Entah sejak kapan kata ‘anjing‘ seringkali dijadikan pelampiasan amarah dan umpatan orang-orang di Indonesia. Mungkin makna peyoratifnya sedikit banyak berhubungan dengan status haramnya bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Tapi ya itulah misteri bahasa, sulit sekali untuk ditelusuri asal-usulnya. Padahal anjing itu salah satu hewan paling pintar dan sering disebut ‘sahabat terbaik’ manusia. Selain jadi peliharaan, anjing terlatih juga banyak yang jadi tenaga profesional untuk membantu polisi, petugas bandara, sampai orang-orang dengan kebutuhan khusus.

Kegeniusan itulah yang selalu jadi daya tarik bagi para ahli untuk meneliti anjing secara lebih ilmiah dan mendalam. Dilansir dari TIME, Salah satunya adalah ilmuwan syaraf, Gregory Berns, dari Emory University di Atlanta, Amerika Serikat. Bukan cuma mempelajari perilakunya saja, Berns secara khusus melatih anjing untuk duduk diam dalam mesin Magnetic Resonance Imaging (MRI) supaya otaknya bisa dipindai dan dilihat cara kerjanya. Bukan dibius atau ditidurkan lho, tapi secara sadar disuruh duduk selama mesin MRI memeriksa otaknya. Buat tahu hasil selengkapnya, yuk simak bareng ulasan Hipwee News & Feature!

Sepertinya halnya komputer, dibutuhkan ‘hardware‘ yang besar supaya jalannya ‘software‘ bisa mumpuni. Ukuran otak anjing ternyata emang cukup besar

Ukuran otak manusia tergolong raksasa diantara makhluk hidup lain via bigthink.com

Advertisement

Hasil pemindaian pertama yang terlihat adalah masalah ukuran otak. Ukuran ternyata emang menentukan guys! Otak manusia sendiri tergolong raksasa, dimana beratnya bisa mencapai 1 : 50 dari rata-rata total berat tubuhnya. Ukuran otak anjing ternyata mencapai 1 : 125 dari total berat badannya, rasio yang ditemukan dari hampir semua jenis anakan anjing. Sebagai perbandingan dengan hewan-hewan lain, ukuran otak kuda hanya 1 : 600 dan ukuran otak singa sedikit lebih baik yaitu 1 : 550 dari total berat tubuhnya.

Jadi ya diantara hewan-hewan lain, ukuran otak anjing memang tergolong besar dan bisa menampung perkembangan kognitif dan afektif yang lebih banyak.

Anjing ternyata sangat peka terhadap nada. Dari perubahan nada, anjing bisa mempelajari dan membedakan kata-kata manusia

Anjing-anjing terlatih bisa duduk diam selama pemindaian MRI via www.popsci.com

Penelitian Berns ingin mengetahui bagaimana anjing mempelajari bahasa manusia: saat anjing mendengar sebuah kata, apakah hanya rangsangan pendengaran atau memiliki makna lebih. Ia menghabiskan waktu satu tahun untuk mengamati aktivitas otak anjing saat  mendengar kata-kata familiar atau ocehan tak jelas.

Advertisement

Anjing peka terhadap nada. Dari nada, anjing dapat belajar membedakan kata-kata manusia. Sama halnya dengan bayi manusia, anak anjing lebih merespons ujaran manusia bernada tinggi daripada rendah. Peneliti di New York dan Prancis juga menemukan bahwa nada tinggi benar-benar membantu anak anjing mempelajari kata-kata. Namun saat dewasa, anjing nggak lagi memilih oktaf tinggi saat masih anak-anak.

Sama seperti manusia, anjing juga dapat merasakan ketenangan ketika mendengarkan musik lho

Sayang, opo kowe krungu… via www.theodysseyonline.com

Dari penelitian sebelumnya kita tahu bahwa anjing peka terhadap nada. Nah, pada penelitian selanjutnya dari Universitas Glasgow mempelajari reaksi anjing jika diperdengarkan dengan musik. Daalam penelitiannya, mereka memutar lima daftar lagu yang berbeda untuk memantau tingkat stres mereka. Meski reaksinya berbeda, namun hasilnya musik memiliki efek menenangkan kepada anjing, terutama soft rock dan reggae. Don’t worry uyeee…

Keramahan anjing kepada manusia ternyata lebih baik daripada simpanse

Akur banget via www.vinted.lt

Selama ini simpanse dikenal sebagai binatang terpintar dibanding yang lainnya. Namun dalam hal intelegensi sosial, penelitian menunjukan bahwa anjing menunjukkan pola yang lebih serupa dengan anak kecil dibanding simpanse, meskipun simpanse lebih berkerabat dekat dengan manusia. Dalam sejumlah tugas komunikasi, ilmuwan dari Universitas Arizona menemukan bahwa anjing dan anak-anak menunjukkan tampilan lebih baik daripada simpanse.

Ada ungkapan anjing merupakan binatang yang setia, begini penjelasan ilmiahnya..

Bersahabat via unsplash.com

Sebuah studi lain dilakukan ilmuwan hewan Monique Udell dari Oregon State University dan ahli biologi dari Princeton University Bridgett von Holdt menemukan kemiripan antara kromosom anjing dengan kromosom manusia yang memiliki sindrom Williams-Beuren. Dari sindrom tersebut dapat diketahui kelainan perkembangan yang mempengaruhi fitur wajah manusia dan menyebabkan masalah kesehatan seperti kelainan jantung, kelainan otak, dan sistem saraf. Salah satu tanda gejala psikologis sindrom ini adalah sikap hipersosial yang ditandai dengan nggak adanya penghambat sosial. Orang yang memiliki kelainan ini akan bersikap ramah, meski terhadap orang asing, dan memiliki empati yang kerlewat tinggi.

Dari ulasan diatas kita tahu bahwa, makhluk yang selalu kita jadikan pelampiasan kekesalan ini ternyata lebih pintar dari yang kita kira. Sebagai manusia yang memiliki akal, seharusnya mudah bagi kita membedakan mana yang baik, mana yang buruk, termasuk ketika melepaskan kekesalan. Terkadang melepas kekesalan memang perlu, namun kita mesti bijaksana dalam melakukannya. Kalau bisa jangan mengumpat lah ya. ‘Kan sudah ada tuh ungkapan “kalau nggak bisa bicara yang baik, lebih baik diam”.

Advertisement

Artikel Bermanfaat dan Menghibur Lainnya