Jangan mengaku olahragawan kalau nggak tahu apa nama pesta olahraga yang akan dihelat tahun depan. Yup, Asian Games 2018. Kabarnya Jakarta dan Palembang telah terpilih jadi dua kota tempat diselenggarakannya perlombaan tersebut. Bulan Agustus lalu, di Jakarta dan Palembang diadakan pembukaan dan hitung mundur (countdown) pagelaran Asian Games 2018. Ini artinya kalau dihitung dari hari ini, kurang dari 1 tahun lagi ajang olahraga tersebut akan dimulai.

Indonesia sebagai tuan rumah tentu tak mau meninggalkan kesan buruk bagi para atlet atau penonton yang datang dari berbagai penjuru Asia. Saat ini pemerintah DKI maupun Palembang, mulai membenahi infrastruktur mereka seperti transportasi publik, jalan raya, dan berbagai tempat umum. Tersiar kabar juga kalau semua kendaraan pribadi akan dilarang masuk Jakarta sebelum dan selama perhelatan berlangsung. Katanya sih buat memperbaiki kualitas udara dan mengurangi kemacetan. Tapi kok cuma pas Asian Games aja? Lebih lengkapnya, simak yuk ulasan Hipwee News & Feature kali ini.

Ini alasan pemerintah melarang kendaraan pribadi melintasi Jakarta saat Asian Games 2018 berlangsung

Kendaraan pribadi dilarang masuk Jakarta via megapolitan.kompas.com

Advertisement

Dikutip Kompas, Dasrul Chaniago, Direktur Pengendalian Pencemaran Udara, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan bahwa pelarangan itu dilakukan agar nantinya para atlet bisa tampil maksimal saat bertanding. Menurutnya, kualitas udara yang buruk akan membuat paru-paru tak bisa bekerja maksimal sehingga atlet akan cepat lelah. Mulai dari sebulan sebelum Asian Games diselenggarakan, Jakarta akan ‘diamankan’ dari buangan gas emisi kendaraan-kendaraan pribadi. Cara ini sebelumnya juga pernah dilakukan Beijing saat jadi tuan rumah Olimpiade 2008.

Sebenarnya nggak cuma atlet aja sih yang berhak menghirup udara bersih dan terhindar dari kemacetan, rakyat biasa pun punya hak hidup nyaman

Kita juga berhak atas udara bersih~ via foto.bisnis.com

Kita yang notabene adalah manusia, sebenarnya juga punya hak buat hidup di lingkungan yang nyaman lho, salah satunya yang bebas dari polusi atau kemacetan. Polusi kalau nggak ditanggulangi jelas akan berpengaruh pada kesehatan tubuh, baik jangka pendek maupun panjang. Sedangkan kemacetan akan meningkatkan risiko stres dan depresi. Sayang banget sih kebijakan bagus tapi cuma diterapkan saat ada perhelatan akbar aja. Setelah itu ditarik lagi, macet-macetan lagi, polusi lagi. Gimana nih kira-kira menurutmu?

Tengok aja negara tetangga kita Singapura. Pemerintah disana bahkan nggak segan-segan melarang mobil pribadi melintasi jalan raya mulai Februari 2018 besok

Februari 2018 akan jadi mimpi buruk bagi produsen mobil di Singapura via finance.yahoo.com

Kalau lihat kebijakan Singapura ini seharusnya sih bisa bikin kita melek bahwa sekarang udah bukan lagi zamannya berlomba-lomba beli mobil baru. Hei, itu cuma bakal menambah polusi dan kemacetan lho! Bayangkan aja kalau di suatu kota dalam sehari ada 100 orang beli mobil baru. Berapa penambahannya kalau udah mencapai 1 tahun? Banyak banget ‘kan? Belum lagi kalau kena macet, mengeluh ini-itu. Hmm, manusia…

Advertisement

Nah, pemerintah Singapura sudah nggak mau lagi tuh memberi keringanan bagi penduduknya yang punya mobil pribadi. Tak tanggung-tanggung, dilansir Tempo, mulai Februari 2018 besok mereka menargetkan pertumbuhan kendaraan pribadi di sana harus nol persen. Mereka telah meningkatkan biaya pembelian mobil dan memperumit aturan kepemilikannya. Bisa dipastikan harga kendaraan bermotor di sana bakal super mahal. Konsumen harus menunggu kuota dulu buat bisa diizinkan punya mobil atau motor baru, karena untuk jumlah pengajuan pembelian kendaraan baru harus setara dengan jumlah kendaraan versi lama yang dimusnahkan. Sebagai solusi peraturan itu, Singapura akan meningkatkan infrastruktur dan layanan transportasi publik.

London nggak kalah pedulinya sama masalah kendaraan pribadi ini. Mereka sampai menetapkan ‘biaya racun’ buat para pemiliknya lho

Salah satu jalan di London yang mewajibkan biaya racun dan biaya kemacetan via www.airqualitynews.com

Lain Singapura, lain London. Dikutip dari Kompas, pemerintah kota tersebut sampai menerapkan ‘biaya racun’ atau dikenal dengan T-charge (toxic charge) agar udara di sana bebas dari polusi udara. T-charge ini mengharuskan kendaraan keluaran sebelum 2006 yang berbahan bakar bensin atau solar, untuk membayar 10 Poundsterling setiap melewati area-area tertentu di London. Sebelum ada T-charge ini, sebenarnya mereka sudah dibebani kewajiban membayar 11,5 Poundsterling untuk biaya kemacetan. Jadi total biaya ketika melintasi area-area tersebut antara pukul 07.00-18.00 adalah sekitar Rp383.000! Dengan adanya kebijakan ini diharapkan penduduk sana bakal beralih ke kendaraan model ramah lingkungan.

Iya, iya, memang kalau dibandingkan sama di Indonesia sih masih jauh banget. Tapi ya setidaknya dengan melihat berbagai upaya negara-negara maju tersebut untuk mengatasi kemacetan dan polusi, bisa membuat kita terpacu melakukan hal serupa, ‘kan?

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya