Buang air kecil itu Rp1000, kalau buang air besarRp2000, sedangkan mandi Rp3000.

Itulah tulisan yang biasa kita jumpai di toilet-toilet umum di kota besar Indonesia. Meski rasanya aneh karena buang kotoran saja bayar, toilet umum tetap dicari-cari banyak orang. Mengantre panjang rela dilakukan, daripada harus menahan hajat sepanjang jalan. Kondisi di India sepertinya jauh berbeda. Bukannya harus keluar uang saat ke toilet umum, penduduknya malah dibayar kalau mau menggunakan toilet. Wah, kok enak ya? Ternyata ada alasannya yang lumayan merisaukan.

Meski terdengar seperti nasihat ibu waktu masa kanak-kanak, buang air besar sembarangan di India jadi masalah serius yang merisaukan negara

anak-anak terancam

Tiap tahunnya 188.000 anak di India meninggal karena lingkungan tercemar hajat manusia via www.missjessrose.com

Advertisement

Menurut data United Nations for Children’s Fund (UNICEF), ternyata hampir separuh dari populasi India masih melakukan BAB di ruang terbuka, seperti di semak-semak, sungai, dan hutan. Akibatnya, bakteri-bakteri menyebar dengan cepat di negara ini. India merupakan negara dengan tingkat kematian anak-anak di bawah lima tahun karena diare.  sehingga membuat India menjadi negara yang punya tingkat kematian tertinggi pada anak-anak dibawah lima tahun dengan sebab diare. Penyebab yang sama ditambah infeksi cacingan membuat anak-anak sekolah rentan sakit dan nggak bisa konsentrasi belajar. Sementara untuk perempuan, buang air di tempat terbuka ini berpotensi pada serangan fisik seperti gigitan hewan ataupun pelecehan seksual.

Persoalan utamanya bukan fasilitas toilet yang tak ada. Tapi orang-orang memang tak mau menggunakannya

buang air di alam terbuka sudah jadi kebiasaan umum

Buang air di alam terbuka sudah jadi kebiasaan umum via www.huffingtonpost.com

Saking meresahkannya persoalan buang air besar sembarangan (BABS) di India, Perdana Menteri Narendra Modi meluncurkan program nasional bertajuk Swachh Bharat pada tahun 2014 yang lalu. Modi juga menargetkan bahwa India akan bebas BABS pada tahun 2019 nanti. Untuk menekankan betapa pentingnya program pemberantasan BABS ini, Modi bahkan sampai seringkali mengucapkan slogan ‘bangun toilet dulu, baru nanti kuil’.

Namun setelah pemerintah memberi subsidi untuk membangun puluhan ribu toilet, nyatanya kebiasaan ini tak bisa banyak berubah. Menariknya di India, pembicaraan masalah sanitasi atau kebersihan diri memang masih dianggap tabu. Toilet dalam konteks tradisional, juga dianggap sebagai bagian yang terpisah dari rumah. Faktor-faktor kultural tersebut digabung dengan tingginya tingkat kemiskinan, menyebabkan rumah-rumah di daerah rural India masih seringkali dibangun tanpa toilet hingga sekarang. Maka dari itu, masalah BABS di India tidak akan selesai hanya dengan penyediaan infrastruktur saja tapi juga harus disertai perubahan nilai dalam masyarakat.

Fasilitas memadai tak dimanfaatkan, sosiasilasi pun tak mempan. Kini bujuk rayu dengan pembelian insentif mulai dilakukan

Keluarga dibayar untuk pakai toilet umum

Keluarga dibayar untuk pakai toilet umum via vidushisandhir.wordpress.com

Advertisement

Sebenarnya pemerintah India sudah tak kurang-kurang menyadarkan rakyatnya akan pentingnya pola hidup bersih dan sehat yang diawali dengan penggunaan toilet. Bahkan jauh di tahun 2005, pemerintah mengeluarkan kampanye ‘No toilet, no bride’, yaitu ajakan kepada perempuan untuk menolak lamaran jika si pria tak punya toilet di rumah. Tapi nyatanya, segala kampanye dan sosialiasi ini tak mempan. Di pedesaan, hidup sehat agaknya bukan topik yang umum dibicarakan.

Karena itulah, pemerintah India menempuh cara baru yaitu pemberian insentif. Kalau mau menggunakan toilet umum secara rutin, masing-masing keluarga akan dibayar $37,13 atau kurang lebih 450 ribu rupiah setiap bulannya. Tentu saja pemerintah akan mengecek setiap bulan apakah fasilitas toilet umum yang tersedia rutin digunakan atau tidak. Saat ini, kebijakan tersebut diterapkan di tiga provinsi: Rajasthan, Baytu dan Gida. Hasilnya, sekitar 15.000 keluarga di Gida dan Baytu kini mulai berpindah dan ikut berkampanye tentang pentingnya toilet.

Soal buang air di ruang terbuka, Indonesia juga mengalami masalah yang sama. Di pedesaan, BAB cukup nongkrong di atas sungai atau selokan

toilet bongkar pasang

Toilet bongkar pasang ini tidak ideal karena hajat akhirnya juga dibuang ke tempat terbuka via www.sayangi.com

Sebenarnya problem BAB sembarangan tak hanya terjadi di India. Sempat menempati posisi ke-2 pelaku buang air besar sembarangan di dunia, pada tahun 2016 kemarin posisi Indonesia membaik ke peringkat 4. Kalau kamu tinggal di pedesaan Indonesia, pemandangan orang nongkrong di pinggir kali untuk bab juga hal biasa. Meskipun saat ini umumnya setiap rumah sudah punya toilet, tapi di tahun 2014 tercatat sebanyak 55 juta orang Indonesia masih buang air di alam terbuka. Bahkan diantaranya, 18 jutanya merupakan penduduk kota. Sungai atau selokan adalah tempat paling umum yang dijadikan ‘toilet darurat’. Padahal di pedesaan, tak jarang sungai sumber air atau tempat aktivitas lainnya. Terbayang ‘kan gimana penyebaran kumannya?

BAB sembarangan berdampak pada sistem sanitasi. Berbagai penyakit siap mengancam bila kebiasaan ini terus dilakukan

padahal sungainya multifungsi

Padahal sungainya multifungsi via baligadang.wordpress.com

Diare adalah penyakit yang paling umum terjadi akibat buruknya sanitasi dan kebiasaan buang air sembarangan. Kotoran yang kita tinggalkan jelas tak berhenti di sana meski sudah dilakukan jauh-jauh dari rumah. Kumannya menyebar melalui udara, lalat-lalat nakal, dan air. Penyakit lain yang bisa muncul seperti kolera, disentri, hepatitis, dan pneumonia. Dan tentu saja yang terbanyak menjadi korban adalah anak-anak, yang daya tahan tubuhnya masih belum sempurna.

Tahun 2015 lalu, UNICEF mengeluarkan kampanye Ninja Tinja dan Tinju Tinja. Anak-anak yang jadi tawanan bila kita buang air sembarangan

Karena urgennya persoalan pup dan buang air kecil ini, UNICEF berkolaborasi dengan Melanie Subono mengeluarkan kampanye Ninja Tinja dan Tinju Tinja. Kotoran yang dibuang sembarangan bisa menjadi makhluk jahat yang menyandera masa depan Indonesia. Jadi kita semua harus mengibarkan bendera perang kepada tinja-tinja berserakan. Caranya tentu dengan memberikan fasilitas sanitasi yang baik dan sosialisasi yang mencapai hingga tempat-tempat terpencil.

Memang sulit dibayangkan oleh orang yang tinggal di daerah perkotaan yang serba maju dan terdepan, bahwa di pelosok masih banyak orang yang harus keluar rumah ke kali atau semak-semak untuk buang air. Meski kotoran bisa menjadi pupuk kandang, tapi kotoran yang dibuang sembarang tentu lebih banyak jadi sarang kuman dan sumber penyakit. Well, mungkinkah pemerintah perlu menyontek kebijakan insentif India untuk menghapus kebiasaan buang air di tempat terbuka?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya