. Seperti di kota besar lainnya, kebanyakan mungkin masih single justru karena pilihan mereka sendiri

Meski jomblo, nggak berarti mau dipoligami juga kali… via dunia.tempo.co

Jadi apakah masih pada mau pindah ke Tunisia? Atau memboyong perempuan-perempuan Tunisia ke Indonesia? Bukannya surga poligami, adanya kamu justru bakal menemui kebalikannya. Tunisia seringkali jadi model pembelajaran sebagai salah satu dari segelintir atau mungkin satu-satunya negara yang mayoritas muslim, tapi justru melarang poligami dan memberikan berbagai hak serta kebebasan yang sepenuhnya setara kepada perempuan. Hal yang jelas tidak bisa ditemui di negara-negara muslim lainnya, seperti Indonesia.

Advertisement
Berikan Komentar

Tim Dalam Artikel Ini

Penulis

An amateur writer.

CLOSE